Memberi Dan Diberi

dion-minimalis-cinta-orang-tua

Terdengar suara orang tuaku di ujung telepon sana memberitahukan bahwa mereka baru saja mendapatkan rejeki yang cukup. Berita ini mereka sampaikan kepada semua anaknya yang kebetulan tinggal berjauhan dari rumah. Tentu saja apa yang mereka sampaikan adalah sesuatu yang membahagiakan untuk didengar terlebih orang tuaku berujar akan membagikan rejeki itu kepada semua anak-anaknya.

Saya yang sulung mendapatkan nominal yang lebih besar daripada adik-adik saya yang lebih kecil. Semua adik-adik saya bahagia tiada tara karena mendapatkan rejeki tiba-tiba namun setidaknya itu tidak saya rasakan. Saya merasa bahwa saya yang tertua tidak cukup pantas untuk mendapatkan nominal yang besar oleh sebab itu saya berikan sebagian untuk adik saya yang lain. Mendengar itu, orang tua saya cukup terkejut dan menyakinkan saya apakah yang mereka dengar itu benar. Saya jawab ya benar.

Tak lama kemudian, adik saya menelepon dan mengucapkan terima kasih atas yang ia telah terima dari saya. Dan sekali lagi dia bertanya, apa saya benar-benar melakukan itu. Sekali lagi saya jawab ya benar karena bagi saya itu semua hanya angka di atas cetakan kertas.

Apakah saya merasa pahlawan atau merasa sombong karena telah berbuat demikian? Tentu saja tidak sama sekali. Saya hanya melihat dari sisi lain yang mungkin orang lain tidak pernah memikirkannya. Saya melihat rejeki itu adalah buah dari pengorbanan orang tua untuk kebaikan anak-anaknya.

He that spareth his rod hateth his son; but he that loveth him chasteneth him betimes.
- Proverbs 13:24

Perenungan malam itu membuahkan hasil bahwa kita sebagai anak terkadang begitu kurang bersyukur memiliki orang tua yang sedemikian hebatnya. Orang tua yang tak pernah berhenti memikirikan kita bahkan sejak tarikan nafas pertama anaknya sampai mereka menutup mata meninggalkan dunia ini.

Saya juga berpikir ketika orang tua mendapatkan rejeki itu kenapa mereka tidak mengunakannya untuk kepentingan mereka dahulu apalagi ketika anak-anaknya telah beranjak dewasa. Tentu mereka, orang tua, dapat saja melakukannya.

Sebaliknya, kita sebagai anak-anaknya, senantiasa setiap waktu meng-nihil-kan bahkan melupakan mereka untuk kepentingan dan kesenangan kita pribadi. Setiap rejeki yang kita peroleh, hal pertama yang kerap terjadi adalah kita menggunakannya untuk hal-hal hedonisme semata tanpa pernah sedikit pun meluangkan rejeki itu untuk mereka. Rejeki hanya dihamburkan untuk sesuatu yang menaikan derajat sosial kita bukan menaikkan derajat orang tua.

Tentu, semua ini lumrah terjadi di belahan dunia manapun. Ada anak yang berbakti namun tak sedikit juga ada anak yang tak berbakti sedikitpun terhadap orang tua. Saya bahkan tidak bisa memposisikan diri saya sebagai anak yang berbakti atau tidak. Saya yakin bahwa predikat tersebut akan terbukti nanti seiring makin dewasanya kita dan semakin menuanya orang tua. Apakah akan terlambat waktunya atau tidak, sulit untuk anak-anak ini meramalkannya.


Sering saya berpikir seperti ini, jika kita anak-anaknya, belum mampu untuk membahagiakan orang tua setidaknya jangan pernah menyusahkan mereka atau membuat sedih mereka. Setiap tetesan air mata dan amarah dari orang tua adalah beban berat yang harus kita pikul sampai nanti kita sendiri menjadi orang tua untuk anak-anak kita berikutnya.

Untuk sebuah hidup yang akan terus berulang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.