Godaan Terbesar Jalan-Jalan: Malas!

jalan-jalan-jogja

Beberapa waktu yang lalu saya bersama keluarga jalan-jalan ke Jogjakarta sekaligus menghadari acara wisuda adik di UGM. Kota Jogjakarta bukanlah sebuah kota asing bagi saya karena sejak kecil saya sudah sering berkunjung ke kota seribu kenangan ini selain memang Jogja adalah kota kelahiran Ibu. Disana saya tinggal di rumah Mbah Kakung (Kakek, Opa, Yai, Bulang, Opung, Grandfather, dll).

Walaupun dari awal perjalanan saya sudah merencanakan akan berkunjung ke sana sini seperti ke Candi Borobudur, Pantai Parangtritis, Candi Prambanan, Gembira Loka atau Keraton Jogja namun nyatanya saya lebih banyak berdiam diri di rumah ditambah adanya free internet unlimited super cepat. Ya sudah alasan untuk keluar rumah pun tidak ada lagi. Melihat fenomena alam tersebut keluarga sudah sering menyuruh saya untuk keluar rumah jalan-jalan apalagi banyak motor menganggur yang menunggu untuk dipakai.

Satu-satunya tempat wisata yang benar-benar saya kunjungi dan datangi secara langsung adalah Benteng Vredeburg di Malioboro itupun karena “dipaksa” harus ikut oleh adik paling kecil sehabis acara wisuda di UGM. Ya mau bagaimana lagi. Seumur-umur ke Jogja baru sekali itu saya ke Benteng Vredeburg walaupun itu benteng dekat banget dari Pasar Malioboro.

For my part, I travel not to go anywhere, but to go. I travel for travel’s sake. The great affair is to move.
- Robert Louis Stevenson

Yang namanya malas dimanapun tempatnya bakalan sama artinya. Di Jogja banyak sekali tempat wisata yang saya lewati hanya karena malas seperti ketika saya bersama Pakde berniat membeli oleh-oleh baju murah, oleh Pakde saya diajak ke sentra penjualan baju murah di Jogja yang lokasinya sangat dekat dengan Keraton Sultan Jogjakarta dan seperti yang kalian duga saya juga tidak berniat mengunjungi Keraton itu padahal seperti yang diceritakan Pakde kalau disana banyak dikunjungi oleh turis domestik atau mancanegara dan belum afdol datang ke Jogja kalau gak berfoto di depan Kereta Kencana Keraton. Peduli amat pikir saya, skip!

Tidak hanya sampai disitu saja sehabis jalan-jalan di sentra baju murah saya diajak Pakde kembali ke rumahnya di Muntilan, awalnya sih saya menolak tapi karena dipaksa terus menerus akhirnya mau juga. Di tengah perjalanan Pakde cerita bahwa tak jauh di belakang rumahnya ada Candi Ngawen (ya dekat banget) dan menyuruh saya untuk main ke sana kalau sudah sampai nanti. Seperti yang kalian bisa duga, sampai di rumah Muntilan boro-boro keluar ke Candi Ngawen, saya malah tidur-tiduran di rumah persis sapi glonggongan menunggu untuk dipotong di TPH. New level of laziness unlocked! Untung saja Pakde cukup bijaksana melihat fenomena alam ini sehingga ketika diantar pulang ke Jogja saya diajak ke Candi Ngawen dalam artian tidak ke Candi Ngawen-nya langsung tapi cuma lewat depannya saja. I know how you feel, bro.

Jadi kalau bagi sebagian orang jalan-jalan ke kota lain itu berarti berwisata maka saya sebaliknya jalan-jalan ke kota lain hanya berpindah tempat untuk bermalas-malasan saja. Selama di kota itu ada internet dan tempat tidur saya sudah anggap berwisata.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.