Menguji kehebatan Scopus

Mencari hubungan kualitas air dan diare

Selamat sore

Dari banyak tulisan saya sebelumnya di blog ini atau di Medium-Open Science Indonesia, saya terkesan alergi dengan Scopus dan WoS. Dalam beberapa adu argumentasi pada banyak forum, stigma “anti Scopus” selalu menempel pada saya.

Padahal yang benar adalah saya tidak anti Scopus apa lagi alergi. Kenapa? Karena saya hampir setiap hari mengakses database tersebut, bersama-sama dengan database yang lain.

Dalam tulisan ini, saya akan memenuhi janji saya untuk menyampaikan kehebatan Scopus sebagai database makalah ilmiah.


Pendahuluan

Tulisan ini adalah bagian dari pekerjaan kami (saya dan tim dari University of Wollongong dan University of Sydney) selama di Sydney, yakni menelaah tentang relasi antara air sungai dan air tanah dari sisi kualitas, serta menghubungkan antara kualitas air (water quality) dengan penyakit. Indikator penyakit yang kami gunakan adalah penyakit diare (diarrhoea).

Di bagian awal setiap riset, studi literatur adalah yang utama, tujuannya agar kita memahami posisi penelitian yang telah dilakukan, apa yang telah dipahami, apa yang belum dipahami, dan “lubang” yang mana yang akan kami isi sebagai output dari penelitian.

Kegiatan yang kami lakukan di atas dinamai “literature review”. Seperti juga telah ditekankan oleh Dr. Ferry Iskandar dalam paparannya “Meningkatkan Reputasi Melalui Publikasi” kemarin (19 April 2017) di Seminar Nasional Iptek LPPM ITB(di sini).

Apa tujuannya?

Tujuan kami adalah untuk mencari hubungan antara sumber air, kualitas air, proses penanganan air hingga jadi makanan yang siap konsumsi, serta angka penderita penyakit diare.

Apa yang kami lakukan?

Memilih database

Di sinilah, Scopus, WoS, Google Scholar, Pubmed, Medline, DOAJ, dan banyak database lain berperan. Masing-masing bidang ilmu akan memiliki pilihan database utama yang akan menjadi sumber rujukan. Dalam tulisan ini kami akan menggunakan database Scopus, WoS, Google Scholar, DOAJ, dan Indonesian Publication Index (IPI).

  1. Database Scopus dan WoS digunakan untuk menjaring makalah berbahasa Inggris,
  2. Database Google Scholar dan DOAJ untuk menjaring kombinasi makalah berbahasa Inggris dan Indonesia yang diterbitkan oleh jurnal luar negeri (JLN) dan dalam negeri (JDN),
  3. IPI digunakan untuk menjaring makalah berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris yang diterbitkan oleh JDN.

Piranti lunak (P/L) yang saya gunakan

Kami menggunakan P/L reference manager Zotero yang free dan open source. Zotero akan digunakan untuk menghimpun berbagai referensi yang telah diunduh. Di dalamnya akan muncul koleksi makalah dan sub koleksi makalah, berdasarkan topik. Kami juga akan menggunakan P/L daring CiteNetExplorer dan VosViewer.

Bagaimana cara kerjanya?

Kami menggunakan beberapa database di atas untuk mencari makalah dengan berbagai variasi kata kunci sebagai berikut:

  1. Lokal: intitle(Cikapundung); intitle(Bandung); intitle(Bandung) (AND) (water quality); intitle(Bandung) (AND) (water quality, disease); intitle(Bandung) (AND) (water quality, diarrohea)
  2. Global: intitle(water quality) (AND) (diarrhoea)

Hasil pencarian kemudian disimpan sebagai file berformat csv (comma separated value).

File csv tersebut kemudian diimport ke dalam P/L Zotero, CiteNetExplorer dan VosViewer.

Berikut hasilnya

Dalam ujicoba ini kami gunakan kata kunci `intitle(water quality) (AND) (diarrhoea)`, menghasilkan:

  • Scopus: 663 dokumen
  • WoS: 10 dokumen (filter `title` diaktifkan), 199 dokumen (filter `topic` diaktifkan).
  • Pubmed: 77 dokumen (sangat rasional karena mayoritas jurnal yang diindeks oleh Pubmed adalah jurnal bidang kesehatan.
Diagram pencarian makalah dan hasilnya (n = jumlah makalah)

Dari sini, Scopus terlihat lebih unggul dari sisi jumlah dokumen yang berhasil ditemukan. Dengan kata lain, jumlah koleksinya lebih banyak dibanding WoS.

Kemudian bila kita gunakan fitur `analyze results`, Scopus lebih unggul juga dibanding WoS dengan menampilkan berbagai grafik dari hasil pencarian. WoS kalah unggul karena grafik yang ditampilkan kurang banyak dibanding Scopus.

Scopus dapat menampilkan grafik data dokumen berdasarkan:

  • Tahun terbit
  • Sumber jurnal/prosiding
  • Penulis
  • Afiliasi
  • Asal negara (dalam hal ini yang dihitung adalah afiliasi semua penulis)
  • Tipe dokumen (makalah, prosiding dll)
  • Bidang ilmu

Berikut contoh hasil tangkap layar (screenshot) untuk data sumber makalah. Dari sini anda dapat melihat jurnal apa saja yang paling banyak menerbitkan makalah pada bidang anda.

Bila dilihat dari afiliasi penulis, maka London School of Hygene and Tropical Medicine, sebuah universitas di Inggris, adalah yang paling atas.

Namun yang menarik, kalau kita lihat dari sisi negara, maka Amerika Serikat adalah yang paling atas.

Bila dilihat data bidang ilmu dapat kita lihat variasi bidang ilmu yang membahas masalah kualitas air dan penyakit diare. Tidak hanya bidang-bidang yang dekat dengan kesehatan, kedokteran, dan sosial, bidang ilmu kebumian pun turut membahas hal ini.

Hal yang aneh adalah, untuk bidang telaah penyakit diare dan kualitas air, ternyata tidak banyak penulis yang berasal dari negara-negara tropis, setidaknya tidak masuk dalam 10 teratas. Malah yang banyak muncul adalah penulis dari afiliasi dan negara non-tropis.

Kalau anda merasa bahwa visualisasinya terbatas, dan anda ingin menggabungkan data-data dari Scopus tersebut dengan data lain, misal dengan data Bank Dunia, maka anda tinggal meng-copy tabel di kotak kiri pada setiap kategori dan mem-paste nya ke pengolah tabel. Berikut adalah contoh tangkapan layar hasil copy-paste tersebut.

Rapi bukan. Kita tidak perlu lagi mengatur ulang data, sebelum dianalisis lebih lanjut.

Untuk hal ini (pengunduhan hasil, Scopus memang kalah dengan WoS yang menawarkan pengguna untuk mengunduh meta data makalah hasil pencariannya. Perlu diulangi bahwa yang ditawarkan untuk diunduh adalah meta datanya bukan pdf makalahnya.

Menarik bukan? Mudah-mudahan sudah bertambah alasan untuk fanatik kepada Scopus.

Apa yang dilakukan setelah data Scopus didapatkan?

Setelah hasil (daftar makalah) dari Scopus didapatkan. Anda bisa seterusnya melakukan analisis lebih lanjut dari setiap makalah yang telah dimiliki. Gunakan reference manager (misal Zotero) untuk mengelola sumber referensi yang pastinya sangat banyak.

Selain itu, sebelumnya, anda juga bisa memanfaatkan aplikasi lain (Cite Net Explorer dan VosViewer) yang juga gratis dan bebas pakai untuk mendapatkan pola umum dari sekian ratus makalah yang telah anda unduh dan dimasukkan ke dalam Zotero.

Koleksi makalah perlu diekspor terlebih dahulu menjadi *.ris agar dapat diimpor ke dalam dua aplikasi tersebut.

Begini kira-kira hasilnya.

Dari Cite Net Explorer berikut pola sitasi dari 13 makalah dengan judul mengandung kata-kata “water quality” dan “diarrhoea”.

Berikut hasil dari VosViewer memetakan kata-kata kunci dan kata-kata yang paling sering digunakan dalam 663 makalah dalam topik “water quality” dan “diarrhoea”.

Berikut hasil dari VosViewer memetakan para penulis dan hubungan co-authorship antar paper dalam 663 makalah dalam topik “water quality” dan “diarrhoea”.

Yang menarik kalau kata kunci yang sama dicari dengan Google Scholar. Sebanyak 860 dokumen ditemukan dengan 11 dokumen diantaranya mengandung kata “Bandung”.

Berikut visualisasi penulisnya dengan VosViewer dengan menghitung makalah yang tidak memiliki hubungan sitasi.

Berikut visualisasi penulisnya dengan VosViewer dengan hanya menghitung makalah yang memiliki hubungan sitasi.

Berikut visualisasi topik makalah dengan menyertakan topik yang tidak berkaitan.

Berikut visualisasi topik makalah dengan hanya memasukkan topik yang berkaitan.