Ada Kalanya, Kita Perlu Berbincang pada Hal-Hal Brengsek

Nukilan buku “Kabut Kota| Ichsan Saif”

Gambar dari sini.

Dunia tak hanya putih, Kawan.

Yang putih tak seputih yang diingin. Yang hitam tak sehitam yang dikira. Dalam putih tersimpan hitam. Dalam hitam tersimpan putih.

Namun kebenaran tetaplah putih. Kejahatan tetaplah hitam. Manusia berwarna kelabu. Entah kelabu dengan kadar hitam lebih memekat, atau kelabu dengan kadar putih lebih melimpah.

Kau pilih yang mana? Aku harap kau memilih menuju putih, sepertiku.

Aku baru paham, untuk memahami hidup secara utuh — seseorang perlu berdialektika dengan dua sisi. Sisi baik namun juga sisi buruk hidup. It’s kind of balance game.

Terlalu berkubang dalam lingkungan kondusif, takut menyibak apa di luar — dengan alasan ‘mereka berbeda’, membuat kita buta. Tak paham realita dan mudah menghakimi.

Terlalu berkubang dalam lingkungan nirkondusif berpotensi menghilangkan harap, sinis meningkat, mudah putus asa terhadap rahmat Yang Maha Kuasa.

Aku ingin benar. Namun aku harus belajar apa yang tidak benar. Apa asal muasal dari keburuk-rupaan nasib tiap-tiap manusia?

Kelamnya hidup seseorang dan asal muasalnya, menjadi petunjuk dalam mendeteksi hasrat dan indikasi tersembunyi dalam diri. Ia menjadi pencegah pula agar tak terjadi kekelaman serupa dalam hidupmu.

Kau menjadi tahu jenis-jenis pemicunya. Kau juga kian bersyukur akan hidupmu kini. Kau bahkan diberikan kesempatan untuk memperbaiki, kali ini dengan jiwa yang lebih empatif.

Seperti aku, kerap kali diberikan preview singkat mengenai keadaan rumah tangga tak ideal, kemiskinan di jalanan, perselisihan antar lembaga, dan lain sebagainya.

Kejepret tangan sendiri.

Aku kembali diingatkan untuk bersyukur, untuk berempati, untuk menepi, tatkala membaca novel Kabut Kota karya kawanku, Muhammad Ichsan Saif.

Baru dua bab yang kubaca (habis, buku sebelumnya belom kelar-kelar dibacanya, hiks), namun kisah Ajai si anak jalanan, beserta ibunya yang suka memaki, dan Bibi Nur tambun yang mengasuhnya, kemudian Bang Bokir sebagai bos semenjak ia balita — membuatku banyak-banyak bersyukur.

Bahwa aku tak pernah dimaki, seperti Ajai.
Aku tak susah-susah mencari nafkah ketika masih kecil.
Aku tak pernah ditendang dari angkutan umum karena aku menjijikkan. 
Aku tidak harus nge-lem tatkala ingin bersenang-senang, seperti Adul kawan Ajai.

Satu hal yang ku iri pada Ajai adalah, bisa bermain gitar semenjak kecil dengan cekatan. He he.

Gaya realis serta tema yang melekat dalam novel ini, mengingatkanku pada sebuah cerpen karya Ahmad Tohari, “Mata yang Sedap Dipandang”. Sama-sama menceritakan ihwal pejuang jalanan.

Aku suka karena begitu apa adanya mereka bercerita (Pak Ahmad dan Ichsan).

Apa sih yang kau bayangkan ketika melihat pengamen jalanan, pedagang asongan, serta peminta-minta? Lewat begitu sajakah, seperti aku yang tak acuh, lalu sibuk mengurusi diri?

Kejepret tangan sendiri.

Sedang kedua penulis mampu menjeda lalu-lalang hidup, memindahkan fokus pada kehidupan yang termarjinalkan, kemudian meramu narasi yang sungguh realis.

Kisah surealis memikatku karena membuat akalku berpikir mengenai makna dibalik makna. Sedang kisah realis memincutku lantaran memaparkan keseharian yang tampak remeh, terlupakan, dengan jujur dan apa adanya.

Kau seperti diberi ruang untuk berbincang dengan hal yang tak putih dan tak hitam. Namun, kau diberi ruang untuk berbincang pada realita yang kadang kelabu tua, dan kadang kelabu muda. Pada hal-hal yang dipandang ‘brengsek’ dalam benak kita.

Bukan semata-mata ditakpedulikan, atau sebaliknya — terlibat langsung di dalamnya dan dirayakan tak semestinya.

Meramu keseimbangan dalam mendalami hidup. 
Rasanya melegakan.***