Sincia

Kalau ada satu hari yang paling kutunggu setiap tahunnya, hari tersebut adalah hari ini. Hari ini adalah satu-satunya hari dalam setahun di mana aku bisa bertemu dengan keluarga besarku. Paling tidak mereka yang tersisa. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi aku bukan penuntut dan aku bahagia dengan apa yang kumiliki.

Sebagai orang yang paling dituakan di keluarga, pada dasarnya aku hanya perlu duduk manis di rumah, menunggu para anggota keluarga yang tersisa untuk datang satu per satu, memberikan hormat mereka. Namun begitu, bukan berarti aku hanya duduk diam menunggu setiap momen untuk terjadi begitu saja. Setiap tahunnya aku punya ritual yang selalu kulakukan tanpa putus. Paling tidak, sejak 17 tahun yang lalu.

H-1, dari pagi-pagi sekali aku akan pergi ke pasar untuk membeli berbagai bahan masakan. Sesampainya di rumah, aku akan memulai membuat adonan kue lobak. Adonan tersebut kemudian akan aku kukus dan setelah itu kusimpan di dalam lemari es untuk digoreng keesokan harinya. Setelah itu akan membersihkan seisi rumah, sebersih-bersihnya. Semua, mulai dari lantai, jendela, kamar mandi, dan kamar tidurku, tidak akan luput dari peralatan bersih-bersih. Ini selalu kulakukan di H-1 karena aku tidak akan punya waktu di keesokan harinya.

Di hari H, aku akan bangun jam 6 pagi, mandi, lalu memakai baju terbaikku untuk bertemu dengan suamiku. Ia dikubur di sebuah kuburan sederhana, tidak jauh dari rumahku. Hanya sekitar 5 menit jalan kaki kecepatan manusia normal, atau sekitar 15 menit untuk kecepatan kakiku yang sudah uzur ini. Tidak lupa selalu kubawa kue-kue kesukaannya. Aku tahu kalau ia tidak mungkin lagi bisa merasakannya dan kemungkinan besar kue-kue ini akan dimakan oleh para penjaga kuburan. Tapi melihat kue-kue itu di dekat fotonya membuatku merasa tenang. Di depan kuburan suamiku biasanya aku menghabiskan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam. Aku akan menceritakan padanya segala hal yang bisa aku ingat, mulai dari kondisi toko kami sekarang, kondisi rumah, cerita seputar anak-anak, siapa teman-teman yang baru meninggal, siapa teman-teman yang sedang mengidap sakit keras, siapa keponakan yang baru punya anak, dan seterusnya. Aku tidak pernah punya struktur khusus ketika bercerita padanya dan dalam perjalanan pulang biasanya aku sudah lupa apa saja yang tadi kuceritakan.

Sesampainya di rumah, aku langsung masak. Biasanya aku memasak beberapa jenis masakan, tapi yang pasti selalu ada adalah mie goreng. Sisanya adalah lauk-lauk yang kubuat dari bahan-bahan yang kubeli kemarinnya. Tahun ini selain mie goreng aku juga membuat iga babi asam manis, ayam asin, dan sayur tumis. Selain itu aku juga menggoreng adonan kue lobak yang kusimpan di lemari es dari hari sebelumnya. Aku selesai masak sekitar jam 10, bertepatan dengan datangnya orang pertama ke rumahku. Seperti kebiasaan sekitar 7 tahun terakhir, yang datang pertama adalah anak pertamaku, Han Han. Dia harus datang pagi, karena setelah itu ia harus mendatangi beberapa keluarga besar istrinya yang rumahnya cukup jauh. Seperti biasa, ia dan keluarganya datang, memberikan hormat, kutawari mereka makan, mereka menolak karena sudah makan, basa-basi, aku memberikan angpao ke dua orang cucuku, dan mereka berlalu. Sekarang ini memang sulit sekali untuk mengumpulkan semua anggota keluarga di waktu yang bersamaan, karena sekarang mereka semua kebanyakan sudah memiliki lebih banyak tempat yang harus dikunjungi. Namun seperti yang aku sudah bilang tadi, aku bukan penuntut, dan selama mereka masih mampir, aku sudah bahagia.

Setelah itu seperti biasanya, aku menghibur diriku dengan mencoba menebak-nebak siapa yang akan datang berikutnya. Apakah adikku si A Shiu yang datang bersama anak lelakinya? Atau keponakanku si Nadya yang datang dengan pacar barunya yang berganti setiap tahun? Atau anak keduaku si Fan Fan dan keluarganya? Atau mungkin adikku si A Kian yang selalu datang bersama dengan dua orang anaknya dan menantunya? Terkadang aku benar, tapi lebih sering aku salah. Sesungguhnya aku lebih senang jika aku salah. Kejutan selalu menyenangkan di tengah kehidupan yang makin lama makin tidak berwarna ini.

Tapi satu hal yang selalu paling kutunggu dari hari-hari ini adalah ketukan pagar rumahku di sekitar pukul 3 sore. Ketukan itu datang dari tetangga-tetanggaku yang tinggal di gang belakang. Mereka tidak datang bergerombol, tapi dalam gelombang. Biasanya, kuhitung, ada 8 sampai 10 gelombang. Mereka tidak ikut merayakan hari bahagia ini, tapi toh mereka tetap ikut hanyut dalam kegembiraannya. Mereka mengetuk pintu, memberikan hormatnya, kuberikan angpao, dan mereka pun pergi dengan suka cita.

Sebagian dari orang-orang ini tidak pernah kukenal dan kuingat nama maupun wajahnya. Tapi sebagian lagi aku ingat persis. Mereka adalah orang-orang yang 18 tahun lalu masuk dengan paksa ke rumah dan tokoku, mengambil apapun yang mereka suka, tanpa menggubris teriakan permohonan dariku dan suamiku. Mereka adalah orang-orang yang 18 tahun lalu memakiku karena rasku, yang sesungguhnya tidak pernah bisa aku pilih dan tidak akan pernah bisa kuganti. Mereka juga adalah orang-orang yang 18 tahun lalu membuat suamiku jatuh ke depresi berat yang kemudian merenggut nyawanya.

Mereka adalah orang-orang yang, walau telah melakukan tindakan kriminal, tapi tak pernah mendapat hukuman apapun. Tidak pernah ada penyelidikan, apalagi permintaan maaf.

Tapi aku tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. Tidak akan pernah. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku bukan penuntut dan aku bahagia dengan apa yang kumiliki.

Dan hari ini adalah hari yang paling kutunggu dalam setahun.

Tidak akan pernah ada yang bisa merusak itu.

***

Sincia, 8 Februari 2016