Nevime
Published in

Nevime

Sabar Juga Bagian Dari Cinta

Seperti menunggu datangnya keajaiban, tapi saya belum pernah nunggu keajaiban, ya anggaplah seperti itu.

Saya merasa jatuh cinta merupakan hal yang tadinya saya ragukan dalam diri sendiri, bukan berarti saya gak bisa mencintai seseorang. Namun, lebih ke-bagaimana agar saya tetap bisa konsisten untuk menjaga hal tersebut. Dan Vivi mengajarkan saya bagaimana untuk — ya setidaknya mendapat predikat “A” dalam hal konsistensi mencintai seseorang.

Layaknya remaja pada umumnya kala itu, cinta datang dan pergi — ara ara. Saya pun juga demikian, namun semakin bertambahnya level menjadi kakek-kakek, semakin berubah juga lah pandangan akan cinta yang saya miliki.

Prosesnya tidak sesederhana membuang sampah pada tempatnya, pun tidak juga serumit memahami tentang hukum dan perpajakan negara. Dari yang tadinya mencari-cari, dari Timur ke Barat — Selatan ke Utara, tak juga aku berjumpa. Oke, saya gak akan nyanyi. Berawal dari keputusan saya untuk mulai aktif di Twitter — hingga bosan mengejar apa yang sebenarnya saya cari (red: pasangan hidup). Kemudian, keberuntungan pun mulai melirik saya, enggak sia-sia saya berkenalan dengan Vivi waktu itu. Karena, dimulai dari sanalah, saya mulai mengerti bagaimana cara untuk tetap selalu mencintai pasangan saya.

Dari awal perkenalan pun sebenarnya saya juga enggak yakin apakah nantinya Vivi juga bisa mencintai saya(?) Dan ternyata, karena intensitas komunikasi kami-lah yang memberikan jawaban tersebut. Bagaimana caranya untuk tetap melihat pasangan kita agar selalu terlihat menarik setiap harinya. Mau bangun tidur, abis keujanan, kepanasan, kepedesan — dan lain semestinya.

Karena pada dasarnya, mungkin, semua manusia memiliki kotak rahasia kecil sendiri dalam hidupnya. Saking rahasianya kotak tersebut, sampai ia sendiri terkadang lupa bahwa ia memilikinya. Bisa jadi kotak tersebut berisi aib, kejutan, rasa malu yang mendalam — atau bahkan pencapaian pribadi yang enggak akan dikasih tau ke orang lain. Sebenarnya cuman masalah waktu saja, sampai ada orang yang tepat dengan senyum terindahnya yang mampu membuka isi kotak tersebut, tanpa perlu password, ataupun gergaji mesin.

“Lucu banget kotaknya, dibungkus pake kertas kado gambar Sate Ayam, lho(?)”

Dan kebetulan, kotak rahasia saya berhasil dibuka sama Vivi. Dari yang tadinya saya simpan — hingga saya merasa, oh ini waktu yang tepat untuk memberi tahu rahasia hidup saya. Apakah Vivi dapat menerima kekurangan yang saya miliki? Atau akan berbalik layaknya senjata makan tuan?

Saya kaget, ya gimana enggak, orang saya udah terbiasa dengan penolakan, justru karena Vivi menerima apa yang selama ini menjadi kekurangan saya, rasa ketidakpercayaan diri saya yang paling tinggi. Makanya saya kaget. Dan dari situ, saya bertekat akan mencintainya sebaik yang saya bisa. Meminimalisir segala hal yang membuatnya sedih.

Setiap kali saya ingin melakukan hal bodoh (red: membuat Vivi sedih) saya selalu teringat bagaimana baiknya ia kepada saya, bagaimana rasa pedulinya yang begitu tinggi — menerima dan mengomeli saya sebaik mungkin, terlebih, keluarganya pun juga begitu amat baik terhadap saya. Semua hal tersebut selalu membuat saya senang, senyum, kangen — bucin terus-menerus, deh.

Cinta itu enggak buta, lha wong saya tau kalo Vivi cantik banget. Mana cantiknya tiap hari lagi. Rasanya ingin membeli jantung cadangan, karena yang sekarang saya gunakan sudah mulai meluber dengan rasa hangat akan cinta, anzai.

Karena rasa sabar itulah yang membuat saya bisa bertemu dengan Vivi. Dan karena rasa sabar juga, saya tetap mencintainya seperti ketika awal saya jatuh cinta dengannya, enggak deng, nambah terus sepertinya. Deg-deg-an, senyum-senyum — bahagia pokoknya. Ya sedihnya juga ada, toh itu hal yang sangat normal dalam menjalin hubungan dengan pasangan. Tapi menurut saya hal tersebut tidak perlu diceritakan ke publik, untuk apa orang lain ingin tau hal yang tidak ia perdulikan? Karena lebih baik menyebarkan rasa cinta daripada rasa benci. Cinta bisa menjadi abadi, tapi kebencian akan tetap susah untuk dilupakan.

Oiya, saya mau pamer, kemaren habis jalan-jalan di Bandung, ya meskipun Bandung (macetnya) menyebalkan, melelahkan, ruwet pokok e. Tapi kami berdua begitu menikmati perjalanan singkat tersebut. Mulai dari Kawasan Punclut, Jalan Braga — hingga wisata kuliner di Paskal. Kami bersenang-senang.

Foto sama Vivicantik
Semoga nanti bisa vacation lagi bersama-sama di berbagai belahan dunia.

Baiklah kalau begitu, seperti biasa, ini adalah paragraf penutupan. Selalu dan semestinya, Vivi tetaplah selalu menjadi pasangan hidup yang tercantik. Senang rasanya memiliki pasangan yang bisa memahami apa yang saya alami. Teruntuk kamu, sayangku Vivicantik. Kamu akan selalu cantik, setiap hari bertambah cantik, cantik, cantik, dan cantik — aku sayang kamu ❤.

--

--

Sebuah seri yang menceritakan tentang perjalanan kisah cintaku dengan Vivi

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store