Self-motivation dan otoritas tersentralisasi


Siang ini saya secara tidak sengaja melihat anak saya sedang bermain sendirian di belakang rumah dengan kereta api mainannya. Kereta api mainan ini akan berputar di rel secara berulang-ulang. Ada satu hal yang membuat saya tertarik ketika melihat dia bermain. Dia tampak begitu terkesima memperhatikan mainannya ini. Sebagai seorang anak yang baru berumur 2,5 tahun, mungkin dalam hatinya dia sedang berpikir bagaimana kereta api mainan ini dapat bekerja. There is fascination, curiosity and self-motivation inside him. Dari dia saya dapat menyimpulkan bahwa manusia pada dasarnya adalah “a self-organising and self-motivated human being”. Bila secara default manusia itu self-driven dan self-organising, mengapa banyak orang di dalam dunia kerja yang masih harus menunggu instruksi dari atasan dan tidak menemukan excitement dalam pekerjaannya?

Ketika saya melihat dia, saya lalu teringat kembali orang-orang yang berada di dunia kerja. Banyak orang yang semakin tidak semangat dengan pekerjaannya. Atau mereka hanya datang ke kantor melakukan apa yang sesuai diperintahkan oleh atasannya. Dunia kerja terasa membosankan dan begitu-begitu saja. Kenapa bisa demikian?

Ada banyak hal yang menyebabkan self-motivation itu semakin hilang dalam diri seseorang seiring dengan berjalannya waktu. Periode dari ketika orang tersebut masuk sekolah, lalu kuliah dan masuk dunia kerja, self-organising sangat tidak ditekankan di sekolah, di kampus maupun di dunia kerja. Selalu ada otoritas terpusat seperti guru, dosen maupun atasan yang akan menentukan apa yang orang tersebut harus lakukan. Sehingga self-motivation yang secara default tersebut ada dalam setiap pribadi manusia bisa hilang seiring dengan waktu. Dalam jangka panjang model otoritas terpusat seperti ini justru tidak membuat seseorang menjadi lebih dewasa, namun justru sebaliknya membuat orang tersebut takut gagal, takut mengambil keputusan dan hanya bekerja sesuai yang diperintahkan oleh atasan. Belum lagi potensi mereka yang sebenarnya tidak akan terbuka karena mereka hanya ke kantor sebagai rutinitas dan untuk mendapatkan gaji bulanan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan karena alasan-alasan tersebut sebenarnya perusahaan-perusahaan justru rugi besar bila masih menerapkan model otoritas terpusat dalam menjalankan bisnisnya.

Di luar negeri sendiri sudah banyak perusahaan-perusahaan yang menerapkan model self-organising company, seperti Netflix, Spotify dan Zappos, agar para pegawainya dapat selalu termotivasi dan memberikan kontribusi yang terbaik bagi perusahaan dan di sisi lain juga mengembangkan potensi pegawai yang bersangkutan. Dan perusahaan-perusahaan seperti ini justru mengakui kalau perusahaannya dapat bergerak lebih cepat ketika otoritas berpindah dari atas hingga ke level paling bawah.

Di abad 21 ini, di era dimana informasi mudah untuk didapatkan lewat berbagai macam media, peran guru, dosen, manajer dan atasan seharusnya tidak lagi menjadi otoritas tersentralisasi sebagaimana prinsip Taylorisme yang berkembang di awal abad 20, namun menjadi seorang mentor yang memberi semangat, panduan, bimbingan dan memastikan setiap individu memiliki self-motivation dan dapat self-organising di dalam koridor yang dapat ditoleransi agar mereka dapat menjadi pribadi yang kreatif, berani mengambil keputusan dan dapat menemukan semangat di dunia kerja lagi. Bagi para guru, dosen, manajer dan atasan, sadarilah bahwa di abad 21 ini anda akan banyak berhadapan dengan knowledge worker dan oleh karena itu anda belum tentu lebih tahu atau lebih pintar daripada anak murid ataupun bawahan anda. Sadarilah bahwa dunia sekarang sudah berubah dan gaya kepemimpinan yang sedang anda lakukan saat ini sudah tidak relevan lagi.