Kolaborasi Warga dan Hak Atas Kota

Dilarang Diam #4

Dokumentasi Diskusi Kolaborasi Warga dan Hak Atas Kota

Diskusi keempat sore itu (19/10/17) berlangsung syahdu dan intim, duduk melingkar di perpustakaan menjelang waktu maghrib. Kita memulainya dari kerangka apa itu citizenship dan apa sebenarnya hak-hak kita dalam berkota. Harvey dan Lefebvre kembali berseliweran dalan perbincangan. Kapitalisme, gerakan-gerakan di berbagai belahan dunia, dan bagaimana kini di Indonesia. Banyak perkanan-kirian yang kemudian jadi dibahas, hahaha 😉

Lalu kemudian, kolaborasi seperti apa yang kita butuhkan untuk merebut hak-hak kita yang terampas? Tidak ada habisnya memang, membicarakan hak atas kota. Yang banyak kemudian ditekankan dalam diskusi ini adalah bagaimana kita tidak boleh sama sekali bergantung pada negara terkait dengan penyediaan hak-hak tersebut, seperti kata Lefebvre, kita sebagai warga harus kolaboratif untuk menciptakan demand terhadapnya!

Diskusi ini kemudian jadi banyak ngalor-ngidul. Membicarakan Yogya, gerakan dan diskusi mahasiswa di kampus-kampus, berbagai perubahan nyata yang terjadi…

Kemudian diakhiri dengan sedikit cerita tentang Urban Social Forum yang telah lalu dan yang akan datang, obrolan informal, dan kembali pulang karena sudah malam.

Satu lagi diskusi menarik terjadi. Oh, apabila kamu tertinggal karena tidak bisa hadir dan ingin membicarakan ini (hak atas kota, atau Urban Social Forum) sila kontak admin saja via Instagram dan apapun bisa kita perbincangkan!

Salam,
Redaksi Nekropolis.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.