Jaya Jaya Wijayanti — Kemenangan yang Membawa Kesejahteraan

Mungkin kita sering bertanya, mengapa masih terlalu sering dihantam oleh emosi-emosi reaktif kita, tidak ‘berdaya,’ apalagi menghentikannya, menghindar pun hampir tidak bisa. Padahal kita sudah benar-benar berusaha dengan berbagai cara, misalnya banyak berbuat ‘kebajikan,’ sudah banyak belajar, dsb.

Emosi-emosi reaktif seperti marah, rasa tak berkecukupan, ‘selalu ingin,’ dsb membuat kita gundah, membuat hidup kita penuh pergulatan, makanya digunakan istilah bisa (racun — poison). Seperti racun yang larut dalam tubuh kita melalui apa saja, begitu juga emosi reaktif ini sudah begitu “mendarah daging,” membentuk pola-pola jaringan yang pekat dan menyeluruh, yang penampilannya muncul hampir di segala aktivitas kita sebagai kebiasaan dalam berpikir, berkata dan bertindak.

Begitu kuatnya pola jaringan ini, sehingga semuanya tampak tidak lagi hanya “biasanya” begitu, tapi malah sudah “seharusnya” begitu — otomatis. Dan “keharusan” ini punya 2 landasan dasar:

  1. Harus didapatkan: harus yang menguntungkan, harus yang membawa kesenangan, harus yang memberi kepuasan, harus yang sesuai dengan pendapat kita, dsb, atau sebaliknya
  2. Harus ditolak, dijauhi: harus yang tidak menyebabkan kejengkelan, harus yang tidak membosankan, dsb.

Intinya: 1) Yang saya sukai, karena menguntungkan, dan 2) Yang tidak saya sukai, karena merugikan. Tentunya banyak juga yang tidak kita hiraukan di luar kedua kubu ini, karena kita anggap tidak akan terlalu banyak mempengaruhi hidup kita. Makanya, di kehidupan yang begitu dilandasi dengan pekatnya pola kebiasaan, kita akan berjuang habis-habisan untuk selalu mendapatkan 2 keharusan tadi. Kalau 1, saya mau, kalau 2, saya tolak. Kalau kamu setuju, kamu teman saya; kalau tidak setuju kamu bukan teman saya, bahkan musuh.

Dan ini semua ada alasannya/dasarnya: semuanya mengenai “Aku, Saya, Ambo, Gua.” Kita biasanya salah total dalam pengertian tentang ‘Aku’ ini. Kita anggap “Aku” ini benar-benar ada, solid. Dan ‘Aku’ yang kita anggap benar-benar ada inilah yang paling penting, yang “harus” selalu mendapatkan apa yang dimauinya. Selalu ingin semuanya sesuai dengan keinginan kita, tanpa menghiraukan orang lain.

Sebetulnya inilah yang benar-benar bikin repot, karena ini membuat kita selalu memiliki “pendapat” dan hanya pendapat kita yang selalu “benar” dalam segalanya. Yang lain salah, tidak benar. Mempertahankan pendapat kita untuk selalu benar ini yang membuat kita gundah dan terombang-ambing. Kalau banyak orang yang setuju, kita senang sekali, minta terus dipuji, ketagihan, tetapi kalau banyak yang cuek, bahkan mengkritik, kita jadi marah, kecewa, kehilangan kepercayaan diri, meratap, sedih, rasanya hanya mau lari dan menghindar. Cara berpikir dan mengambil sikap bahwa PENDAPAT kita selalu harus MENANG dalam segalanya ini sangat-sangat sukar untuk diubah. Ini yang memicu emosi reaktif kita. Ini penyebab penderitaan.

Dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, butuh BUDIDAYA untuk menanggulangi sesuatu yang sudah mendarah-daging seperti ini. Pertama harus kita sadari, bahwa selama kita mempunyai pendapat, tentunya semua orang juga mempunyai pendapat. Jadi pendapat akan selalu beda, dan hanya ada satu cara untuk menghargai perbedaan itu, yaitu dengan tidak memperbandingkan. Biarkanlah keindahan setiap bunga pendapat itu mekar ditangkainya masing-masing dengan segala ragam, bentuk, warna maupun harumnya.

Tentu saja kita boleh berpendapat atau mempunyai pendangan tapi jangan bersikukuh dengan pandangan kita sendiri, menganggap pandangan kita yang paling benar dan pandangan yang lain salah. “No-fixed-view” adalah attitude, sikap yang terbuka, penuh pengertian dan fleksibilitas yang tujuannya adalah agar memungkinkan timbulnya keyakinan untuk bertindak yang terbaik. Di sini kita punya kejernihan untuk melihat bahwa semua pendapat, pandangan yang muncul merupakan respons dari kondisi yang dihadapi.

Yang kedua, kebiasaan bahwa kita yang paling benar, harus menang dalam semua debat, itu ternyata sama sekali tidak dibutuhkan, tidak membantu, malah bikin runyam. Itu hanyalah ego-trip yang biayanya besar. Tidak ada keuntungannya, malah besar kerugiannya. Coba kita lihat, seandainya kita menghargai bahwa semua pendapat itu valid untuk masing-masing orang, kita dengar dan kita ulas. Kalau pun kita tidak setuju, paling tidak kita belajar dan tahu bahwa ada pendapat lain. Kalau disetujui, kita pun punya waktu untuk cross-check lagi, mengapa disetujui. Mungkin alasannya beda. Jadi selalu ada hikmahnya.

Kalau kita selalu mempunyai pendapat yang sudah ‘fixed dalam segala hal, siapa pun yang lain pendapatnya, kita anggap bodoh, kasihan, jelek, musuh, dsb. Ini akan langsung membuat kita gundah, selalu tidak nyaman — meskipun tujuan kita mulia, mau membantu, dsb. Kita hanya senang kalau mereka setuju, tapi akan jengkel jika mereka tidak setuju, apalagi yang membantah.

Jadi praktisnya, seandainya kita menghadapi orang yang beda pendapat dan bersikukuh bahwa dia benar, orang itu ‘normal.’ Kalau kita bersikeras bahwa orang itu gendeng dan pendapatnya salah, malah kita yang tidak fair dan meskipun normalnya begitu, malah kita yang ‘bodoh’ dan gendeng karena lupa bahwa seperti kita, semua orang punya pendapat sendiri-sendiri yang dianggapnya itu yang benar.

Maka untuk mencegah kegundahan yang sebetulnya tidak perlu terjadi ini, hargailah pendapat orang lain. Baik yang sama, terutama yang beda, yang ‘menghina,’ yang ‘merugikan.’ Itu hanya pendapat mereka sebelum kita setuju dan menjadikan itu pendapat kita.

Jika ada yang ngotot tentang ini atau itu, paling baik adalah didengarkan, diambil hikmahnya, tidak perlu setuju kalau memang tidak perlu disetujui. Daripada adu mulut, adu jotos, dsb, lebih baik kita ucapkan: “Ah, ya, mungkin kamu benar! You are most probably right!” End of argument!

Ada kata-kata dalam Bahasa Jawa: “Mbok ojo golek menange dewe! Kalau bisa, jangan selalu ingin menang.” Kemenangan belum tentu membawa hasil yang diharapkan. Biarkan yang lain saja yang menang, paling tidak, ini tidak akan menimbulkan kegundahan, bahkan akan membawa rasa damai di hati, perasan lega yang sudah tak lagi dibebani keharusan untuk menang.

Dengan memberikan kemenangan buat yang lain, semua menang, Jaya Jaya Wijayanti, kemenangan yang membawa kesejahteraan.

***

#Nisvasati (to Inspire)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.