Perdamaian Etiopia-Eritrea dan Nasib Keluarga yang Terpisah

“Dengan adanya perjanjian perdamaian ini, diharapkan para keluarga yang dipisahkan oleh perbatasan Etiopia dan Eritrea dapat saling bertemu dan mendapatkan akses untuk melakukan perjalanan ke negara satu dengan lainnya. Selain itu, diharapkan pula kerugian yang dialami oleh para warga akibat konflik itu juga terbayarkan dengan adanya perjanjian perdamaian ini.”

Etiopia dan Eritrea merupakan dua negara yang terletak di daratan Afrika. Kedua negara tersebut telah dilanda suatu konflik yang berlangsung lama. Konflik tersebut memutuskan hubungan diplomatik antara kedua negara itu. Putusnya hubungan diplomatik antara mereka menimbulkan beberapa akibat, antara lain ditutupnya kedutaan besar Eritrea di Etiopia dan sebaliknya, ditutupnya penerbangan dari Etiopia ke Eritrea dan sebaliknya serta terpisahnya para anggota keluarga yang tinggal di negara yang berbeda dan tidak memiliki akses untuk saling bertemu. Pada Juli 2018, pemerintahan Etiopia maupun Eritrea berhasil memertemukan anggota-anggota keluarga yang saling terpisah akibat ditutupnya akses untuk melewati perbatasan Etiopia-Eritrea. Kebahagiaan pun tidak dapat dipendam dan rasa haru pun terpancar dari setiap wajah para anggota keluarga tersebut.

Perasaan haru yang diekspresikan ketika bertemu keluarga yang saling terpisah akibat konflik Etiopia-Eritrea (Sumber: ajplus)

Etiopia dan Eritrea dilanda konflik yang berakibat terjadinya perang sejak Mei 1998 hingga Juni 2000. Perang tersebut merupakan bagian dari konflik Tanduk Afrika, yakni konflik antarnegara di Semenanjung Afrika Timur yang mengalami perseteruan berkepanjangan. Perang tersebut dipicu oleh rangkaian insiden bersenjata yang merenggut banyak nyawa pejabat Eritrea di Badme pada 6 Mei 1998. Sejak hal tersebut terjadi, kekuatan militer Eritrea memasuki wilayah Badme dan mulai menyusup di sepanjang wilayah perbatasan Eritrea- Etiopia di utara Trigray Region. Baku tembak pun terjadi di wilayah Trigray antara tentara Eritrea dan polisi milisi di Trigray.

Eritrea telah mengalami perang kemerdekaan menghadapi Etiopia sejak September hingga Mei 1961. Perang tersebut menghasilkan suatu referendum yang berujung pada pemisahan secara damai pada April 1993. Eritrea meraih kemerdekaannya secara de facto pada 24 Mei 1991 dan secara de jure pada 24 Mei 1993. Akan tetapi, wilayah-wilayah perbatasan Eritrea masih diperebutkan, meskipun sudah jelas bahwa Eritrea merupakan suatu negara yang telah merdeka. Wilayah-wilayah yang masih saling diperebutkan oleh Eritrea dan Etiopia antara lain adalah Badme, Tsorona-Zalambessa dan Bure. Perebutan wilayah tidak hanya menjadi pemicu konflik antara Eritrea dan Etiopia. Eritrea dan Etiopia pun tidak luput dalam perseteruan terkait akses transportasi, keuangan dan perdagangan.

Suasana peretemuan sebuah keluarga yang terpisahkan karena konflik Ethiopia-Eritrea (Sumber: ajplus)

Guna memulihkan hubungan diplomatik antara Etiopia dan Eritrea, Perdana Menteri Etiopia, Abiy Ahmed, melakukan pertemuan dengan Presiden Eritrea, Isaias Afwerki, di Asmara yang merupakan ibukota dari Eritrea pada 8 Juli 2018. Kedua pemimpin tersebut menyambut dengan sukacita pertemuan perdamaian ini. Hal tersebut terlihat dari aksi Isaias Afwerki yang menyambut langsung kedatangan Abiy Ahmed dan aksi kedua kepala negara yang saling berpelukan ketika Abiy Ahmed baru saja tiba di Eritrea. Para penduduk Eritrea pun menyambut pertemuan itu dengan sorak-sorai sambil mengenakan pakaian bergambar kedua pemimpin Etiopia dan Eritrea ketika iring-iringan mobil kedua kepala negara tersebut melewati tengah ibukota. Selain pertemuan yang berujung pada perjanjian perdamaian, Perdana Menteri Etiopia mengambil langkah reformasi dengan membebaskan para jurnalis dan tokoh-tokoh oposisi dari penjara, menjalankan ekonomi terbuka dan membuka blokir situs-situs Internet yang diisinyalir berisi berbagai kecaman terhadap pemerintah.

Para pemimpin Etiopia dan Eritrea saling berpelukan (Sumber: enca)

Konflik antara Etiopia dan Eritrea sempat memunculkan berbagai akibat, salah satunya adalah terpisahnya anggota-anggota keluarga akibat konflik wilayah perbatasan Etiopia -Eritrea. Selama konflik berlangsung, penjagaan ketat dilakukan di perbatasan Etiopia-Eritrea. Hal itu mengakibatkan tertutupnya akses bagi warga Etiopia yang berada di wilayah Eritrea untuk kembali ke negara mereka dan sebaliknya. Beberapa warga pun telah mencoba untuk menyebrangi perbatasan dengan mengklaim diri mereka sebagai pengungsi guna mendapatkan akses untuk kembali ke negara mereka. Selain itu, beberapa juga mencoba untuk turun tangan dengan berpartisipasi dalam referendum yang hasilnya diharapkan dapat membuka jalan penyelesaian konflik perbatasan. Namun, usaha-usaha tersebut tidaklah berhasil. Perjanjian perdamaian yang dilakukan oleh kedua pemimpin negara merupakan titik awal terbukanya akses bagi para warga Etiopia dan Eritrea yang terpisah akibat konflik perbatasan. Para warga kedua negara masih harus melewati waktu selama 20 tahun untuk dapat bertemu dengan anggota keluarga mereka yang terpisah.

Seorang ibu yang menangis ketika dipertemukan dengan keluarganya yang terpisah akibat konflik yang berlangsung selama 20 tahun (Sumber: ajplus)

Berakhirnya konflik antara Etiopia dan Eritrea menghasilkan perjanjian perdamaian yang tidak hanya berakibat baik pada kelangsungan hidup kedua negara, tetapi juga pada para warga negara yang merasa dirugikan akibat tidak diberikan kesempatan dan akses untuk bertemu dengan anggota-anggota keluarga mereka. Dengan adanya perjanjian perdamaian ini, diharapkan para keluarga yang dipisahkan oleh perbatasan Etiopia dan Eritrea dapat saling bertemu dan mendapatkan akses untuk melakukan perjalanan ke negara satu dengan lainnya. Selain itu, diharapkan pula kerugian yang dialami oleh para warga akibat konflik itu juga terbayarkan dengan adanya perjanjian perdamaian ini.

Oleh: Natasya Fila Rais (FH 2016), Anggota Research and Development FPCI UI.

Referensi

‘How the Ethiopia-Eritrea Peace Process could Reunite One Family.’ 12 Juli 2018. BBC. URL = https://www.bbc.com/news/world-africa-44792865

Bronkhorst, Estelle. 11 Juli 2018. ‘UN Hails Renewed Ties between Eritrea and Ethiopia, No Word on Sanctions.’ eNCA. URL = https://www.enca.com/africa/un-hails-renewed-ties-between-eritrea-and-ethiopia-no-word-on-sanctions

Schemm, Paul. 13 Juli 2018. ‘‘Like A Dream’: Families Seperated for Decades by Ethiopia-Eritrea Conflict Celebrate Peace Deal.’ The Washington Post. URL = https://www.washingtonpost.com/world/africa/like-a-dream-families-separated-for-decades-by-ethiopia-eritrea-conflict-celebrate-peace-deal/2018/07/13/a4b3e4a-85e3-11e8-9e06-4db52ac42e05_story.html?noredirect=on&utm_term=.97e73d24415d

Tesfai, Alemseged. “The Cause of the Eritrean-Ethiopian Border Conflict”.

https://twitter.com/ajplus/status/1019626696129908736?s=19

https://www.csmonitor.com/World/Africa/2018/0718/First-Ethiopia-Eritrea-flight-in-20-years-lands-after-peace-deal

https://www.republika.co.id/berita/internasional/afrika/18/07/09/pbk5zs383-20-tahun-berkonflik-ethiopia-dan-eritrea-akhirnya-berdamai

Over the World

Over the World is the channel of the articles written and events held by the members of the Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Indonesia.

Foreign Policy Community Indonesia Chapter UI

Written by

FPCI Chapter UI is a student organization based on Universitas Indonesia which concerns on promoting Smart Internationalism and Positive Nationalism.

Over the World

Over the World is the channel of the articles written and events held by the members of the Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Indonesia.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade