Readership v quality

Yth rekan-rekan, Indonesia punya banyak surat kabar. Ada yang tahu yang mana yang paling tua? Sebutlah koran K yang berlingkup nasional ya. Pastinya sebagai yang tertua dia punya infrastruktur lebih kuat, oplah lebih banyak, sirkulasi lebih luas, dan tentunya jumlah pembaca yang lebih banyak.

The photographer Pixabay/Alexas_photo CC-0

Waktu berlalu, bermunculanlah surat kabar yang lain (misal R, MI), dalam lingkup nasional (sama dengan koran K di atas). Masih baru, masih berusaha, masih ingin membuat citra tentang beritanya di industri surat kabar. Sebagai pemula, maka dia memiliki infrastruktur yang belum lengkap, jangkauan sirkulasi yang lebih sempit, jumlah oplah lebih sedikit, dan pembaca yang belum banyak.

Waktu berlalu lagi, kemudian ada koran baru lagi (sebutlah RD). Kali ini ia memilih untuk menjangkau daerah yang lebih kecil, se provinsi misalnya. Tentunya peralatan yang dimilikinya tidak secanggih media nasional, oplah lebih sedikit, dan pembaca yang berkarakter lokal.

Waktu berjalan terus, media setingkat RD bertambah. Pembaca makin senang dengan banyaknya variasi.

Pertanyaan saya:

  1. Bila anda akan menulis artikel ke koran K, R, MI. Mana yang lebih sulit? Kira-kira kesulitannya di mana?
  2. Bila anda menulis artikel ke koran RD dan yang setingkat, apakah lantas lebih mudah? Dari mana kemudahannya?
  3. Pertanyaannya saat kemudian media koran di atas semuanya telah memiliki versi daring (online), kemudian anda mencari informasi misal “banjir kota X”, kemudian muncul berbagai berita daring dari semua mesia tersebut, maka yang akan anda pilih. Kebetulan kota X, ada di provinsi Y, dan koran RD ada di provinsi Y.

Coba beri komentar, tentang pertanyaan di atas.