Memanusiakan software developer

Design and programming are human activities; forget that and all is lost.
 — Bjarne Stroustup (inventor of C++)
“We’re hiring! Kalau kamu adalah software developer terbaik, mari bergabung bersama kami”.

Kata-kata ini belakangan ini sering kali saya lihat di media sosial ataupun konferensi-konferensi. Yang cukup menarik perhatian saya adalah ternyata korporasi juga tidak mau kalah ikut-ikutan mengumbarkan kata-kata ini. Seolah-olah seperti raksasa yang terbangun dan tidak ingin tersalip oleh maraknya startup yang sudah sedikit menggoyang pasar mereka. Lewat public relations yang kuat korporasi pun tidak ingin kalah dalam menggaet perhatian para software developer terbaik. Mereka pun turut menampilkan gambar-gambar di sosial media seperti LinkedIn yang menunjukkan betapa bahagianya suasana di kantor karena adanya meja ping-pong dan ayunan. Semua ini mereka lakukan agar mereka bisa mendapatkan software developer terbaik.

Namun belakangan ini saya agak skeptik dengan perusahaan-perusahaan yang paling rajin memamerkan keadaan di kantornya di sosial media karena sering kali perusahaan ini lah yang justru memperlakukan software developer seperti sampah. Bahkan software developer di perusahaan-perusahaan ini lebih berani curhat ke saya daripada ke manajernya sendiri mengenai kebudayaan di kantornya yang otoriter. Anehnya perusahaan yang menawarkan gaji fantastis juga memperlakukan software developer seenak-udelnya karena mereka merasa mereka sudah memberikan gaji yang lebih tinggi dibanding perusahaan lainnya. Apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini terhadap software developer cerdas ini memang cukup ironis.

Collective stupidity

Collective Intelligence is the capacity of human collectives to engage in intellectual cooperation in order to create, innovate, and invent. 
— Pierre Levy

Apa yang dilakukan perusahaan terhadap orang-orang cerdas ini? “Kami menginginkan talenta terbaik” adalah sebuah marketing gimmick tetapi sifatnya tidak genuine. Perusahaan bukannya memaksimalkan collective intelligence dari orang-orang cerdas ini, perusahaan-perusahaan ini justru membuat orang-orang cerdas ini menjadi bodoh dengan cara harus mengikuti birokrasi yang terkadang tidak masuk akal dan politik yang kental.

Software developer harus mengikuti wahyu dari Bos tanpa boleh menanyakan dari mana asal-usul wahyu tersebut. Bos memandang kalau software developer adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu bagaimana menjalankan perusahaan. Bos tidak melihat kalau orang-orang yang men-challenge dirinya adalah bentuk sense of ownership terhadap perusahaan. Bos tidak mengembangkan budaya mendengarkan dan bertukar pendapat dengan setiap posisi di perusahaan.

Kapasitas software developer cerdas ini bukannya diperlebar tetapi justru dipersempit. Orang-orang cerdas ini akhirnya terkadang sulit untuk diajak berpikir di luar kotak karena mereka telah didoktrin untuk tetap berada di dalam kotak dengan mengikuti aturan-aturan baku dari orang-orang yang memiliki kekuatan politik tertinggi di perusahaan. Orang-orang cerdas ini tidak secara terus menerus di-coaching dan di-mentoring agar potensi mereka semakin diperlebar. Cukup kontradiktif memang perilaku pimpinan perusahaan, ke media masa mereka mengatakan kalau mereka menginginkan orang-orang cerdas tetapi setelah masuk ke dalam perusahaan realitanya perusahaan menginginkan collective stupidity dari orang-orang cerdas ini.

Takut untuk bersikap profesional

Everyone who got promoted in my company have said NO to me more than once.
— Ryu Kawano Suliawan

Perusahaan-perusahaan akhirnya membuat orang-orang cerdas ini takut untuk bertindak profesional karena budaya yang dikembangkan oleh perusahaan adalah culture of fear karena Bos selalu benar dan tidak tidak bisa di-challenge. Deadline yang jatuh dari langit tidak pernah bisa di-challenge dan dinegosiasi. Ketika orang-orang cerdas ini berdiri di atas kualitas yang mengakibatkan deadline tidak bisa tercapai, pimpinan perusahaan bersikap tidak mau tahu dan tetap memaksakan kehendaknya. Pimpinan perusahaan merasa mereka telah membayar software developer tinggi sehingga ia bisa mendapatkan keinginan yang tidak masuk akal sekalipun tanpa memahami kesulitan yang dialami software developer. Banyak perusahaan yang mengira kalau mereka telah membayar gaji pegawainya maka mereka telah melakukan kewajibannya dan orang-orang tidak boleh men-challenge keputusan yang dibuat oleh pimpinan perusahaan.

Pimpinan perusahaan menginginkan orang-orang professional untuk bergabung dengan perusahaannya tetapi perusahaan tidak menciptakan sebuah lingkungan dimana profesionalisme dihargai dan dijunjung tinggi. Sebuah lingkungan kerja dimana ketika software developer berdiri di atas profesionalisme dan kualitas, mereka tidak akan diintimidasi. Deadline lebih dihargai di atas profesionalisme daripada sebaliknya di banyak perusahaan. Akhirnya software developer ini tidak tahu bagaimana sebenarnya membuat software berkualitas.

Takut mengambil resiko

Software development adalah pekerjaan inovatif. Dalam berinovasi ada proses eksperimen. Dan dalam eksperimen ada kemungkinan eksperimen yang dijalankan tersebut gagal. Di banyak perusahaan di Indonesia gagal dipandang sebagai sesuatu yang bersifat negatif. Gagal tidak dipandang sebagai kesempatan untuk berinovasi atau kesempatan untuk belajar.

Di banyak perusahaan, gagal seringkali berakhir pada sebuah hukuman. Di kebun binatang, pelatih binatang sudah hampir tidak pernah lagi menghukum binatang yang tidak mau mengikuti perintah pelatih. Namun di dunia kerja software developer masih dihukum ketika berbuat salah. Banyak software developer di perusahaan akhirnya takut mengambil resiko. Mereka memilih untuk bermain di zona nyaman. Tidak jarang mereka defensif dan melempar balik ketika mendapatkan requirement yang ambigu dan penuh dengan ketidak-jelasan dari pihak bisnis. Ketika software developer melihat kode kotor yang seharusnya di-refactor, mereka biarkan saja kode tersebut kotor karena mereka takut membersihkan kode akan mengakibatkan masalah.

Pandai berbohong

Selain takut mengambil resiko, software developer seringkali menjadi pandai berbohong. Software developer takut untuk transparan dan lebih memiliki berbohong untuk menyelamatkan diri. Kebohongan itu bisa dalam bentuk estimasi yang diberikan buffer ataupun dengan cara memotong kualitas. Mereka pun melihat memberikan buffer bukanlah sebagai tindakan yang salah karena manajer proyek mereka pun melakukan doktrin bodoh ini dengan memberikan buffer kepada kostumer dengan alasan “mengantisipasi resiko”. Transparansi tidak dihargai oleh pimpinan perusahaan dan seringkali transparasi hanya akan berakhir pada lembur yang tidak wajar. Software developer melihat kalau estimasi hanya akan dikonversi menjadi deadline. Kalau mereka transparan dalam memberikan estimasi maka itu namanya adalah cari gara-gara. Kebudayaan berbohong dengan cara memberi buffer dan memotong kualitas lebih dihargai di perusahaan. Semua orang hanya ingin mencari selamat dengan tidak bersikap transparan.

Memelihara status quo

Once you stop learning, you start dying. 
— Albert Einstein

Karena orang-orang cerdas ini takut untuk selalu men-challenge orang-orang yang memiliki otoritas tertinggi, mereka menjadi semakin malas untuk melakukan continuous learning. Continuous learning dianggap hanya membuang-buang waktu saja. Mereka tidak dinilai untuk datang dengan ide yang dapat memberikan peningkatan di perusahaan. Waktu yang dibutuhkan untuk inovasi dan datang dengan ide tersebut terlalu lama dan dianggap sia-sia oleh perusahaan.

Hingga hari ini di kebanyakan perusahaan software developer digaji hanya untuk menyelesaikan requirement yang datang dari langit hari demi hari bukan untuk menjadi seorang inovator yang datang dengan ide-ide brilian. Sofware developer di kebanyakan perusahaan masih dipandang tidak lebih dari seorang kuli kode.

Dan akhirnya pola pikir sofware developer cerdas ini terjebak dalam status quo. “Ya sudah dari dulu seperti itu” adalah template jawaban orang-orang ini setiap kali mereka ditanyakan “kenapa harus seperti itu”? “Ngapain sih harus berubah kalau cara yang sekarang tidak ada masalah” adalah mental yang terbentuk dalam pribadi setiap software developer cerdas ini. Mereka tidak melihat kalau “tidak ada masalah” sebagai sebuah masalah yang besar karena kultur yang dibangun oleh pimpinan perusahaan adalah collective stupidity.

Pasif kaku

Orang-orang yang cerdas ini pun tidak jarang menjadi pasif. Bahkan sampai badannya menjadi kaku untuk self-manage. Di kepala mereka sudah terprogram kalau self-manage pada akhirnya pada punishment. Bagi mereka self-manage adalah sebuah kerugian atau sesuatu yang akan menyusahkan diri sendiri. Mengambil inisiatif atau self-manage mereka anggap sebagai tindakan cari gara-gara. Mereka lebih senang menerima perintah dari atasan. Paling tidak ketika ada masalah, mereka bisa kembali menyalahkan orang yang memberikan mereka perintah. Anehnya perusahaan-perusahaan yang mengembangkan budaya otoriter adalah perusahaan yang paling pertama bingung kenapa orang-orangnya susah untuk self-manage.

Tidak Acuh

Tidak jarang software developer cerdas ini menjadi orang-orang yang tidak acuh dengan sekitarnya. “Terserah apa kata elu deh”, “yang penting gue dapat gaji bulanan deh” menjadi pola pikir yang terbenam dalam alam bawah sadarnya. Tindakan yang mereka lakukan demi memenuhi “asal bapak senang”. Mereka menjadi “Yes Man”. Pola pikir seperti ini terjadi karena mereka tahu pada akhirnya software developer menjadi pihak yang selalu kalah dan disudutkan. Bagaimana perusahaan bisa mendapatkan orang-orang yang memiliki sense of ownership kalau perusahaannya membentuk sebuah lingkungan kerja sehingga orang-orang menjadi ignorant.

Low self-esteem

Orang-orang pintar yang memiliki potensi untuk berkembang ini memiliki tingkat percaya diri yang rendah. Mereka sadar kalau software developer adalah pihak yang selalu kalah dan disudutkan. Mereka ingin cepat-cepat menjadi manajer proyek atau business analyst yang kembali membuat hidup software developer berikutnya kembali menderita. Tanpa disadari perusahaan akhirnya terjebak dalam sebuah lingkaran setan dan tingkat turnover yang tinggi. Software developer cerdas ini tidak melihat menjadi seorang software developer adalah profesi yang membanggakan dalam jangka panjang dan hanya sebuah profesi batu loncatan. Software developer seringkali berada di kasta paling bawah dengan gaji paling rendah di dalam perusahaan. Ide kalau software developer dapat berkarir secara profesional tidak pernah masuk dalam akal para pimpinan perusahaan karena mindset pimpinan perusahaan adalah “software developer tidak lebih dari kuli koding”.


Kalau dipikir-pikir untuk apa perusahaan-perusahaan ini berlomba-lomba merekrut software developer cerdas coba? Toh pada akhirnya intelegensia software developer ini akan disia-siakan begitu saja dan software developer tidak didukung untuk menjadi seorang yang harus bersikap profesional berdiri di atas kualitas. Tanpa disadari sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh perusahaan terhadap software developer sungguh kejam dan tidak manusiawi karena software developer tidak diperlakukan sebagai seorang manusia yang berakal budi. Industri software development di Indonesia akhirnya jadi penuh dengan software developer yang tidak acuh, tidak pro-aktif, saling menyalahkan, defensif, malas belajar sesuatu yang baru, mempertahankan status quo, takut mengambil resiko. Pimpinan perusahaan menginginkan sebuah lingkungan kerja yang ideal namun mereka tetap melakukan budaya otoriter dan anehnya mereka merasa tidak ada yang salah dengan gaya kepemimpinan seperti itu dalam software development.

Even software developers can be whole people in the real world. Maybe you’ve been fine all along and just hanging with the wrong crowd.
 — Kent Beck

Di abad 21 ini, sudah saatnya software developer dimanusiakan. Memanusiakan software developer bukan hanya memberi meja pingpong dan ayunan, tetapi lebih dari itu.

  • Software developer dapat dengan bebas berekspresi untuk mengutarakan pendapatnya tanpa ada rasa takut dan terintimidasi kalau mereka akan disalahi atau dihakimi.
  • Software developer dapat menjadi pribadi yang utuh yang tidak berbeda dengan pribadinya ketika mereka berada di rumah ataupun di tengah masyarakat.
  • Software developer tidak perlu lagi merasa takut untuk berdiri di atas profesionalisme. Tanpa perasaan akan diadili, mereka dapat dengan lantang mengatakan tidak untuk deadline tidak masuk akal yang pada akhirnya dapat berakhir pada pemotongan kualitas.
  • Software developer tidak perlu berbohong atau bersikap tidak transparan hanya untuk menyenangkan pimpinan perusahaan yang bersikap tidak mau tahu kompleksnya software development.
  • Software developer tidak perlu takut untuk mengambil resiko keluar dari zona nyaman dan keluar dari kotak dia yang dapat memperlebar kapasitas dia sebagai manusia dan juga yang akan membawa nilai tambah untuk perusahaan.
  • Software developer bisa mendapatkan akses ke coaching dan mentoring di dalam perusahaan agar kapasitas mereka dapat selalu diperlebar dan mereka dapat menjadi pribadi manusia yang utuh.
  • Software developer tidak perlu merasa rendah diri karena perannya sebagai software developer tidak lebih rendah dibanding manajer proyek ataupun business analyst. Mereka harus dapat merasa bangga karena mereka adalah profesional yang mengembangkan software berkualitas yang mempengaruhi kehidupan orang banyak.
  • Software developer dapat self-manage agar dapat beraktualisasi diri menjadi versi terbaik dirinya memenuhi kodratnya sebagai manusia.

To belong, to feel safe,to feel proud, to feel fulfilled, to self-actualise adalah kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow yang sering kali tidak didapatkan oleh software developer secara keseluruhan di perusahaan. Memanusiakan software developer bukanlah sekedar memberikan mereka ayunan dan meja ping-pong di kantor. Memanusiakan software developer adalah memberikan kebutuhannya sebagai insan manusia di dunia kerja. Software developer bukan sekedar kuli kode atau budak untuk perusahaan.

Pada akhirnya software development adalah mengenai bagaimana sekelompok manusia berkolaborasi dan bertukar pikiran bersama mengembangkan software berkualitas yang dapat memudahkan pekerjaan penggunanya. Fokus software development seharusnya adalah kepada manusianya bukan pada metodologi, proses ataupun tools. Memanusiakan manusia dalam software developer seharusnya menjadi gol utama yang harus dicapai perusahaan dalam mengelola software developer. Apakah sebagai software developer kamu sudah bekerja di perusahaan yang memanusiakan-manusia?

Baca juga:


Suka membaca artikel ini? Jangan lupa untuk menekan tombol 👏🏻 di bawah sebanyak mungkin. Bersama kita dapat merubah ekosistem software development di Indonesia. Kita hanya perlu sedikit lebih kompak dan lebih berisik dalam menyuarakan isi hati dan pikiran kita. Sekedar informasi, artikel ini adalah sekelumit pemikiran saya untuk buku saya yang kedua.