Nevime
Published in

Nevime

Pengaruh Drakor Terhadap Tingkat Romantisme Ketika Berinteraksi Dengan Kekasihku

Terdengar seperti judul skripsi mahasiswa tingkat akhir, tapi sebenarnya ini adalah bukan judul skripsi.

Apakah sebuah syuting.

Mulai dari Goblin hingga Crash Landing On You. Mulai dari tteokbokki hingga mie ayam dekat — pasar Merak. Segala hal yang berkaitan dengan Vivi, merupakan hal yang selalu aku rindukan. Bukan cuman akhir-akhir ini saja, melainkan setiap harinya. Meskipun kami juga berinteraksi lewat jalur digital. Tetapi, jalur bertemu tatap muka secara langsung merupakan jalur terbaik yang ku rasakan selama ini. Selain bisa melihat wajah cantik Vivi, aku juga bisa bergandengan tangan dengannya, kemanapun tujuan yang kami mau, asal ada uang dan waktunya hehe.

Biasanya, aku tidak lah terlalu romantis, mungkin Vivi akan protes mengenai hal ini, karena sebenarnya aku sangat tidak romantis. Tapi, setiap harinya, aku selalu berusaha untuk membuat percakapan kami menjadi mengasikkan, entah bagaimanapun caranya. Bisa mulai dari membicarakan bagaimana kawanan serigala ketika waktu sahur tiba? Apa itu Visual Studio? Apa itu Burkina Faso? Apapun itu akan kucoba, agar tentu saja. Interaksi di antara kami berdua tetap terjaga.

Tidak dipungkiri, aku bukanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mana segala hal yang pernah diucapkan atau ditulis oleh orang Indonesia bisa kuhapalkan semua. Karena aku juga manusia pada umumnya yang belom terasa makan kalo belom ada nasinya. Sering kali aku juga merasa blank dan tidak tau harus membahas topik apa. Ketika aku sudah merasa hal seperti ini mulai menyapaku, inilah saatnya. Drakor, Drama Pelakor. Gak deng, Drama Korea tentu saja.

Drama Korea, khususnya yang terakhir kali aku tonton berjudul Crash Landing On You. Drama yang berkisah tentang seorang wanita super kaya yang terjebak di Korea Utara lalu ia memesan sebuah nuklir agar tidak ada lagi orang di jalan yang menggodanya ketika malam hari selepas pulang kerja. Maaf, merubah isi cerita, kalau kalian penasaran. Silahkan tonton sendiri di platform kesayangan masing-masing hehe.

Nah biasanya, biasanya loh ya. Setelah menonon Drama Korea, terlebih yang romantis. Seketika itu juga, syaraf-syaraf Kahlil Gibran yang ada di kepala ini saling bekerja satu sama lain. Mensuarakan isi hati secara puitis. Ya, meski gak terlalu puitis, seenggaknya bisa membuat Vivi senyum. Dan hal tersebut membuatku gembira adalah obat. Setelahnya, akupun merasa bisa menjadi seperti MC pada acara-acara paling bermutu di dunia, layaknya acara musik yang membahas gosip kehidupan pribadi bintang tamunya. Aku seketika lancar berbicara, menceritakan A, B, C, D, E, Friday, Saturday. Tak jarang juga malah ujung-ujungnya aku menceritakan segala alur cerita Drakor tersebut. Dan tentu saja, Vivi tidak suka spoiler. Maaf sayang hehe.

Sebenarnya tulisan ini ditulis sekitar 1–2 minggu yang lalu. Tapi berhubung hari ini tingkat kangenku kepada Vivi lagi penuh-penuhnya. Aku pun ingin menyalurkannya kembali lewat tulisan. Dan paragraf ini, baru ku tulis saat ini. Tepat ketika kalian membacanya juga.

Alhamdulillah, sekarang rasa kangenku sedikit tersalurkan. Tidak banyak, tapi setidaknya, mampu meredam rasa nyesek di dalam dada, ecie bucin. Ya dong, bisa dibilang saya bucin yang sangat bangga dengan kebucinan saya. Bagaimana tidak? Orang dapetin Vivinya aja susah, eh pas dapet masa tidak banggakan hehe. Maaf kalau kalian terganggu dengan kebucinan saya, semoga kalian sehat selalu dan tak lupa Minal Aidzin Wal Faidzin.

Mari kembali ke Drakor. Selain mampu membuatku menjadi lebih romantis, lebih kreatif dalam hal interaksi. Drakor juga membantuku mengerti setidaknya satu-dua hal yang belom ku mengerti di setiap judul. Seperti, ketika orang Korea Selatan makan ayam, rata-rata, mereka memakannya tanpa nasi. Berbeda dengan kita. Lalu, juga saya bisa mengerti beberapa kata-kata dari bahasa Korea, seperti pali-pali, aigo, cinca pedas, dan sebagainya. Ya, setidaknya, berawal dari kebucinan, bertambahlah pengetahuan saya.

Dampak buruk Drakor bagi saya adalah jreng jreng. Kalau ceritanya bagus, saya jadi marathon tuh, bisa-bisa 4 hari lamanya saya tidak ngapa-ngapain alias Drakor terooos. Memang seringnya saya memilih Drakor yang sudah tamat, bukan yang ongoing. Karena ya tentu saja tidak mati penasaran dan bisa marathon terus sampai seriesnya selesai dengan cepat dan dengan segera saya bisa memperoleh intisari senyum-senyum sendiri di malam hari, aigoo Kim Sajang. Nanti, senyum-senyum berduanya ketika saya bertemu dengan Vivi. Makan es gim bersama dan juga berfoto untuk keperluan kenang-kenangan dan pamer di sosial media. Eh, tapi saya cetak juga deng. Tentu saja, biar bisa saya lihatin terus-terusan. Dan kalau kangen, video call di malam hari adalah jalan terbaik saat ini untuk bertatap muka melalui jalur internet.

Yauda kalau begitu, nanti lain kali akan saya ceritakan cerita lain tentang kami berdua, sekarang saya mau bervideo call dulu. Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Salam dua kelingking.

--

--

Sebuah seri yang menceritakan tentang perjalanan kisah cintaku dengan Vivi

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store