Cavs vs Warriors Episode III: Collision Course

Cavaliers dan Warriors akan bertemu di Final NBA untuk yang ketiga kalinya dalam tiga tahun terakhir. Siapa yang akan memenangkan series bersejarah ini?

Thufeil Muhammad
Jun 1, 2017 · 22 min read

Finally.

Setelah melewati 82 game di regular season dan tiga ronde playoffs di masing-masing wilayah, yang ditunggu-tunggu oleh semua fans NBA di seluruh penjuru tanah air akhirnya datang. Di tanggal 1 Juni 2017 waktu Amerika nanti, Golden State Warriors bakal bertemu dengan musuh bebuyutannya, Cleveland Cavaliers, di ajang Final NBA musim 2016–17. Pertemuan ini adalah yang ketiga kalinya mereka bakal bertemu di ajang penghabisan musim NBA setelah dua musim sebelumnya mereka beradu dengan hasil satu trofi untuk masing-masing tim.

Sebelum masuk ke pembahasan Final NBA musim ini, ada baiknya kita berdoa dulu demi kelancaran berlangsungnya Final NBA nanti, dan semoga semua partisipan Final NBA nanti dijauhkan dari musibah cedera baik yang berat maupun ringan. Amin.

Kecuali untuk Kevin Durant. Karena pindah tim untuk ngebentuk superteam bakal ada karmanya. (Just kidding, I do not want to see KD get hurt in any type of way just for the sake of my entertainment… Or do I?)

Warriors vs. Cavaliers ini matchup yang paling seru di NBA selama tiga tahun terakhir. Pertarungan mereka selalu menjadi tontonan menarik dan produk lapangan yang dihasilkan selalu menjanjikan. Mereka benci satu sama lain (di lapangan, setidaknya) dan sama sekali ga pengen dikalahin oleh satu sama lain. Supaya lebih terasa rivalry-nya, gue akan ceritain singkat sedikit backstory dari rivalitas mereka. Kalau lo mau langsung loncat ke analisis lapangan, silahkan scroll beberapa kali ke bawah.


How Did We Get Here?

Dimulai dari tahun 2015. Saat itu Warriors melejit di Barat abis menangin 67 game dimotori dengan breakout season dari Steph Curry dan Klay Thompson serta didukung dengan scheme baru yang diterapkan oleh Steve Kerr, Head Coach baru dari Warriors. Mereka pun melenggang ke seed pertama di Barat dengan mudah. Di Timur, LeBron James mutusin buat balik lagi ke Cleveland buat bergabung sama Kyrie Irving, punggawa Cavs saat itu. James juga mendorong manajemen Cavs untuk men-trade untuk Kevin Love, yang menghasilkan Big Three di diri James, Irving, dan Love. Cavs pun berhasil dapetin seed ke-2 di Timur.

Cavs dan Warriors ketemu untuk pertama kalinya di Final NBA 2015. Sayangnya, Cavs ga beruntung di playoffs musim itu karena Kevin Love cedera abis di series sebelumnya. Irving juga ga hoki karena dia cedera lutut di game 1 Final NBA. James akhirnya tinggal sendirian mati-matian ngadepin tim juggernaut Warriors. Eh lupa, James ga sendiri. Dia ditemenin sama Matthew Dellavedova, .

Meski sendirian, James dengan hebatnya masih bisa ngambil dua game lawan Warriors. Tapi begitu Warriors masukin Draymond Green jadi starter dan membentuk lineup of death dimana Draymond main di posisi center dari awal game. Cavs ga bisa nge-counter dan akhirnya menyerah dalam enam game. Warriors akhirnya jadi juara NBA musim itu. Meski juara, masih banyak yang belum percaya sama kedigdayaan Warriors karena Cavs ga diperkuat dua all-star mereka, yaitu Irving dan Love.

Di tahun 2016, musim berikutnya, James dkk. pengen ngebuktiin kalo Warriors kemarin jadi juara karena Irving sama Love cedera aja. Cavs ga pake lama langsung dapet seed pertama di Timur. Di sisi Barat, Warriors ngerubah gameplay difficulty di settings mereka jadi easy dan langsung menangin 73 game ngalahin rekor tim nya Michael Jordan tahun 1996. Rematch antara Cavs dan Warriors pun serasa ga terbantahkan lagi.

Di jalan menuju Final, Warriors rada terseok-seok dikit di Final Barat lawan OKC Thunder yang dipimpin oleh… you guessed it, Kevin Durant. OKC ternyata merupakan matchup yang buruk terhadap Warriors. Warriors sempet ketinggalan 3–1 di Final Barat sampe akhirnya . OKC choked dan Warriors berhasil ngebalikin series dalam tujuh game. Series inilah yang nanti akan ngerubah landscape NBA untuk bertahun-tahun ke depan.

Rematch Cavs-Warriors pun terpenuhi. Warriors pun langsung ngegas dengan leading series 3–1 di Final NBA tahun 2016. Lalu… Lalu Warriors jadi songong. Diawali dengan Draymond yang ga bisa kontrol emosi sampe dia di-suspend di game kelima abis . Klay Thompson sok-sokan trash talk pas di interview dan bilang: yang bikin James , yang langsung direspon sama istrinya Steph Curry, Ayesha, di Twitter .

Karena ga ada Draymond, Warriors akhirnya kalah di game kelima. Mereka juga harus kehilangan center Andrew Bogut karena cedera di game tersebut. James dan Irving menggila dengan mencetak masing-masing 40 poin di game itu untuk menyelamatkan musim Cavs. Di game keenam, seorang Steph Curry pun kehilangan kontrol dan harus fouled out diikuti dengan Ayesha Curry LAGI-LAGI marah-marah di Twitter dan menuduh kalo macem ajang hipnotisnya Uya Kuya. Cavs ambil game keenam di kandang.

Dan di game ketujuh, Warriors harus menyerah pada superioritas Cavs. Kombinasi penutup game ketujuh yang historik, yaitu , , dan oleh James, Irving, dan Love menjadi momen signature yang menahbiskan mereka menjadi juara NBA musim 2016. Cavaliers juga menjadi tim pertama di sepanjang sejarah NBA yang berhasil memenangkan series setelah ketinggalan 3–1. Game 7 ini juga ditetapkan sebagai salah satu Best Days on NBA Twitter karena game tersebut menghasilkan meme yang masih melegenda sampai sekarang seperti “ dan “73–9 BUT NO RING”.

Di musim berikutnya, musim 2016–17, setelah diolok-olok di internet sepanjang off-season, Warriors merayu-rayu Kevin Durant dari OKC untuk gabung. Setelah berbagai macam pertimbangan dan rayuan dari banyak tim, KD akhirnya mutusin buat gabung ke Warriors ninggalin OKC. Pindahnya KD ke Warriors ini merupakan kepindahan pemain yang paling kontroversial dalam sepanjang sejarah NBA, setara dengan , karena Durant terkesan menjadi fakir cincin di NBA dan gabung ke tim terbaik di liga yang ngalahin tim lama Durant di playoffs sebelumnya.

Seberapa besar, sih, pengaruh kepindahan Durant ke Warriors ke seluruh NBA? Put it this way: Warriors sebelum ada Durant dipimpin sama MVP dua kali di diri Stephen Curry, yang juga seorang shooter terbaik sepanjang masa. Ada Klay Thompson yang arguably seorang shooter terbaik kedua sepanjang masa. Ada Draymond Green seorang monster defensif yang bisa ngejaga lima posisi di level elit. Sekarang ditambah sama Durant, seorang seven-footer dengan naluri scoring yang super tajam, peraih MVP, dan punya skill defensif yang sangat underrated. Durant adalah pemain terbaik kedua di generasi ini di belakang LeBron James. Ga ada Durant aja Warriors bisa menang 73 game!

Ditambah lagi, pindahnya Durant juga melemahkan lawan Warriors yang paling berbahaya di Barat yaitu OKC Thunder. Durant pindah ke Warriors bisa mensolidifikasi posisi Warriors sebagai tim terbaik di NBA selama minimal lima tahun ke depan. Jangan heran kalau mereka bakal selalu menghiasi Final NBA sampai tahun 2022. Kalo lo fans sebuah tim di Barat selain Warriors, silahkan tunda mimpi tim lo masuk Final NBA sampai Warriors bosen menang.

Walhasil, Warriors sukses jadi villain di NBA. Kalau sebelum ada Durant Warriors punya banyak fans dan sedikit haters, sekarang mereka punya jauh lebih banyak haters dibanding musim lalu, sama kayak pas James pindah ke Miami. Uniknya, mereka nge-embrace imej villain tersebut dan ga peduli dengan pendapat-pendapat orang. Mereka cuma punya satu tujuan yaitu balas dendam ke Cleveland Cavaliers.

Musim ini, Warriors gagal dapetin rekor 82–0 di regular season. Mereka cuma bisa menangin 67 game yang cukup buat dapetin seed pertama di Barat. Di awal musim, Warriors kelihatan masih harus adjust dengan hadirnya Durant. Steph Curry paling kena efeknya karena dia harus sedikit mundur untuk mengakomodir Durant. Namun setelah All-Star break mereka udah klik dan langsung pasang gigi enam menuju playoffs.

Sebaliknya, Cavs ngebut di awal musim tapi kendor abis All-Star break terutama karena masalah cedera di roster mereka dan isu defense yang kurang rapet. Di awal musim, LeBron sempet ngeluh . Sebuah statement yang absurd karena LeBron-lah yang milih pemain-pemain yang ada di Cavs. Cavs pun akhirnya sukses meningkatkan kualitas bench mereka dengan mendatangkan Kyle Korver, Deron Williams dan Andrew Bogut (pemain Warriors musim lalu), trio veteran yang sudah terbukti kualitasnya di NBA. Apesnya si Bogut baru , hahaha.

Sayangnya, Cavs gagal dapet seed pertama di Timur karena gagal bersaing sama Boston Celtics.

Cavs dan Warriors sebenernya ketemu dua kali di regular season. Pertemuan pertama di Christmas Game yang super seru dan menegangkan yang dimenangkan oleh Cavs setelah Kyrie Irving . Game kedua super boring karena Warriors menang blowout.

Sepanjang musim Cavs dan Warriors juga sering memperbarui rivalitas mereka. Dimulai dengan pesta Halloween yang dituanrumahi oleh James yang dihiasi dengan dan . Ada juga pintu di arena kandang Cavaliers yang selalu dibuka buat nunjukin . Ada juga interview yang dilakukan Draymond Green di mana dia . Sungguh rivalitas yang sangat menarik.

Di playoffs musim ini, Warriors sama sekali ga ketemu lawan sepadan. Mereka membukukan rekor 12–0 alias men-sweep­ semua series yang mereka hadapin sampai ke Final. Warriors dikasi perlawanan cuma selama dua quarter di Final Barat lawan Spurs sebelum Zaza Pachulia, center Warriors, dengan (tidak) sengaja .

Cavs menuju Final dengan rekor yang ga kalah apik. Mereka cuma kalah sekali alias punya rekor 11–1. Meski isu defense mereka masih mengganggu di first round playoffs lawan Indiana Pacers, mereka sukses mem-flip playoff switch mereka yang udah mereka gadang-gadang sebelum masuk playoffs. James sukses mencapai Final NBA tujuh kali berturut-turut dimulai dari tahun 2010. Gue ulangin. Selama TUJUH TAHUN terakhir, semua Final NBA selalu menghadirkan nama LeBron James. Incredible.

And here we are! Final NBA 2017 nanti akan menjadi volume ketiga dalam trilogi rivalitas Cavs dan Warriors. Dua tim yang sangat superior dibanding kompetitor-kompetitor mereka, dua tim terbaik di liga, dua tim yang saling membenci, dan dua tim yang berisikan tujuh all-stars dan tiga peraih MVP. Dua tim yang di atas kertas akan menghasilkan produk basket yang kualitasnya sangat tinggi.

Mending dari sekarang lo rencanain cuti sama sick leave lo. Atau mungkin siapin kuota handphone lo buat nonton Final NBA ini di kantor. You don’t want to miss this series.


Matchups, Breakdowns and Analysis.

Tadi kita udah bahas cerita latar belakang rivalitas antara Cavs dan Warriors. Kita tahu dari latar belakang rivalitas ini kalo build-up buat Final NBA kali ini udah cukup intens buat ngehasilin entertainment value yang tinggi. Nah, sekarang mari kita bahas strategi, matchups, X dan O dari series ini.

Di playoffs, namanya strategi dan adjustments itu sangat, sangat, sangat penting. Karena ini series best of seven, setiap game merupakan satu kesatuan tersendiri yang punya identitas masing-masing. Contohnya, sebuah tim bisa di-blowout di game pertama, namun belum tentu di game kedua dan seterusnya hasilnya akan sama, karena setiap tim masih bisa melakukan adjustments untuk nge-counter serangan lawan masing-masing.

Beda sama regular season, di playoffs semua tim cuma prepare strategi untuk satu lawan per series. Jadi semua kelebihan dan kekurangan lawan udah pasti bakal si scouting abis-abisan sama masing-masing tim. Dan series best of seven itu selalu ngomongin tentang matchups. Matchups adalah bagaimana komposisi sebuah tim dan bagaimana identitas suatu tim akan bersanding dengan lawan yang spesifik.

Sekarang, coba kita pecah tiap matchups jadi offense lawan defense untuk masing-masing Cavaliers dan Warriors:

Warriors Offense vs. Cavaliers Defense

Warriors merupakan pemilik offense terbaik di NBA selama sepanjang regular season dengan torehan angka offensive rating 115.6 angka per 100 possessions, . Di playoffs, angka tersebut naik jadi .

Gimana offense Warriors dapetin poin? Simpelnya, mereka punya Curry, Durant, dan Thompson. Tiga pemain yang punya tingkat shooting yang elit. Di NBA jaman sekarang, shooting itu nilainya sangat premium. Shooting yang tajam bisa ngebuka gembok-gembok defense lawan dengan mudah jika dimanfaatkan secara efektif. Nah, skema offense-nya Warriors emang dirancang khusus untuk mengeksploitasi semaksimal mungkin tingginya tingkat shooting di tim mereka.

Warriors bermain dengan 4-out offense (empat pemain di luar garis tripoin) saat awal game dan berubah jadi 5-out offense saat mereka masukkin lineup of death. Kunci dari offense Warriors adalah spacing yang dihasilkan dari gravitasi shooters mereka dan penekanan pada ball movement yang apik.

Begini pengaruhnya kalo lo punya tim isinya snipers: Semakin jago seorang pemain nge-shoot, semakin kuat pula gravitasi yang dia punya. Semakin kuat gravitasi yang dia punya, semakin enggan defender lawan buat ninggalin dia untuk melakukan help defense. Semakin enggan defender melakukan help defense, semakin luas spacing yang dihasilkan suatu offense. Semakin luas spacing suatu offense, semakin sulit buat dijaga. Kalo lo tempel shooters nya terus, lo bakal ngasih sejumlah cutters di paint area. Lo jagain cutters nya, lo bakal ninggalin shooters terbaik ngelempar bom jarak jauh. Tinggal pilih aja, sih.

Set playcall yang diterapin Warriors sebenernya cukup simpel kalo dibanding sama set kompleks macem motion offense-nya San Antonio Spurs, misalnya. Warriors paling sering nge-run off-ball screens (screen yang di set ke pemain yang ga pegang bola) buat Curry, Thompson, dan Durant buat ngebebasin mereka. Di regular season Warriors nge-run off-screens sebanyak 1182 kali, angka tertinggi di liga . Sebagai perbandingan, angka tertinggi kedua dipegang Dallas Mavericks sebanyak 753 kali. Warriors juga sangat efisien nge-run tipe play ini dengan produksi rataan angka 1.04 poin tiap possessions nya, . Di playoffs angka efisiensi nya naik jadi . Off-screens sangat efektif dipake sama Warriors karena play ini bisa ngebebasin snipers mereka dan ngasih mereka kesempatan buat catch-and-shoot. Warriors punya persentase field goal di situasi catch-and-shoot sebesar 42%, . Off-screens memaksa defense lawan untuk membuat keputusan sepersekian detik apakah dia mau go over (lewat depan screen), go under (lewat belakang) , atau switch.

Yang paling berbahaya dari offense Warriors adalah saat mereka ada di situasi transition. Selama regular season Warriors punya berada di situasi transition sebanyak 1678 kali, . Mereka punya rataan angka 1.21 poin tiap possessions di transition. Di setiap defensive rebound atau dapet steal, Warriors di­-push untuk lari buat dapetin poin di transition. Situasi transition ini makanan sehari-hari offense-nya Warriors karena di transition ini defense lawan masih kocar-kacir lari buat defend dan matchups nya sering berantakan. Nge-defend Warriors di transition itu susah nya setengah mati karena banyak shooters bikin bingung mau defend yang mana dan ball movement nya pun masih jalan.

Satu perbedaan signifikan dari offense milik Warriors dibanding musim sebelumnya adalah adanya Kevin Durant. Kalo sebelum ada KD offense-nya Warriors itu ga bisa dibendung, sekarang mereka jauh lebih unstoppable. Selain shooting yang halus dan size yang memungkinkan KD main di tiga atau di empat, KD juga ngebawa elemen 1-on-1 scoring yang sebelumnya ga ada di Warriors. Kalo offense Warriors lagi macet — sebuah momen langka — mereka bisa panggil KD buat nge-score atau ke garis free throw. Durant punya rataan angka 1.05 poin per possessions di situasi isolation, , yang merupakan angka yang sangat efisien. Dapetin poin dari isolations ini penting karena di playoffs, semua play udah di scout abis-abisan sama lawan dan seringnya seorang pemain harus bertumpu sama kemampuan scoring satu lawan satu buat dapetin poin.

Secara keseluruhan, offense Warriors udah komplit dan versatile banget. Tingkat shooting yang sangat eksplosif jadi senjata utama mereka. Warriors bakal set banyak screens, lari-lari di transition, cut dengan tajam, dan kalau itu semua mandek, mereka punya Durant sama Curry yang bisa break pertahanan lawan baik dengan isolation plays atau pick-and-roll. Singkat kata, offense Warriors ini ga bisa sepenuhnya distop.

Satu kelemahan yang ada di offense Warriors adalah mereka sering melakukan turnover. Sepanjang regular season, Warriors punya angka 14.8 turnover tiap pertandingan, cukup untuk menempatkan mereka . Tingginya angka turnover ini karena Warriors emang nekenin ball movement jadi bola sering gerak dan kans bola buat kena steal makin tinggi. Warriors juga secara keseluruhan punya tingkat flair yang lumayan tinggi, terutama di diri Steph Curry. Curry sering ngehibur penonton dengan handles nya dan sering juga no look pass atau behind the back pass ke temennya. Kreatifitas ini justru sering menyebabkan turnover yang ga perlu.

Nah, sekarang gimana Cavaliers bisa nge-defend Warriors? Kalo lo fans Cavs, sebaiknya lo banyak-banyak berdoa. Karena inilah lubang yang belum terbukti bisa ditambel sama Cavs di playoffs. Sepanjang regular season, defense-nya Cavs bermain lumayan jelek dengan angka defensive rating di 110.3 poin per 100 possessions, .

Banyak faktor yang menyebabkan defense mereka jelek, mulai dari cedera-cedera pemain di awal musim, banyak pemain-pemain baru yang perlu adaptasi, dan hangover setelah juara musim lalu. Menurut mereka sendiri, . Jadi selama regular season mereka masih nyimpen tenaga. Cavs di regular season itu ibarat temen lo yang abis kalah main PES atau FIFA pake alesan kalo dia “belom serius” atau alesan absurd macem “gue ga pake baju home, sih”.

Apakah di playoffs ini defense mereka udah meningkat? Ga terlalu. , meningkat sedikit dari 110 poin di regular season. Abis nge-sweep Toronto Raptors kemarin LeBron sendiri bilang kalau . Defense mereka di series lawan Boston Celtics juga udah sangat improve dibanding regular season.

Masalahnya, buat ngeredam offense selevel Warriors, lo harus bermain defense dengan sempurna DI SETIAP POSSESSIONS. Meleng dikit, Curry tripoin. Lengah dikit, Thompson nge-cut. Capek dikit, lo lupa help defense. Komunikasi dalam defense juga jadi poin penting karena Warriors bakal nge-run jutaan screen yang legal maupun .

Cavaliers bisa sedikit memperlambat offense dari Warriors dengan nge­-switch semua screen yang di set sama Warriors. Switch dalam nge-defend pick-and-roll artinya tukeran orang yang dijaga. Ini yang mereka lakukan di Final musim kemarin. Tristan Thompson, center dari Cavaliers, memegang peranan paling penting di defense Cavaliers karena dia akan banyak switch ke guard Warriors. Kemampuan Thompson ngejaga pemain perimeter udah kebukti di final kemarin. Cavs bakal butuh performa yang sama di Final kali ini.

Kendala dari strategi nge-switch semua screen adalah dibutuhkan komunikasi tingkat tinggi di sisi defense supaya berjalan dengan efektif, terutama di off-ball screens. Sedikit miskomunikasi bakal ngehasilin open three atau open layup, hal yang haram buat dikasih kalau mau menang lawan Warriors.

Yang juga perlu diwaspadai oleh Cavaliers adalah bagaimana Kevin Love akan men-defend pick-and-roll dari Warriors. Di regular season, Love kebobolan rata-rata 1.07 poin tiap possessions saat ngejaga pick-and-roll, . Di Final tahun lalu pun Warriors selalu ngincer Love di situasi pick-and-roll. Dan di playoffs kalo lo ga bisa defend pick-and-roll, dijamin lo bakal dieksploitasi abis-abisan sama lawan lo.

Kalo liat pertemuan Cavs dan Warriors sebelum-sebelumnya, Cavs naro Love di Zaza Pachulia buat mulai game. Jadi, bakal menarik buat ngeliat gimana Cavs bakal defend pick-and-roll yang bakal involve Zaza baik itu pick-and-roll Curry-Zaza atau KD-Zaza. Kalo Warriors pindah ke lineup of death, Love bisa ditaro di Iguodala atau Livingston yang bukan sebuah threat di pick-and-roll.

Namun, sepintar apapun Cavs ngumpetin Love, Love harus bisa jaga pemain perimeter di series ini kalau Cavs mau menang. Karena Warriors pasti punya cara buat ngincer Love lagi kali ini. Lagipula, fans Cavaliers pasti masih belom lupa gimana Love ngunci Curry di THE STOP:

Jadi, expect Warriors untuk nge-run skema offense yang sering mereka gunain sepanjang musim, karena itu masih sangat efektif. Expect Warriors buat banyak nge-run off-ball screens, lari di transition, cutting dengan pakem, dengan ball movement yang luwes dan pace yang tinggi. Expect Cavaliers buat nge-counter itu semua dengan bermain fisikal dengan Curry dan Klay Thompson, dan nge-switch semua screen yang di set sama Warriors. Perlu diperhatikan defense Cavaliers yang mana yang akan muncul di series nanti. Defense versi regular season atau versi playoffs yang udah improve? Yang manapun, Cavs harus siap main defense elit selama 48 menit tiap game nya untuk punya kesempatan buat ngejegal Warriors.

Cavaliers Offense vs Warriors Defense

Sepanjang regular season, Cavaliers punya offense terbaik ketiga di liga, dengan angka offensive rating 113.6 per 100 possessions. Di playoffs, offense Cavaliers langsung melejit menuju angka 122.7 poin per possessions, .

Gimana offense Cavaliers dapetin poin? Secara alignment dan personnel, offense Cavaliers sedikit mirip dengan offense milik Warriors, dalam arti Cavs punya banyak shooter dan mengedepankan spacing. Cavs bermain dengan skema 4-out sepanjang pertandingan, dengan terkadang berubah jadi 5-out kalau Channing Frye masuk.

Shooters yang dimiliki Cavs ga selevel elit kayak Curry dan Thompson, tapi Cavs punya jumlah shooters yang lebih banyak dan mereka lebih streaky dibanding Warriors. Kalau Warriors suka ngebebasin shooters mereka pake off-ball screens, shooters di Cavs macem Love, Kyle Korver, J.R. Smith, Iman Shumpert, Channing Frye dan Deron Williams cukup nongkrong aja diluar garis tripoin nunggu kickout hasil penetrasi LeBron atau Kyrie. Cavs punya rataan angka 1.09 poin per possessions di situasi spot-up sepanjang regular season, , sebuah angka yang efisien. Angka tersebut naik signifikan menjadi . Spot-up di sini artinya plays dimana seorang pemain yang nunggu disuatu spot dan kemudian either dia langsung shoot atau drive ke ring tanpa melakukan passing.

Satu elemen offense dari Cavaliers yang sedikit berbeda dari musim lalu adalah bagaimana Kevin Love lebih terlibat. Love punya rataan 19 poin dan 11 rebound per game musim ini, naik dari 16 poin dan 9 rebound dari tahun lalu. Coach Tyronn Lue mengempasiskan kalau di playoffs ini dia ingin lebih melibatkan Love untuk bermain di post dibanding cuma spot-up di luar garis tripoin aja. Di playoffs, Love ngehasilin rata-rata 0.98 poin per possessions di situasi post-up, . Orang-orang lupa kalau sebelum pindah ke Cavaliers, Kevin Love ini seorang post player yang jago banget di Minnesota Timberwolves. Sekarang orang-orang lebih mengenal Love karena shooting nya.

Di playoffs ini, Love juga lagi red hot nge-shoot bola. Love nge-shoot 47.5% dari garis tripoin dengan rata-rata nge-shoot 6 kali per game. Love juga memproduksi rata-rata . Love adalah alasan kuat kenapa Cavaliers punya persentase tripoin terbaik di playoffs ini di angka 43%.

Perbedaan paling kontras antara offense milik Warriors dengan milik Cavaliers adalah bagaimana Cavs menjadi sangat-sangat handal dalam basket satu lawan satu. Ini salah satu faktor mengapa Cavaliers begitu eksplosif di sisi offense karena selain punya banyak shooter yang akurat, mereka jago banget main 1-on-1. Kalau Warriors main satu lawan satu dengan Durant seringnya kalau offense mereka lagi macet, Isolation plays justru menjadi play yang paling sering dijalankan oleh Cavs.

Cavaliers nge-run isolation plays sebanyak 1051 kali sepanjang regular season, . Sedangkan Warriors nge-run isolation plays cuma 520 kali. Di situasi isolation tersebut, Cavaliers punya tingkat efisiensi 0.99 poin per possessions, . Di playoffs, Cavs masih jadi tim yang nge-run iso paling banyak, dengan .

Poster boy dari isolation plays di tim Cavaliers adalah point guard andalan mereka, Kyrie Irving. Irving rata-rata main iso 5 kali per game dengan tingkat efisiensi 1.12 poin per possessions, . Di playoffs, Irving menaikkan efisiensi nya menjadi .

Irving terkenal dengan handles nya yang super magis. Ga ada pemain di NBA yang bisa handle bola kayak Irving. Dan karena kemampuannya handle bola itu, dia sangat cocok untuk main iso karena dia bisa ke tempat manapun di court meski dijaga dengan ketat. Dan salah satu tipe pemain yang paling susah di defend adalah pemain yang jago handle bola. Irving juga punya skill finishing di ring yang sangat halus. Kemampuan Irving untuk menyelesaikan plays dengan layup yang dilakukan dari berbagai angle dan jarak merupakan yang terbaik di liga. Kalau jalur buat nge-drive ketutup, Irving masih punya banyak senjata mid-range shooting yang bisa dia pakai buat nge-score. Kemampuan shot-making Irving bakal jadi penentu di series ini.

Did you know? Kyrie Irving percaya kalau .

Lalu Cavaliers punya LeBron James. Yah, apa lagi yang mau dibilang tentang LeBron. Semua orang udah tau kalo LeBron pemain basket terbaik di dunia. Kemarin LeBron baru aja ngelewatin rekor Michael Jordan dalam torehan total poin selama di playoffs sepanjang karir dengan 5995 poin. Salute buat LeBron James, sebuah pencapaian yang luar biasa (if you are one of those people that says “But he did it in more games than Jordan”, please just shut the hell up).

LeBron James ini jantungnya Cleveland Cavaliers. Mau di sisi offense atau defense. James di playoffs musim ini nyetak rataan 32–8–7 per game nya sambil nge-shoot 56% dan 42% dari garis tripoin. Terjemahan: LeBron lagi in the zone.

Seberapa berpengaruh, sih, James sama permainan Cavaliers? Di playoffs musim ini, kalo James lagi di lapangan, Cavs menjadi 19 poin lebih baik dari lawannya. Sebaliknya kalo James lagi di bench . Ga perlu liat statistik juga pasti tau, sih, semua orang. Jelas lah Cavs lebih jelek kalo James di bench. Tyronn Lue juga tau akan ini, makanya dia mainin James 40 menit per game di playoffs musim ini.

Di NBA, ga ada yang bisa ngestop LeBron James. Gue males nyari stats buat ngedukung sesuatu yang semua orang udah tahu. Gue bakal gambarin singkat aja gimana James beroperasi di offense.

Di situasi halfcourt offense, James bakal ngacak-ngacak defense lawan dengan kombinasi kekuatan fisiknya sama kejeniusan otaknya. Lo mau go under di setiap pick-and-roll nya James? Ups sori, James nge-shoot 42% di garis tripoin. Lo mau go over di pick-and-roll? Ups sori, James bakal penetrasi ke ring dan dapetin and-one sambil senyum-senyum. Lo mau trap dia di pick-and-roll? Ups sori, James bakal ngelempar bullet pass andalannya ke open shooter buat nge-three. Lo mau switch pick-and-roll nya? Hahaha, good luck nge-defend James pake guard lo. Lo mau biarin James main iso? Ups sori, James bakal ngelewatin (iya, NGELEWATIN, semudah itu) defender dia dan tinggal pilih deh dia mau baik (kickout ke tripoin) atau mau jahat (nge-dunk di muka center lo). Ditambah lagi kalo di transition lo mesti ngejagain kereta barang bawa bola basket yang mengarah ke lo dengan kecepatan maksimum. Kira-kira gitu lah gambaran James di offense.

Gue lebih seneng liat James passing daripada nge-bully lawannya, sih. Passing nya James itu indah banget buat diliat dan kadang-kadang bikin lo mikir kenapa ada pemain sejenius ini.

Sekarang, gimana Warriors bakal ngeredam offense nya Cavaliers? Warriors itu pemilik defense terbaik kedua di liga selama regular season, hanya kalah dari San Antonio Spurs. Warriors punya angka sepanjang regular season.

Yang membuat Warriors menjadi sebuah tim defensif yang sangat kuat adalah kemampuan bertahan individual dari pemain-pemain mereka. Dari starter mereka, hanya Curry yang bukan seorang defender handal. Klay Thompson adalah shooting guard dua-arah terbaik di liga. Kevin Durant memang ga terkenal defense nya, tapi dia punya size dan length yang bisa ngeganggu lawannya dengan efektif dan Durant sangat underrated di defense. Draymond Green kandidat defensive player of the year, bakal kita bahas Draymond nanti. Zaza Pachulia walaupun ga punya bakat offense dan sedikit undersized, punya insting defense yang bagus dan selalu berada di tempat yang benar dalam bertahan.

Di bench, Warriors masih punya Iguodala yang terkenal jago ngunci pemain perimeter dan kompeten dalam nge-defend post-up. Ada juga Livingston seorang point guard dengan size 6’7’’ yang bisa guard banyak posisi. Kultur defensif mereka juga sangat harmonis dan konsisten setiap malam dengan Draymond Green sebagai kapten defense mereka yang selalu vokal.

Warriors adalah pionir tren defense beberapa tahun ke belakang dimana tim-tim NBA semakin mendorong defense mereka untuk melakukan switching di semua screen. Karena size dari pemain perimeter Warriors hampir sama, switching menjadikan Warriors kebal di semua serangan yang mengandalkan screen seperti pick-and-roll atau off-screens. Warriors cuma perlu ngumpetin Curry di pemain lawan yang offense-nya paling lemah.

Fulcrum dari defense-nya Warriors ini adalah Draymond Green. Draymond udah dua kali masuk tim ­all-defense dan selalu kandidat kuat Defensive Player of the Year setiap musim. Draymond ini terkenal karena bisa jaga lima posisi dengan intensitas tinggi di lima-limanya. Draymond cukup pelit buat ngasih poin di situasi isolation di regular season ini dengan rataan , jadi jangan iseng-iseng ngetes Draymond 1-on-1 kecuali lo LeBron atau Kyrie.

Di situasi post-up, Draymond juga terkenal kikir buat ngasih poin dengan rataan , menarik buat dilihat gimana Kevin Love bakal nyoba nge-score di post-up kalo dia lagi dijaga Draymond. Draymond juga terkenal sebagai .

Meski sedikit undersized untuk main di center, Draymond punya length dan mobility yang impresif dan insting rim-protection nya juga ga main-main:

Did you know?: Draymond Green memipin liga di statistik teriak “AND ONE!!!”. Posisi kedua diisi Russell Westbrook dari OKC Thunder.

Kelemahan dari defense Warriors ini, sayangnya, ada di Steph Curry. Curry adalah celah sempit di benteng pertahanan Warriors yang tebal. Curry sebenernya ga jelek-jelek banget main defense. Curry lumayan aktif dan sering dapet steal. Tapi karena dialah defender terlemah di antara starter Warriors, otomatis dia bakal sering diincer sama Cavaliers. Karena Warriors sering switch semua screen, Cavaliers cukup suruh James bawa bola dan minta pick dari pemain yang dijaga Curry, kemungkinan besar J.R. Smith, dan Curry bakal nge-switch ke LeBron dan LeBron bakal ngiler ngeliat dia dijaga Curry. Bukan sebuah kebetulan game-winner yang dimasukkan oleh Irving di game 7 Final musim lalu dilakukan di depan muka Curry.

Jadi, expect Cavaliers untuk nge-involve Kevin Love di awal-awal game dengan ngasih Love sentuhan di post-up, kemungkinan Draymond bakal jaga LeBron, jadi Durant bakal jadi penjegal utama Love. Expect Kyrie Irving untuk jadi agresif di pertengahan pertandingan di berbagai macam situasi offense, kemungkinan besar Kyrie bakal dihadang sama Klay Thompson sepanjang game buat mencegah Kyrie jadi ganas. Expect juga LeBron James buat nge-eksploitasi Curry di switch pick-and-roll, bakal menarik untuk dilihat counter seperti apa yang dilakukan Warriors.


X-Factor

Di Final NBA, selalu ada role player yang step up untuk meningkatkan level permainan timnya. Kita pasti masih inget gimana Danny Green di Spurs dan juga Shane Battier jaman dia di Miami Heat, bagaimana mereka ngerubah jalannya series dengan permainan mereka. Gue juga udah bilang kalau semua kekuatan tim udah di scout abis-abisan sama masing-masing tim. Jadi, role player mana yang bermain lebih baik bisa menjadi penentu siapa yang bakal jadi juara.

Cavaliers: Tristan Thompson

Tristan Thompson mesti nge-maintain intensitas permainan dia pas di Final Timur ngelawan Boston Celtics. Skill utama yang dimiliki Thompson adalah kemampuan offensive rebound nya. Di series melawan Celtics, Thompson menjadi momok untuk frontcourt Celtics karena Thompson sangat sulit di box out. Frontcourt nya Warriors juga ga tergolong tinggi kecuali untuk seorang JaVale McGee. Mengontrol jalannya rebound bisa menjadi faktor penting yang bisa memindah momentum series ke arah Cleveland.

Warriors: Andre Iguodala & Mike Brown (Asst. Coach)

Iguodala jadi MVP Final dua tahun lalu karena kinerja nya dalam men-defend LeBron serta memasukkan banyak open tripoin. Di playoffs musim ini, Andre masih terlihat kurang dari 100 persen karena masalah cedera. Warriors butuh Andre untuk menjadi pemain kelima yang penting di komposisi lineup of death mereka yang turun di momen-momen terakhir game. Karena kalau ga ada Iguodala, Warriors bakal sulit buat bertumpu sama Livingston yang ga bisa shooting jarak jauh, Ian Clark yang kurang pengalaman dan Matt Barnes yang udah ketuaan

Warriors juga ditakutkan tidak akan ditemani oleh Head Coach mereka, Steve Kerr, yang belum menemani Warriors sejak first round melawan Portland Trailblazers. Ini bisa jadi faktor penting dalam masalah in-game adjustments yang akan dilakukan oleh Warriors. Mike Brown harus bisa membuktikan dia pantas meng-cover Steve Kerr.


Who Will Win?

Kita udah bahas panjang lebar untuk matchups Final NBA musim ini, mulai dari backstory rivalitas mereka sampai analisis strategi di lapangan. Sekarang pertanyaan paling pentingnya adalah:

Siapa yang bakal menang?

Secara pribadi, sebagai fans NBA, gue ingin LeBron menang. Karena gue suka pemain hebat di reward dengan achievements yang hebat juga. Sebagai fans gue juga pengen kalo series ini berjalan sampai tujuh game. Mungkin bakal sulit ngalahin Final tahun lalu, tapi anything can happen in the playoffs.

Tapi kalo dilihat secara objektif, gue masih belom kebeli sama defense-nya Cavs selama di playoffs ini. Mereka juga belom ketemu tim dengan offense se-eksplosif Warriors di sepanjang playoffs. Gue ga yakin mereka bisa ngestop Warriors dengan tambahan Kevin Durant di musim ini. Tapi kalau ada tim yang bisa ngalahin Warriors empat kali, Cavaliers lah yang paling mungkin.

Lagi-lagi, anything can happen in the playoffs.

Jadi, prediksi gue:

Warriors in six. Durant Finals MVP.

See you in game one.


OFFBEAT.

Inactive

Thufeil Muhammad

Written by

Expert Analyst sans the expertise

OFFBEAT.

OFFBEAT.

Inactive

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade