Kucing di Loteng

19 September adalah hari di mana kucing-kucing tersebut mulai masuk ke loteng. Aku ingat terbangun di dini hari karena suara dentuman keras yang membuatku ketakutan. Aku kira seseorang masuk dengan paksa ke dalam rumah. Aku terdiam untuk beberapa saat, berusaha mendengarkan suara apapun, hingga akhirnya aku mendengar suara meongan kucing. Aku bukan pencinta kucing, tapi aku ingat betapa bersyukurnya aku mendengar suara meongan kucing tersebut pada dini hari itu.

Namun mereka baru mulai.

Dalam beberapa hari setelahnya, kucing-kucing tersebut selalu mengeong di waktu tidurku. Aku bukan orang yang sulit tidur, namun suara meongan kucing-kucing ini membuatku terus terjaga. Aku pernah dengar kalau kucing seringkali mencari tempat-tempat seperti loteng ketika mereka hendak berkembang biak. Dengan dasar pengetahuan asal itu, aku menciptakan simpatiku pada si kucing-kucing yang ada di loteng itu.

Mereka mau membuat keluarga kecil, pikirku pada waktu itu. Dan berangkat dari simpati itu, aku membiarkan kucing-kucing itu mengganggu tidurku setiap malam.

Dan tebakanku benar.

Beberapa lama kemudian, aku mulai mendengar suara anak-anak kucing di loteng rumahku. Mula-mula lemah, tapi sebelum aku menyadarinya, suara anak-anak kucing itu sudah menjelma menjadi paduan suara yang paling nyaring. Malahan rasa-rasanya aku sudah tidak pernah mendengar suara dari para kucing senior lagi. Kini hanya suara anak-anak.

Satu hal yang kusadari betul adalah bagaimana para kucing menganggap loteng rumahku sebagai rumah atau mungkin apartemen mereka. Pada pagi hari, si orang tua kucing akan pergi dari rumah dan kemudian kembali lagi di siang hari. Suara kembali mereka selalu disertai dengan suara dentuman yang keras — suara yang ditimbulkan akibat lompatan selebor mereka kerangka-kerangka kayu rumahku yang sudah tidak muda lagi. Hal ini mereka ulangi lagi di sore dan malam hari. Setiap kali orang tua kucing pergi, para anak kucing akan berisik luar biasa. Mungkin menangis, tidak mau ditinggal.

Aku masih bersabar, dengan harapan bahwa kucing-kucing ini akan segera pergi. Pada umumnya, binatang tumbuh dewasa dan mandiri lebih cepat dari manusia. Harusnya tidak akan lama lagi sampai mereka memutuskan untuk check out dari loteng rumahku.

Namun hari itu tidak kunjung datang.

Hari demi hari mereka mengganggu waktu tidur dan waktu istirahat santaiku, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa simpati atau mungkin sedikit perasaan tidak enak karena sedang menumpang. Malahan, kini para anak kucing (atau mungkin justru si orang tua kucing? Aku tidak bisa membedakannya) memiliki hobi baru: menggaruk-garuk kayu dan berguling-guling gedumbrangan di kerangka di loteng rumahku. Suara yang ditimbulkan sangat keras dan seringkali membuatku terkejut. Tidak hanya terkejut, aku juga khawatir suatu ketika mereka membuat loteng rumahku ambruk.

Akhirnya aku mengambil keputusan. Aku akan mengusir kucing-kucing ini dengan paksa. Aku tidak peduli mereka mau tinggal di mana, yang penting bukan di sini.

Aku memanggil tukang serba guna langgananku. Aku memintanya untuk menutupi celah-celah genteng tempat para kucing itu masuk dengan menggunakan kawat. Si tukang sedikit kebingungan dengan permintaan tidak biasa ini, tapi toh semua pekerjaan tidak ada bedanya bagi dia dan ia kerjakan juga. Memasang kawat bukanlah hal yang sulit. Justru mengeluarkan kucing-kucing itu dari lotengku yang sangat sulit. Apa gunanya menutup celah-celah genteng apabila si kucing-kucing brengsek itu masih terkurung di dalamnya? Jelek-jelek mereka malah mati dan membuat bau bangkai tidak karuan di rumahku.

Untuk menangkap atau mengusir kucing-kucing itu dari sana, si tukang harus meniti kayu-kayu lapuk di lotengku. Total ternyata ada 2 anak kucing dan 2 kucing dewasa. Tapi melihat “rumahnya” digusur, 2 kucing dewasa itu kabur duluan, meninggalkan anak-anaknya. Sungguh keluarga berencana ideal. Si tukang serba guna membutuhkan waktu lebih kurang satu jam sebelum akhirnya ia berhasil mengeluarkan semua kucing-kucing itu dari loteng.

Ketika akhirnya berhasil menangkap dua kucing kecil tersebut, si tukang serba guna — kedua tangan sambil membawa dua kucing kecil yang ia pegang di tengkuk — muncul sambil nyengir.

“Mau dibuang ke mana?” tanyanya.

Tapi rupanya aksi mengusir kucing ini jadi perhatian beberapa tetanggaku. Mungkin mereka penasaran kenapa dari tadi ada seseorang yang mondar-mandir masuk-keluar loteng membawa kucing. Mendengar si tukang serba guna bertanya kucing itu mau dibuang ke mana, salah satu di antara mereka bereaksi.

“Kok dibuang sih? Kasihan.” katanya.

“Iya ih, kok dibuang sih.” timpal yang lain. “Jahat banget…” gumamnya lagi, setengah pelan.

Merasa mendapat tekanan masyarakat, aku memutuskan untuk berbuat hal yang paling berkeperimanusiaan — atau lebih tepatnya seperti becandaan orang tahun 90an, berkeperibinatangan.

“Taro di genteng rumah sebelah aja pak.”

Si tukang serba guna agak bingung dengan keputusanku, tapi dengan sikap bak seorang tentara, ia menjalankan perintahku tanpa bertanya. Dua ekor kucing itu ia letakkan di genteng rumah sebelah dan mereka langsung berlari kecil menjauhi si tukang, menuju ke kedua orang tua mereka yang menunggu dengan was-was di ujung genteng yang tidak terlalu jauh dari situ.

Setelah itu si tukang serba guna memasang kawat untuk menutupi celah-celah genteng dan dalam waktu 15 menit ia menyelesaikan pekerjaannya.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak sekian lama, rumahku sunyi, seperti sebagaimana mestinya.


Suara keras besi yang menghantam permukaan keras membangunkanku. Aku melihat jam. Pukul 3.12. Keringat dingin membasahi tubuhku. Aku terdiam, berkonsentrasi, berusaha mendengarkan sesuatu.

Suara dentuman keras di loteng membuat jantungku seperti berhenti. Kemudian sunyi.

Meooong.

Badanku terasa memanas.

Hari itu tanggal 20 Oktober.


29 December 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Jerry Hadiprojo’s story.