Yansen Kamto: Ingin Negara Kita Maju? Benahi Dulu Mental Dan Pola Pikir Pemudanya!

“Tantangan terbesar yang dimiliki Indonesia sebelum bisa menjadi negara maju adalah pola pikir dan mental pemudanya.”
- Yansen Kamto, CEO Kibar

Oke, jadi pada hari Jumat, 5 Februari 2016 lalu, gue berkesempatan buat ngobrol lagi bareng Ko Yansen. Kebetulan pada hari itu, gue menjadi salah satu orang yang terpilih di acara Dinner With CEO yang diadakan oleh StudentxCEOs.

Sedikit cerita, buat yang belum tau siapa itu Ko Yansen, dia adalah seorang laki-laki beretnis cina yang selalu mengenakan celana pendek dan hoodie. Ia sering mendapat julukan “Cina Botak” karena pembawaannya yang ceplas-ceplos dan tentu kepalanya yang…. :)) #skip. Oke, gue ngga ada maksud rasis, dia sendiri yang cerita begitu hahaha

Dibalik keceplas-ceplosannya itu, terdapat jiwa seorang pemimpin yang peduli akan kemajuan Indonesia. Ia memiliki sebuah visi yaitu “seluruh orang di Indonesia bisa makan”. Dengan bermodalkan visi tersebutlah ia mendirikan Kibar. Sekarang, Kibar sedang bekerjasama dengan pemerintah untuk menjalakan program “1000 Startup”.

Oke, kalo mau tau lebih banyak tentang Kibar, mungkin bisa googling aja karena gue ngga akan banyak bahas tentang itu. Kita langsung ke pembahasan utama yaitu tentang “Pola Pikir dan Mental”

Menurut Ko Yansen, orang Indonesia itu terkena yang namanya “Kutukan Negara Tropis”. Kalo di negara-negara di Eropa dan Amerika, ketika musim dingin datang, mereka ngga bisa bekerja. Sehingga para bule-bule harus bekerja sekeras mungkin di tiga musim sebelumnya agar bisa memenuhi kebutuhan disaat winter.

Nah, kalo kita di Indonesia, mau apa aja ada setiap hari sepanjang tahun. Alhasil, mental dan pola pikir yang kita adopsi adalah kurang berjuang dan berusaha untuk menciptakan sesuatu. Ditambah lagi karena kita negara yang menjadi bekas jajahan selama 350 tahun.

Ko Yansen sendiri percaya bahwa yang bisa mengubah Indonesia itu adalah generasi muda. Ya, generasi seperti kita. Jadi, kita-kitalah yang seharusnya diubah pola pikirnya.

Gimana sih biar bisa mengubah pola pikir dan mental tersebut?

Salah satu cara yang Ko Yansen katakan adalah dengan membaca buku.

Pada usia menjelang 20an hal yang bisa kita lakukan adalah menyontek pola pikir orang-orang sukses yang telah berhasil di bidangnya masing-masing. Dengan membaca, secara ngga langsung berarti kita menyontek pola pikir sang penulis atau pola pikir orang yang dibahas di buku tersebut.

Ko Yansen sendiri bercerita kalo dia sangat suka baca. Di kantornya Kibar, dia punya banyak tumpukan buku yang sangat beragam. Buku-buku tersebut bebas dipinjam oleh siapa saja yang bekerja di Kibar.

Nah, gue pernah membaca sebuah quotes yang berbunyi,

“If we encounter a man of rare intellect, we should ask him what books he read.” — Ralph Waldo Emerson

Karena gue merasa Ko Yansen itu orangnya sangat visioner, gue menanyakan hal tersebut ke dia. Berikut ini adalah 5 buku favorit yang dibaca oleh Ko Yansen:

1. Iconoclast: A Neuroscientist Reveals How to Think Differently — Gregory Berns
2. The New Gold Standard: 5 Leadership Principles for Creating a Legendary Customer Experience Courtesy of the Ritz-Carlton Hotel Company — Joseph Michelli
3. The Starbucks Experience: 5 Principles for Turning Ordinary Into Extraordinary — Joseph Michelli
4. The Virgin Way: Everything I Know About Leadership — Richard Branson
5. Zero to One: Notes on Startups, or How to Build the Future — Peter Thiel & Blake Master

Oke, pada pertemuan kali ini gue belajar hal baru. Dengan membaca, kita ngga hanya mendapatkan ilmu baru, kita juga sekaligus bisa mengetahui dan menyontek pola pikir orang-orang hebat di dunia.

Nah, udah denger kan nasihat dari Ko Yansen tersebut?
Jadi, kapan nih mau mulai baca buku? :)