Satu Sisi Yang Hilang

Hari ini mungkin hari terakhir aku menunggu Laura di bangku taman ini. Sudah hampir 4 tahun aku selalu datang ke tempat ini. Selalu di hari dan jam yang sama. Membawakan bunga favoritnya. Membawakan board game favorit kami berdua. Dan hanya mengisi 1 lagu favoritnya di iPodku, “Satu Sisi Yang Hilang” dari sebuah band lama yang bernama Channel. Berharap ia datang hari ini agar kami dapat mendengarkan lagu itu bersama. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. Ia selalu tersenyum ketika mendengarkan lagu itu. Menutup mata dan membayangkan bahwa ia berada di suatu tempat paling indah di bumi ini.

Kenapa di taman? Laura sangat senang berada di sini. Karena menurutnya hanya di tamanlah orang-orang sejenak melupakan masalahnya.

“Tidak ada kesedihan di sebuah taman,“ katanya.

Sayangnya semua itu harus aku akhiri hari ini. Aku harus melanjutkan studiku di luar negeri. Aku sudah mencoba mencari tahu keberadaan Laura selama 4 tahun belakangan. Tapi nihil hasilnya. Harapan terakhirku adalah hari ini, di taman ini.

Untuk yang belum kenal Laura, ia adalah kakak kelas SMA ku dulu. Lucu juga apabila aku mengingat-ingat lagi masa-masa itu. Laura adalah kembang sekolahku dulu. Gadis paling sempurna, setidaknya di mataku. Hampir sebagian bangsa Adam sekolahku mengantri untuk mendapatkan hatinya. Tapi saat itu hanya Daniel yang beruntung.

Aku ingat pertamakali aku mengenalnya. Waktu itu pelajaran sosiologi. Seperti biasa, pak Sulaiman, guru sosiologiku waktu itu menjelaskan pelajarannya hanya dengan membaca buku panduannya di meja kelas. Hal itu membuat mataku semakin berat.

Aku duduk paling depan, dekat pintu. Tiba-tiba, kepala Laura muncul dari balik tembok, melihat ke arahku dan menyuruhku untuk mengambil tas dan segera ‘cabut’ dari kelas. Hal itu dilakukannya dengan menggunakan bahasa isyarat. Melihatnya dengan tatapan ingin membunuh, mau tidak mau aku mengikuti kemauannya. Karena saat itu ia kelas 3, dan aku kelas 1. Lalu aku mulai pura-pura batuk. Mengambil tas dan memasang muka letih.

Dengan penuh keraguan, aku menghampiri pak Sulaiman yang sedang berbicara di depan kelas untuk izin pulang. Ajaibnya, pak Sulaiman tidak curiga. Ia mengizinkan aku pulang! Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung keluar dari kelas. Aku bertemu dengan Laura di luar kelas. Tanpa basa-basi, tangan kiriku langsung dibalutkan ke pinggangnya, sementara tangan kanannya merangkul leherku. Aku mengikuti permainannya. Kami berjalan menuju gerbang sekolah, melewati ruang piket guru dulu. Harum tubuhnya sewaktu aku berjalan disampingnya mungkin adalah harum yang tidak akan aku lupakan. Kulitnya yang putih, rambutnya yang dikuncir, bibir merahnya, dan pipinya yang memerah ketika terkena sinar matahari. Tidak heran cowok-cowok sekolahku memperebutkannya. Beruntungnya Daniel. Laura adalah tipikal gadis idaman semua pria.

Kemudian, sampailah kami di depan ruang piket. Laura bilang bahwa hari ini adalah hari pertama ia datang bulan. Perutnya sakit. Ia ingin pulang di antar adiknya. Siapakah adiknya? Siapa lagi? Guru piket pun sempat terdiam dan menatap kami dengan tajam penuh rasa curiga. Hal itu membuat jantung kami berdua berdegup.

Kemudian guru itu mengeluarkan surat izin untuk kami berdua agar segera pulang. Kami pun masih dalam sandiwara kami sampai kurang lebih 1 kilometer dari gerbang sekolah. Setelah itu kami berdua berteriak kegirangan karena kami tidak percaya bahwa kami dapat mengelabui guru piket kami. Hari itu kami habiskan berdua dengan berjalan-jalan keliling kota dan melakukan wisata kuliner. Benar-benar satu hari yang istimewa.

Setelah kejadian itu kami berdua semakin akrab. Kalau ada Laura, ada aku. Begitupun sebaliknya. Kami selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan berdua. Sampai suatu hari, aku benar-benar tidak dapat menahan apa yang aku rasakan. Hal yang sampai saat ini sangat aku sesali. Mengapa rasa itu harus ada.

Waktu pun berjalan sampai pada suatu hari dimana hari kelulusan untuk anak-anak kelas 3 datang. Mungkin adalah hari yang tidak menyenangkan bagiku. Karena itu artinya aku tidak akan melihat Laura lagi di sekolah selama 2 tahun ke depan. Tidak akan melihat Laura berjalan di depan kelasku sambil meledekku. Berpura-pura sakit supaya kami bisa cabut dari sekolah. Melempar balon berisi air dari lantai 3 pada saat jam sekolah telah usai. Bermain board game kesukaan kami, battleship. Dan hal-hal lainnya yang aku alami bersamanya.

Aku datang ke wisudanya hari itu. Ia tampak bahagia. Tak lama, aku melihat Daniel yang waktu itu telah menjadi mantan kekasihnya, menghampirinya, memeluknya dan berbicara dengannya. Tanpa perlu menunggu lama, aku menghampiri Laura, menariknya menjauh dari Daniel dan segera menyatakan perasaanku kepadanya. Senyumnya tiba-tiba menghilang. Dari mata kanannya keluar setitik air mata yang jatuh ke pipinya.

“Kenapa harus begini akhirnya?“ tanya Laura. Ia mengusap air matanya dan meninggalkan aku tanpa kepastian. Itu adalah hari terakhir aku melihatnya. Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi melihatnya. Apalagi mendengar kabarnya.


Matahari sudah mulai terbenam. Tampaknya Laura tidak akan datang hari ini. Aku memasukkan board game kesukaan kami ke dalam tas. Menaruh bunga favoritnya di atas bangku taman ini. Kemudian melangkahkan kaki keluar dari taman. Aku menghentikan sebuah taksi dan duduk di kursi belakang. Aku mencoba mendengarkan ipodku, mendengarkan lagu kesukaannya. Tapi aku tidak menemukan iPodku! Aku mencarinya di kantung celana, dan tas sekali lagi. Tapi tidak ada! Benar-benar tidak ada! Aku meminta supir taksi untuk memutar balik ke arah taman itu lagi karena takut kalau iPodku tertinggal di bangku taman.

Sesampainya di taman, aku berlari menuju bangku itu. Langkahku terhenti karena melihat seorang gadis sedang duduk di bangku taman itu. Aku berjalan mendekat sambil mengatur nafas. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Gadis itu adalah Laura! Ya, tidak salah lagi! Aku berdiri di sampingnya. Ia memegang bunga favoritnya sambil mendengarkan lagu kesukaannya dari iPodku. Seperti biasa, matanya terpejam. Tapi tidak tersenyum. Lalu aku duduk perlahan di sampingnya tanpa mencoba menyapanya. Karena aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku mengalihkan pandanganku ke arah depan.

Aku melihat ke arahnya. Ia menatapku. Dan tetap tidak ada senyuman di wajahnya. Ia menaruh satu earphone ke kupingku. Terdengarlah satu bait dari lagu dari Channel,

“.. langitpun menangis jika ku menangis, 
awan pun terlihat cerah jika ku tersenyum. 
Ku sadari bagian jiwamu yang tak mungkin, 
kutemukan kembali walau dunia habis berputar..“

kami pun menutup mata dan tersenyum.

Getar Jagatraya
24 Mei 2009
Terinspirasi dari Laura Basuki

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Getar Jagatraya’s story.