Mendefinisikan Sebuah Masalah

dion minimalis problem

Saya yakin setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti pernah mengalami suatu masalah. Entah itu masalah besar atau masalah kecil. Masalah juga terkadang seperti pisau bermata dua, di satu sisi dapat membuat hidup semakin suram namun dapat juga memberikan sebuah pelajaran yang berguna ke depannya nanti.

Salah satu hal yang menjadikan masalah itu unik adalah kita tidak dapat memperkirakan kapan masalah itu akan menghampiri kita. Saat kita siap, masalah apapun yang muncul akan mudah diselesaikan, sebaliknya saat kita sedang dalam kondisi terlena masalah sekecil apapun yang muncul akan seperti bencana yang menakutkan. Di point inilah kita perlu belajar untuk dapat mendefinisikan suatu masalah.

Sama seperti manusia normal lainnya, saya juga pernah mendapatkan masalah yang cukup unik. Malam itu ketika sedang sibuk “mereparasi” blog yang lain, tiba-tiba hal yang paling saya takutkan datang, yaitu sebuah masalah, tentu saja. Blog tersebut error dan tidak bisa berfungsi normal, saya yang sudah bertahun-tahun bermain di blog bingung setengah mati dibuatnya. Banyak sekali skenario yang berkecamuk di imajinasi pikiran saya. Apakah ini kesalahan saya, kesalahan teknis blog atau kesalahan hostingnya. Semuanya benar-benar gelap persis seperti kita terbangun di malam hari dan ternyata lampu padam dan kita merasa seperti buta seketika.

Saya kemudian browsing untuk mencari solusi atas permasalah tersebut namun ternyata hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Segala cara dilakukan mulai dari awal sampai akhir dan hasilnya pun tetap nihil. Akibatnya sepanjang malam itu dihabiskan untuk hal yang tidak produktif. Ya sudah akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk lanjut keesokan harinya.

The problem is not that there are problems. The problem is expecting otherwise and thinking that having problems is a problem.
- Theodore Rubin

Besok harinya pun ketika pikiran masih sejernih embun pagi saya lagi-lagi gagal menyelesaikan masalah terkutuk itu. Apa yang salah dari semua ini, guman saya. Saat itu sepertinya tidak ada hal yang lebih penting daripada itu. Entah sudah berapa ratus menit saya habiskan di depan monitor sampai pada akhirnya harapan itu muncul ketika saya menemukan sebuah postingan di blog luar negeri yang mengalami masalah serupa. Sedikit ragu-ragu saya praktekan solusi yang diberikan oleh blog tersebut dan eureka, berhasil.

Ternyata oh ternyata, permasalahannya begitu sederhana dan hanya dengan satu klik-an mouse semua masalah selesai begitu saja. Selama ini saya selalu gagal karena tidak tahu nama permasalahannya. Normalnya sebuah masalah yang timbul berkaitan dengan server selalu ditandai dengan kode namun khusus di masalah saya ini kodenya tidak muncul karena “theme” blog selalu redirect ke halaman utama tanpa pernah menunjukkan point kode masalahnya. Andai saya tahu dari awal kode masalahnya pasti tentu tidak perlu menghabiskan ratusan menit tanpa kejelasan.

Dari pengalaman itu saya belajar satu hal yang penting, yaitu kita harus mampu mendefinisikan masalah terlebih dahulu sebelum mencari solusi atas masalah itu. Tanpa mengetahui definisi atau akar permasalahan, kita sebagai orang awam akan terlihat seperti sedang mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Tentu saja pelajaran diatas tidak hanya berlaku di dunia “perkomputeran” saja tapi dapat juga dilihat secara umum.


Mari kita mencoba flashback ke belakang, berapa banyak masalah yang pernah menghampiri hidup kita tanpa kita pernah mencari tahu pokok permasalahannya dan seberapa banyak pula waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk itu. Karena saya yakin setiap masalah dalam hidup ini pasti akan ada solusinya, entah cepat atau lambat. So, go define!

Like what you read? Give Dion Barus a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.