Hari Ketiga, Mengenal Lebih dekat MSC dan Bertemu dengan PPI Malasyia Cabang UKM

Meet Up dengan PPI Malasyia Cabang UKM

Assalamu’alaikum,

Alhamdulillah seperti biasa hari ini adalah hari dimana saya dan teman-teman melakukan aktifitas pagi seperti biasa. Namun, sayangnya pagi ini dimulai dengan tidak baik. Sebab , setelah melaksanakan Sholat Subuh jam 06.00 Waktu setempat, kami sempat agak terlambat untuk bangun lagi . Sekitar Pukul 08.30 AM , kami baru bangun. Padahal pagi itu ada Course ICT Pertemuan kedua. Sungguh disayangkan, hari pertama sangat rajin datang ke Course tepat waktu, namun di hari kedua sudah mulai datang sedikit terlambat.

Karena perjalanan Asrama ke Fakultas lumayan jauh, ya kami memang lebih suka untuk berjalan dari pada naik Bas. Hitung-hitung olahraga sebelum kuliah. haha. sehingga perjalanan sekitar 5–7 Menit dengan jalan kaki. Tapi bagi saya sendiri pun, berjalan dari Asrama ke Fakultas bukan hal yang berat. Sebab, dulu ketika saya belum ada kendaran, terbiasa jalan dari Kontrakan saya ke Kampus dengan jarak temput sekitar 15 Menit. Lebih lama bukan ? ya karena memang lebih jauh jaraknya dari pada Asrama ke Fakultas.

Alhamdulillah, ketika sampai di Bilik Kuliah 3, Prof belum banyak bercerita. Sehingga materinya pun masih belum banyak yang telah disampaikan.

Pemutaran Video MSC oleh Prof.

Masih menceritakan mengenai kemegahan MSC , (Multimedia Super Corridor) yang berlokasi disegita Kuala Lumpur. yang memiliki nuansa Smart Cities. Beberapa Point yang bisa saya dapatkan ketika berkuliah mengenai MSC ini seperti berikut :

  1. MSC merupakan silicon valley dari Malasyia itu sendiri. Sebab, di tempat itu benar-benar terasa sekali eco-system IT Development. Seperti kecepatan akses internet yang tinggi, gaji yang tinggi bagi IT, banyaknya perusahaan digital berada/ berkantor disana. Munculnya/banyaknya startup yang bermunculan juga di MSC, lebih tepatnya di MAGIC (semacam Co-Working space)
  2. MSC terdapat banyak sekali orang-orang India, karena memang di Malasyia. Ada 3 Ras Dominan, yaitu Melayu , China dan India. Nah, di dunia IT memang saya sering mendengar pula bahwa orang India banyak yang menjadi Programmer yang mau di gaji dengan cukup kecil. Ternyata sama halnya di MSC, banyak sekali Programmer India.
  3. Video mengenai MSC bisa disimak dibawah ini :

Selain saya mendapat perkuliahan mengenai MSC, pelajaran kami berlarut pada hal lain. Beberapa point yang saya ingat di dalam catatan saya akan saya sampaikan seperti dibawah ini.

Ketika Prof Menerangkan Policies
  1. Menurut Prof, ada beberapa alasan kenapa masyarakat Indonesia belum bisa berkembang cukup baik. 3 Poin utamanya adalah karena kemampuan Bahasa Inggris masih kurang baik, Merasa bahwa pasar lokal atau berkembang di dalam negeri sudah cukup baik, dan merasa kurang percaya diri akan kemampuan diri sendiri. Bagi saya sendiri pun, saya membenarkan hal ini. Terlihat bagaimana masyakarat disini, mahasiswa di UKM ketika berbicara bahasa inggris sangat lancar. Lalu, merasa pasar lokal di Indonesia sudah cukup memang terlihat. Apalagi , kalau kita Indonesia masih sedikit orang-orang yang memiliki Mimpi untuk mencari pengalaman dengan bekerja di Luar Negeri atau kuliah di Luar Negeri. Terakhir karena kurang percaya diri, sangat setuju. Banyak talent Indonesia yang baik namun mereka kurang menghargai diri sendiri atau kurang percaya dengan kemampuan yang di milikinya.
  2. Policies, Wisdom. 3 Hal yang ditekankan oleh Prof Nurhizam yaitu Al-Qur’an , Ideologi Negara(Pancasila) dan Parent orang tua. Seolah Prof sedang mengingatkan kita yang sesama muslim ini. Mengenai Way of life. Bukan hanya sekedar agama (Hubungan manusia dengan Tuhan, yang diambil dari bahasa Sansekerta) melainkan sebuah jalan hidup yang telah kita ambil. Islam sebagai Din, Ways of Life yang kadang kita lupakan. Yang mana, banyak orang akan merasa uang adalah tujuan akhir. Ada Ideologi , Pancasila dan terakhir support / doa restu orang tua. Sekali lagi, peranan orang tua dalam memberikan restu.
  3. Muncul perbudakan modern. Sebut saja kita orang dibayar sedikit namun dengan waktu kerja yang sangat lama. Ya, bisa dibilang perbudakan modern bukan?
  4. Fresh Graduate memiliki target gaji paling rendah, yaitu 2000RM sekitar 6 Juta. Lebih besar bukan dengan gaji programmer di Indonesia? Ini dalam kisaran paling rendah.
  5. MSC bertujuan untuk menciptakan Eco-system IT Development bagi masyarakat yang ada di malasyia sehingga bisa seperti Silicon Valley yang ada di Amerika.

Sebenarnya, masih banyak lagi hal-hal penting yang disampaikan oleh Prof Nurhizam. Namun, muncul cuman itu saja poin yang saya catat dan paling mengena yang harus saya tulis pada tulisan saya disini ini.

Oke, setelah selesai melaksanakan kuliah. Kami segera bergegas untuk kembali ke Asrama. Namun, ketika saya cek grup Whatsapp , ternyata ada pengumuman untuk berkumpul di MP 1. Berkaitan dengan menggunakan Password untuk wifi (Alhamdulillah , karena saya selama ini memakai password teman-teman dari UKM, haha) dan juga pembuatan ID UKM.

Surau Fakultas

Namun, ternyata masih perlu 1 jam lagi untuk bisa berkumpulnya. Akhirnya, kami memutuskan untuk Sholat Dhuhur di Fakultas. ya , seperti tulisan saya sebelumnya, Surau / Musholla disini memiliki desain arsitektur yang menari. Terutama menaruh lokasi untuk wudhu berada di dalam Mushola.

Co-Working Space di UKM

Setelah kita selesai melaksanakan sholat dhuhur, namun masih ada 30 menit lagi. Akhirnya , karena kami juga ingin istirahat. Saya, Hilmi , Mas Darmawan dan Fauzan (Kuliah di UKM, tapi orang Padang) pergi menuju Inovation Center. Sejenis ruangan invosi yang berisikan beberapa poster / selebaran Alumni UKM yang telah sukses. dan memang , di situ juga ada Co-Working Space. haha, sungguh suasana yang sangat nyaman. Entah untuk istirahat maupun untuk belajar.

Bisa dibilang Co-Working Space milik UKM, ini berada di Ruang Inovasi

Kami pun berbincang dengan fauzan. Mulai memahami bahwa di itu sebenarnya Diploma, lalu mengambil S1 di UKM sini. Bertanya mulai dari berapa kuliah disini.Berapa lama kuliah disni. ternyata dari beberap hal bahwa

  1. S1 di Malasyia hanya berkisar 3 Tahun. Untuk normalnya.
  2. UKM berada pada peringkat ke 3 , Kampus terbaik di Malasyia (nomor 3 aja seperti ini. Bagaimana nomor 1?)
  3. Biasanya di Ruang Inovasi memang ramai. Banyak digunakan ketika waktu istirahat. Tapi karena masih libur, jadi masih sepi.

Ah.. sungguh sebuah eco-system yang sangat diinginkan oleh saya. Mungkin bukan hanya saya saja , tetapi mahasiswa lain juga. haha

Selang setelah mengobrol dengan Fauzan , waktu sudah menginjak pukul 14.00 , sudah waktunya kami berangkat ke MP1 (Lab IT) untuk melakukan pendaftaran guna wifi dan ID Student.

Suasana ketika mensetting nomor Matrix UKM kami

Menggunakan Nomor Passport , kami diberikan Matrix (Sejenis NIM) dari UKM lalu juga nomor passport sbegai password. Namun, sayangnya saya masih belum bisa menggunakannya.

Duh, Kesal. Apes dan banyak rasa yang saya rasakan. Sudah saya lapor ke temen-temen fasilitator, seperti Fauzan dan Niswah, tetapi memang sepertinya ada error di database sehingga perlu untuk cek database.

Temen-temen saya pun sudah banyak pula yang sukses. Namun, tak sedikit pula yang mengalami kendala error. Seperti Password ketika diganti menjadi salah, tidak bisa masuk ek ifolio dll.

Jadi bisa dibilang, Sistemnya ada yang sedikit bermasalah. Ya sistem dari UKM itu sendiri. atau memang masalah di Usernya yang masukkan data, entah mahasiswa UIN sendiri atau yang lainnya.

Oh ya, untuk informasi kecepatan Wifi UKM :

Menang di Stabil, Tapi kalau dibandingin Kampus sendiri emang kalah sih. haha

Setelah itu, kami memutuskan untuk segera pulang ke Asrama, sebelum pulang saya ingin sekali mencoba membeli minuman kaleng seharga 1RM. Lumayan murah jika di bandingkan di Indonesia yang harganya selalu diatas Rp 5000 . Akhirnya, saya pun memilih membeli Pepsi. Namun, sayangnya rasa pepsinya tak seperti pepsi yang biasa saya beli di Indonesia

Revive semacam Mizone gitu, sedangkan Pepsinya agak beda

Meet Up dan Diskusi Bersama Mahasiswa PPI Malasyia cabang UKM

Nah, sebelumnya saya udah beberapa hari sebelum ke Malasyia, menghubungi pihak PPI Malasyia melalui Fanspage Facebook. Lalu, saya dapat nomor handphone ketua PPI Malasyia Cabang UKM.

Setelah chat beberapa kali, akhirnya pada hari ini kami memutuskan untuk bertemu malam ini di Kolej Pendeta Za’ba.

Suasana Meet Up

Kalau tidak salah, ada sekitar 6 -7 Mahasiswa PPI yang hadir, salah satunya adalah Mas Haikal, sebagai salah seorang Ketua PPI Malasyia cabang UKM. Saat ini sedang mengambil Master di sini ini. Kebanyakan yang hadir adalah mahasiswa yang mengambil jurusan Ekonomi dan Bisnis.

Alhamdulillah juga banyak mahasiswa UIN Malang, UNSRI dan UBL yang datang untuk memeriahkan Meet Up, pembicaraan pun mengalir dengan baik pula. Kami berbincang — bincang mulai dari seputar bagaimana kuliah di UKM, bagaimana hidup disini, membandingkan dengan Indonesia serta sharing banyak sekali pengalaman. ya, memang bisa dibilang, rata-rata pada saat itu yang hadir adalah Mahasiswa S2. Jadi bisa dibilang, mereka memiliki ilmu dan pengalaman lebih dari pada kami.

Nah, berikut ini beberapa poin yang bisa kami ambil dari pembicaraan kami

  1. Ada 2 Jalur untuk masuk UKM , S2. Yaitu melalui Riset dan Kuliah Biasa. Maksudnya gini, kita bisa mengajukan penelitian atau mendapat rekomendasi dari Dosen disana untuk ikut dalam sebuah penelitian.Lalu, ada pula ikut mengikuti perkuliahan seperti biasa.
  2. Peraturan disini UKM sangat ketat. Salah satu larangannya adalah tidak boleh merokok. Jika sampai kena, bisa kena denda. Bahkan kalau melanggar parah bisa sampai kena DO. Kalau ini sih saya setuju, kebetulan memang tidak suka merokok. haha
  3. UKM selalu membangun, bahkan selalu berkembang.Selalu ada perubahan tiap tahun, bisa terlihat dalam 5 Tahun terakhir.
  4. Sekitar ada 200 Mahasiswa UKM yang berasal dari Indonesia
  5. PPI Malasyia itu ternyata dibawah naungan KBRI Malasyia, baru tahu saya. haha , jadi PPI Malasyia , bisa meminta dana ke KBRI Malasyia jika ingin membuat sebuah acara
  6. Seperti UMK, di Malasyia berkisar 2000 RM atau Rp 6.000.000

Tetapi, semakin waktu menunjukkan waktu malam, saya bertemu dengan Mas Ari. Dia ini jurusan Bisnis , sedang mengambil Masternya. Wah , lumayan juga ini batin saya, ketemu Mas Ari orang bisnis berpendidikan. Langsung saja, saya ngobrol panjang lebar dengan Mas Ari ini.

Saya yang berbaju Biru, memperhatikan dengan seksama

Ada beberapa poin yang bisa saya simpulkan, karena tak mungkin saya tuliskan semua. haha, ngobrol kami hampir 1 jam.

  1. Mengenai kenapa Gojek tak bisa ke Malasyia, tetapi Grab bisa ke Indonesia. Itu karena Gojek ingin menguasai seluruh pasar di Indonesia yang berpenduduk 230 Jutaan orang, Bukan hanya sektor Ojek saja, melainkan yang lainnya. Ya karena memang Gojek sendiri menggunakan motor , tidak seperti Grab yang fokus dahulu di Mobil. Lalu, gojek itu sendiri memiliki banyak fasilitas tak hanya gojek, melaikan gofood,go medic dst. Jadi bisa dikatakan, dengan pasar 230 Juta ini, gojek ingin menguasai pasar semuanya. dari pada ke Malasyia, yang populasi berkisar 30 Juta orang dan belum tentu bisa menguasi 30 Juta, bisa dibilang lebih banyak exfort dari pada keuntungannya. Nah, sedangkan Grab masuk ke Indonesia secepatnya, karena takut jika Gojek sudah besar, Grab bakal susah untuk penetrasi. Begitu, saya sendiri juga baru paham. haha
  2. Nah, ini menarik ketika ngomongin negara Berkembang. Benar, jika Malasyia bisa dikatakan masih negara berkembang. Belum dikatakan negara maju ternyata. Namun, Negara Berkembang sekarang punya kasta juga. Kastanya Malasyia itu berada di atas, sedangkan Indonesia masih dibawah. Salah satu patokannya adalah PBD Malasyia masih lebih tinggi dari pada Indonesia. Bahkan, Kuala Lumpur dan Jakarta memiliki perbedaan. Salah satu yang memudahkan pembangunan di Malasyia, karena dalam pembangunannya tak sesulit di Indonesia. Tanah disini lebih mudah di pindah, tak seperti dinegera kita yang harus ngurus ini dan itu. Ya ada dampak positif negatif nya juga kalau masalah tanah sih, haha.
  3. Nah, denger dari masnya juga, di Malasyia ini lagi banyak butuh banget tenaga IT Profesionalnya. Bahkan gajinya tinggi-tinggi. Kebutuhannya memang sangat banyak sekali untuk IT Profesionalnya.

Tak terasa pula, waktu juga sudah menginjak pukul 00.00 PM, waktunya untuk saya istirahat. Saya pun pamit kepada temen-teman yang masih asyik ngobrol dan juga pamit ke Mas Ari. Tak lupa tentu saja meminta nomor handphonenya. Memang sepertinya kita bakal ketemu lagi dengan teman-teman PPI Malasyia cabang UKM khusus untuk diskusi masalah pendidikan. Semoga bisa kesampaian segera.

Cerita hari ini pun cukup selesai dengan banyak cerita yang bisa saya dapatkan. Semoga pula tulisan saya ini bisa menginspirasi dan memberikan Informasi kepada teman-teman jika ingin melanjutkan study di UKM atau di Malasyia supaya kita bisa memperbaiki bangsa kita. Aamiin.

Oh ya, sampai lupa. Kita pun pulang malam sudah ada kucing malasyia (sepertinya suka dengan kami) yang selalui setia menyambut kami pulang. ini sudah yang ke 3 kalinya dia menyambut kami looo.. haha

Kucing yang selalu menanti kami

Bangi, 15 Juli 2017

Naufaldi Rafif S

Mahasiswa Semester 7 , Teknik Informatika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

NB : Mohon maaf jika ada kesalahan dalam informasi atau tulisan. Silahkan membenarkan.