Tentang pengalihan hak cipta

Dasapta Erwin Irawan
Jun 19 · 4 min read

Di tengah sorak-sorai dan gemuruh pembahasan tentang pemeringkatan perguruan tinggi kelas dunia, Anugrah SINTA, perlombaan indeks H dan beberapa isu arus utama di bidang akademik lainnya, ada beberapa hal yang tidak pernah dibahas. Ini adalah salah satunya.

Artikel pendek ini adalah tentang pengalihan hak cipta. Satu hal yang tidak pernah dijelaskan di perguruan tinggi manapun di Indonesia, kecuali saat ada agen pemasaran penerbit komersial menyempatkan waktu mampir ke salah satu perguruan tinggi atau membuat webinar. Itupun semuanya tidak pernah menyampaikan hal ini dengan intonasi yang seharusnya.

Gambar di bawah ini adalah salah satu alinea di laman University of California yang menjelaskan tentang Pengelolaan Hak Cipta.

Image for post
Image for post

Saya rasa belum ada perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki laman khusus tentang Hak Cipta (atau HAKI secara umum). Kalaupun ada, isinya mayoritas membahas paten dan manfaat-manfaatnya. Hal-hal seperti yang ada di gambar TIDAK PERNAH dijelaskan. Bila anda baca alinea tersebut dan anda tidak sedang sakit, maka reaksi pertama mestinya tidak setuju. Klausul ini akan berlaku pada modus penerbitan buku dan makalah secara non OA.

Sementara itu, perlombaan-perlombaan untuk meraih “reputasi” hampir selalu berujung dengan transaksi dengan penerbit-penerbit komersial luar negeri dengan klausul seperti yang tertangkap dalam gambar. Di sisi lain, saat kita ingin OA dihadapkan dengan pilihan:

  1. biaya APC OA yang rendah dan minim reputasi (baca: prestise) dari penerbit dalam negeri dan
  2. biaya APC OA yang mahal atau super mahal tapi maksimum reputasi (baca: prestise)

Opsi manapun yang dipilih, dari sisi pembiayaan negara sebenarnya tidak terlalu berpengaruh. Negara tetap menjadi penyandang dana utama dan tidak akan mendapatkan manfaat maksimum. Siapa yang mendapatkan manfaat terutama finansial secara maksimum, sudah jelas adalah penerbit.

Image for post
Image for post

Lho kenapa? Kan mereka juga memberikan layanan?

Benar. Sekarang mari kita kupas layanan apa saya yang secara umum mereka berikan:

  1. Layanan peninjauan sejawat: bukankah sejawat yang dimaksud adalah sejawat peneliti, bukankah mereka adalah sejawat anda juga. Apa bedanya dengan mengundang mereka secara langsung untuk meninjau makalah anda. Mengapa harus via penerbit jurnal? Saya sudah ratusan kali mendapatkan respon ini. Jawaban saya adalah di situlah kemenangan penerbit atas peneliti. Penerbit berhasil menanamkan persepsi bahwa merekalah yang berhak menjadi Gate Keeper (penjaga gerbang) kualitas. Padahal sebenarnya posisi mereka adalah fasilitator atau media tempat bertemu atau meeting point.
  2. Layanan hosting: ok ini jelas merupakan masalah. Tidak ada dosen di Indonesia yang mampu punya server sendiri. Tapi bukankah perguruan tinggi menyediakannya, walaupun ini khusus untuk perguruan tinggi besar. Untuk dosen di perguruan tinggi yang belum memiliki server yang handal, ada banyak repositori yang menyediakan layanan gratis dan terbuka. Bagi yang memilih opsi jurnal dalam negeri, mereka semua telah mendapatkan pembekalan yang cukup tentang hosting ini. Ada banyak komunitas yang telah memberikan edukasi (misal RJI).
  3. Layanan liputan media: Apa bedanya anda membuat artikel blog seperti artikel ini untuk menjelaskan makalah anda dengan cara lebih populer. Ada banyak platform medsos untuk melalukan ini.
  4. Layanan penyuntingan dan tata letak: semua pasti setuju bahwa jurnal-jurnal terbitan luar negeri punya kualitas penyuntingan dan tata letak yang bagus. Satu hal yang pasti, itu semua bisa dipelajari. Sekarang banyak aplikasi bahkan template yang dapat dimanfaatkan oleh penulis atau pengelola jurnal dalam negeri agar tampilan makalahnya cantik dan mengundang untuk dibaca. Namun demikian saya rasa semua sepakat bahwa itu adalah komponen kosmetik. Bagaimanapun penyuntingan dan tata letaknya, yang paling penting adalah makalah tersebut memenuhi kaidah-kaidah ilmiah.
  5. Banyak yang penerbit mengklaim bahwa layanan mereka menyebabkan makalah lebih mudah dicari dan diakses: mari kita pikirkan baik-baik. Apakah benar? Bukankah selama makalah telah daring dengan metadata yang baik akan mudah dicari ditemukan oleh mesin pencari? Bukankah asal makalah tidak diberi sandi untuk mengakses, maka pembaca bisa langsung membacanya?

Tentu saja lima pertimbangan di atas tidak lantas mengeliminasi peran jurnal secara keseluruhan. Tujuan saya adalah mari tempatkan semua pada posisinya masing-masing. Peran peneliti adalah menyiapkan materi dari bahan baku sampai bahan jadi. Sementara peran jurnal adalah memproses bahan jadi sampai bisa siap disantap.

Apakah bahan jadi tidak bisa disantap? tentu bisa. Di sinilah perlu ada kesetimbangan. Peneliti perlu sadar posisi untuk menyajikan hasil penelitiannya selengkap mungkin dengan analisis setepat mungkin, sedangkan penerbit jangan pula terlalu mendominasi hasil karya peneliti. Penerbit harus sadar bahwa bahan baku proses produksi mereka adalah karya peneliti dan bahwa peran mereka adalah menyajikan agar suatu karya bisa tampil lebih menarik. Salah satu langkah yang saya sarankan adalah dengan memeriksa ketentuan hak cipta dan surat perjanjian hak cipta yang telah dibuat. Lakukan modifikasi untuk menyeimbangkan hak penulis dan hak penerbit.

Bagi perguruan tinggi, mulailah melakukan edukasi kepada para peneliti/dosen tentang hal ini. Ada banyak perguruan tinggi memiliki Fakultas Hukum, tapi cukup untuk membuat hal ini menjadi fokus utama untuk ditangani.

Jadi solusinya apa?

Pilih opsi di atas sesuai hati nurani. Tetapi opsi apapun yang anda pilih, pastikan manuskrip versi draft diunggah ke repositori publik, sebelum anda menandatangani apapun yang diberikan penerbit. Ini dinamai pengarsipan mandiri atau self-archiving atau modus Green OA. Anda perlu berjaga-jaga seandainya anda ternyata harus bertransaksi dengan penerbit yang tidak sadar posisi. Langkah tersebut akan menjamin hak anda atas karya anda sendiri tidak hilang menjadi milik penerbit.

Dari kami di RINarxiv

Good Science Indonesia

Kumpulan tulisan untuk sains di Indonesia yang lebih…

Medium is an open platform where 170 million readers come to find insightful and dynamic thinking. Here, expert and undiscovered voices alike dive into the heart of any topic and bring new ideas to the surface. Learn more

Follow the writers, publications, and topics that matter to you, and you’ll see them on your homepage and in your inbox. Explore

If you have a story to tell, knowledge to share, or a perspective to offer — welcome home. It’s easy and free to post your thinking on any topic. Write on Medium

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store