8 pertanyaan interview untuk mengidentifikasi pabrik software

Artikel yang saya tulis sebelumnya ternyata membuat banyak orang mengirim pesan ke saya mengenai apa yang pencari kerja harus tanyakan untuk mengidentifikasi apakah perusahaan yang mereka lamar adalah sebuah pabrik software atau bukan. Pertanyaan ini sangat menarik karena dulu waktu saya lulus kuliah tidak ada panduan mengenai tempat kerja yang ideal untuk software developer. Kriteria saya dulu hanya sebatas yang bisa memberikan gaji tinggi saja. Dulu perbankan adalah primadona para sarjana lulusan informatika karena perusahaan-perusahaan ini yang berani membayar mahal untuk software developer.

Jaman sudah berubah. Sarjana lulusan informatika abad 21 harus lebih smart dalam memilah tempat kerja dan harus berani untuk bertanya kembali ke interviewer agar software developer tidak menghabiskan waktu bekerja dengan perusahaan yang tidak bisa memanusiakan software developer. Semoga panduan ini dapat membantu para pencari kerja untuk mengidentifikasi perusahaan mana yang masih memiliki mindset pabrik software. Sebelum membaca artikel ini, saya sarankan untuk membaca artikel pre-quelnya supaya nyambung dengan konteks yang ada di artikel ini.

1. Apakah software developer bisa memiliki gaji lebih tinggi dari manajer?

Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan oleh kandidat adalah apakah software developer bisa memiliki gaji yang lebih tinggi dari manajer di perusahaan yang ingin dituju. Di pabrik software, software developer dianggap sebagai cost-centre sehingga pabrik software berusaha menekan gaji software developer serendah mungkin.

Bekerja di perusahaan di mana software developer berada pada paygrade terendah sangat tidak enak. Software developer tidak jarang di-under-estimate dan cuma dipandang sebagai resource. Kolega kita yang software developer pun sering self-pity dan mengeluhkan kalau sebagai software developer mereka tidak punya kehidupan. Software developer tidak bisa beraktualisasi diri menjadi software developer hebat karena satu-satunya cara untuk mendapatkan gaji lebih tinggi adalah dengan menjadi manajer proyek.

Di perusahaan modern, software developer dipandang sebagai individu yang berharga bukan sebagai resource. Di perusahaan modern apa yang mereka percayai kongruen dengan apa yang mereka lakukan, software developer tidak berada dalam paygrade terendah dan bisa memiliki gaji lebih tinggi dari manajer. Di perusahaan modern, software developer bisa berkarir secara professional. Tidak semua software developer harus berkarir menjadi manajer proyek, software developer bisa beraktualisasi diri menjadi software developer yang terbaik.

2. Apakah on-time dan on-scope menjadi kriteria sukses sebuah proyek?

Pabrik software masih tertinggal dalam cara berpikir dan masih menjadikan on-time dan on-scope sebagai kriteria sukses karena software development masih dipandang sebagai cost centre dan pekerjaan pabrikan belum dipandang sebagai profit influencer dan pekerjaan inovatif. Mindset ini adalah turunan dari Scientific Management.

Memenuhi semua scope sesuai deadline adalah sebuah vanity metrics. Vanity metrics adalah metric yang bisa membuat kita dalam sebuah ilusi — ilusi kalau sebenarnya kita belum benar-benar sukses. Dengan vanity metrics kita bisa merasa sukses padahal metrik tersebut sebenarnya tidak menggambarkan kesuksesan. Menyelesaikan semua scope tetapi ternyata fitur tersebut bernilai rendah tidak menggambarkan kesuksesan. Deliver on-time tapi kualitas harus dipangkas adalah sebuah kesuksesan semu.

Bekerja di perusahaan di mana sukses masih menggunakan vanity metrics seperti on-scope dan on-time sangat tidak enak. Orang-orang berpikir jangka pendek. Software developer tidak peduli dengan kualitas dan seringkali memotong kualitas agar bisa on-scope dan on-time. Tidak jarang lembur dijadikan sebuah kebiasaan karena tidak adanya sustainable pace. Software developer jarang bisa menjadi software craftsman di dalam perusahaan seperti itu.

Perusahaan modern menggunakan revenue based metric seperti Customer Lifetime Value, Total revenue, Net profit, Recurring revenue, Customer Acquisition Cost, dsb. Perusahaan modern fokus pada peningkatan value dari software, inovasi dan kualitas.

3. Apakah development team member ditugaskan ke beberapa proyek sekaligus?

Dalam pabrik software, fokusnya adalah cost-efficiency karena software developer dipandang sebagai resource. Selain mencari software developer dengan gaji terendah, setiap developer ditugaskan mengerjakan beberapa proyek dan setiap developer dipastikan oleh manajer proyek untuk tidak pernah idle. Pabrik software fokus untuk mengutilisasi setiap individu agar tidak boleh bengong dan sibuk 100%.

Multi-tasking membuat waktu dari software delivery menjadi lebih lambat dan tidak jarang menurunkan kualitas. Overburden karena software developer terlalu letih dari over-utilization membuat mereka tidak bisa mendapatkan inspirasi dari otaknya dan tidak jarang menurunkan kualitas software. Software developer adalah pekerja kreatif yang lebih banyak bekerja menggunakan otaknya tidak seperti buruh pabrik yang lebih banyak bekerja menggunakan ototnya.

Bekerja di perusahaan yang fokusnya adalah people efficiency sangat tidak enak. Software developer tidak dipandang sebagai human being. Software developer hanya dipandang sebagai resource yang harus diperas sekeras mungkin. Lembur tidak jarang dipandang sebagai sebuah hal yang normal. Pemanipulasian cara berpikir sehingga lembur dianggap sebagai hal yang normal pun tidak jarang terjadi.

Perusahaan modern bukan fokus ke people efficiency tapi fokus pada flow efficiency dengan cara menyediakan lingkungan dimana orang-orang bisa fokus untuk menghasilkan produk berkualitas dan bernilai setinggi mungkin.

4. Apakah ada konsep tim atau orang-orang berada dalam silo yang saling melempar kerjaan?

Dalam pabrik software tidak ada yang namanya konsep tim, yang ada hanya orang-orang yang bekerja seperti dalam assembly line di pabrik yang saling melempar pekerjaan dari satu orang ke orang berikutnya. Setiap fungsi bekerja di fase yang berbeda dalam SDLC. Setiap peran melapor ke functional manager masing-masing. QA melapor ke QA manager, Developer melapor ke Development Manager, Analyst melapor ke Analyst Manager, Infra melapor ke Infra Manager, dst. Karena di pabrik software tidak ada konsep tim, di pabrik software kita juga tidak akan melihat yang namanya kolaborasi.

Bekerja di perusahaan yang berbasis silo sangatlah tidak enak. Politik dan birokrasi adalah makanan sehari-hari di perusahaan seperti ini. Banyak pihak yang hanya memikirkan KPI pribadi-nya saja. Functional manager pun akan defensif terhadap departemen dia saja karena KPI dia sangat bergantung pada tingkat defensif dia. Dalam perusahaan ini juga tidak jarang orang-orang memandang rendah dan tidak memiliki empati terhadap software developer.

Dalam perusahaan modern, crossfunctional-team bekerja bersama untuk meningkatkan business value dari produk. Dalam pabrik software tidak ada sense of ownership terhadap software yang dikembangkan karena masing-masing orang fokus untuk kejar tayang. Oleh karena itu software dari pabrik software seringkali user experiencenya s*cks. Dalam perusahaan modern, setiap anggota tim memiliki ownership dan cinta terhadap software yang mereka kembangkan karena mereka tidak dikotakkan berdasarkan fungsi. Bukan hanya mereka memiliki ownership, mereka juga berambisi untuk mengembangkan software berkualitas tinggi yang membawa dampak bagi para penggunanya.

5. Apakah perusahaan mengoptimalisasi team performance atau individual performance?

Pabrik software sangat terobsesi dengan individual performance, karena pabrik software ingin memastikan setiap individu sudah diperas sekencang mungkin untuk bekerja sekeras mungkin. Kalau ada yang kerjanya belum sesuai target, maka manajemen ingin memecut mereka untuk bekerja lebih keras lagi. Dalam pabrik software, setiap peran memiliki KPI yang secara sengaja dirancang agar menyebabkan conflict of interest atau agar antar peran saling kompetitif.

Bekerja dalam perusahaan yang terobsesi dengan individual performance sangat tidak enak. Teori manajemen yang mereka gunakan masih teori scientific management di-mana pekerja hanyalah sekedar angka-angka. Perusahaan ini hanya memandang software developer sebagai angka-angka yang perlu di-manage dalam Human Resource Management (HRM) system bukan sebagai individu unik ciptaan Tuhan YMK.

Perusahaan modern, melihat unit terkecil adalah sebuah tim dan fokus untuk menciptakan tim yang kolaboratif bukan individu yang saling kompetitif satu sama lain lewat KPI ciptaan yang. Sistem penilaian dalam perusahaan modern pun dirancang untuk mendorong orang fokus pada misi utama pengembangan produk bukan untuk fokus pada pencapaian KPI pribadi. Perusahaan modern sadar kalau optimalisasi individual performance bersifat sub-optimal karena software development adalah whole team work yang menekankan collective intelligence bukan assembly-line work seperti di pabrik.

6. Apakah setiap anggota tim dalam satu tim memiliki success indicator yang sama atau saling bertentangan?

Dalam pabrik software, selain tidak ada konsep tim, setiap orang berambisi untuk memenuhi KPI-nya masing-masing. Dalam pabrik software, politik sangat kental oleh karena setiap orang berambisi untuk memenuhi KPI pribadinya. Orang-orang tidak peduli dengan orang lain asalkan KPI dia terlihat cantik. Bisnis dan IT memiliki KPI yang dirancang agar saling konflik. Bahkan dalam IT sendiri pun Development, QA dan Operations memiliki KPI yang konflik.

Bekerja di perusahaan yang KPI pribadi antara setiap anggota tim yang bertentangan sangatlah tidak enak. Politik dan birokrasi adalah makanan sehari-hari di perusahaan seperti ini. Orang-orang tidak memiliki gambaran holistik dan misi utama terhadap software yang akan dikembangkan. Orang-orang pandai melakukan tai-chi demi mempertahankan KPI-nya. Matanya sudah dikaburkan dengan KPI pribadinya saja. Kolaborasi dan collective ownership terhadap software tidak ditemukan di perusahaan seperti ini. Software developer sulit berkembang di perusahaan seperti ini dan malah terbawa arus dengan perpolitikan korporat. Bekerja di perusahaan seperti ini menyedot banyak energi untuk berpolitik yang sebenarnya bisa digunakan untuk pengembangan pribadi.

Di perusahaan modern, setiap anggota tim terlepas apapun jabatannya bekerja untuk satu misi yang sama dan tidak memiliki KPI yang saling menyebabkan conflict of interest. Tester memiliki misi yang sama dengan developer memiliki misi yang sama dengan designer, dst. Setiap orang fokus pada peningkatan nilai dari software yang dikembangkan bukan untuk fokus pada pencapaian KPI pribadi.

7. Apakah development team bisa men-challenge fitur dan deadline dari pimpinan perusahaan?

Di pabrik software, bos yang berpikir oleh karena itu ia selalu benar — anak buah cukup mendengar dan melakukan apa kata bos. Deadline sering turun dari langit dan tidak bisa di-challenge. Fitur-fitur datang karena kekuatan politik tertinggi di dalam perusahaan. Dalam pabrik software, highest political power always win. Para pemimpin dalam pabrik software tidak mau membuang egonya jauh-jauh ke sumur. Mereka bersikap tidak mau tau dan tidak punya empati.

Bekerja di perusahaan di mana pimpinan perusahaan dan manajemen merasa paling benar dan tidak bisa di-challenge sangat tidak enak. Kita sering merasa rendah diri atau self pity bekerja di perusahaan seperti ini. Kita jadi sering memandang diri kita rendah sebagai spare part mesin dalam perusahaan karena bos merasa keputusannya selalu benar dan tidak bisa di-challenge. Software developer sulit berkembang di perusahaan yang bosnya tidak memiliki empati, yang merasa pengalamannya adalah kebenaran absolut alam semesta ini, dan bukan seorang servant leader.

Dalam perusahaan modern, para pemimpinnya humble dan serving, mereka tidak pernah merasa dirinya yang paling benar atau beranggapan kalau semua pengalamannya sebagai kebenaran absolut alam semesta ini. Pemimpin di perusahaan modern terbuka untuk di-challenge bahkan mendorong setiap individu untuk men-challenge keputusannya kalau ada yang bisa menawarkan solusi lebih baik. Para pemimpin di perusahaan modern, mengesampingkan ambisi pribadinya demi kehebatan orang-orang yang mereka pimpin.

8. Apakah perusahaan menghukum atau merayakan kegagalan?

Di dalam pabrik software, kegagalan akan berakhir pada penghukuman dan penghakiman karena pabrik software melihat kegagalan adalah akhir dari segalanya. Dalam pabrik software, kegagalan dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Failure is not an option.

Bekerja di perusahaan yang orang-orangnya memiliki fear of failure sangatlah tidak enak. Orang-orangnya tidak berani mengambil resiko dan tidak memiliki semangat dalam bekerja. Hari-hari kita serasa mundane karena orang-orangnya bermain aman. Orang-orangnya sangat defensif dan tidak jarang menangkis pekerjaan dan pandai membuat alasan. Software developer sulit berkembang di dalam perusahaan yang orang-orang memiliki fear of failure.

Perusahaan modern melihat kegagalan adalah kesempatan untuk belajar dan menemukan improvement. Kegagalan akan berakhir pada retrospektif, sesuatu yang patut dirayakan. Blame the situation not the person, adalah prinsip kerja di perusahaan modern. Perusahaan modern merayakan kegagalan karena mereka tahu mereka bisa menemukan sesuatu yang lebih besar di balik kegagalan. Perusahaan modern memiliki lingkungan kerja yang safe-to-fail bukan lingkungan kerja yang fail-safe. Perusahaan modern tidak menghukum dan menghakimi yang membuat kesalahan karena hal tersebut hanya membuat orang takut mengambil resiko, dimana hal ini sangat dibutuhkan dalam software development agar ada inovasi dalam pengembangan software.


Demikian pertanyaan-pertanyaan yang dapat ditanyakan oleh pelamar kerja kepada perusahaan yang ingin dituju untuk mengidentifikasi apakah perusahaan tersebut adalah pabrik software atau bukan sehingga kalian tidak perlu menghabiskan hari-hari kalian merenungi “why programmer have no life”. Berbeda dengan jaman saya dulu, sekarang ini sudah banyak perusahaan yang modern yang tidak lagi memiliki mindset pabrik softwaredan tidak menggunakan mindset Scientific Management. Semoga artikel ini membantu kalian mendapatkan tempat kerja yang lebih manusiawi untuk software developer.


Apakah kamu menemukan manfaat dari artikel ini? Silahkan tekan tombol 👏🏻 sebanyak mungkin dan sebarkan artikel ini tanpa minta ijin saya supaya semakin banyak yang membaca artikel ini dan supaya ada perubahan cara berpikir dari orang-orang yang masih memandang software developer menggunakan pola pikir Scientific Management. emoga dengan kekompakan dan solidaritas kita bisa menyelamatkan lebih banyak lagi software developer untuk tidak masuk ke software factory. Terima kasih banyak atas bantuannya.

Artikel terkait:

Modern Management

Gerakan memodernisasikan manajemen software development di Indonesia

Joshua 스크람 Partogi

Written by

On a mission to humanise workplaces so people can be the best version of themselves. Follow my journey https://www.youtube.com/user/jpartogi

Modern Management

Gerakan memodernisasikan manajemen software development di Indonesia

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade