Selayang Pandang tentang Belt and Road Initiative: Jalan Tiongkok Menjadi Adidaya Yang Baru

“The Rise of China merupakan salah satu penanda struktur internasional paska Perang Dingin dengan Tiongkok yang berupaya menjadi salah satu negara adidaya baru untuk menandingi negara adidaya yang telah ada, yaitu Amerika Serikat. Upaya tersebut diwujudkan Tiongkok melalui proyek infrastruktur ekonomi yang disebut Belt and Road Initiative. Walaupun demikian, megaproyek yang membentang dari benua Asia, Eropa, hingga Afrika itu mendapat tantangan dan risiko yang tinggi.”
Pada tahun 2013, Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping mengungkapkan bahwa Republik Rakyat Tiongkok berkomitmen untuk membangun kembali jalur sutra. Xi Jinping mengatakan bahwa Tiongkok perlu membangun kembali jalur sutra untuk meningkatkan perkembangan dan kesejahteraan bersama antara Tiongkok dan negara-negara di Asia Tengah. Visi besar proyek ini tidak hanya semata untuk membangun kembali jalur sutera di Asia Tengah, tetapi juga meluas terbentang dari Indonesia hingga Kenya dan dari Pakistan hingga Inggris. Proyek itu dinamakan Belt Road Initiative (BRI).
BRI berfokus pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, materi konstruksi, perumahan, jaringan listrik, hingga pipa gas alam. Lebih dari 60 negara, 40% PDB global, serta 65% populasi dunia tergabung dalam megaproyek ini. Besarnya minat negara-negara itu dipengaruhi oleh Tiongkok yang mempromosikannya sebagai Win-Win Solution. Dari angka tersebut dapat dilihat besarnya proyek BRI dan potensi dampaknya bagi perekonomian global.
BRI sebelumnya disebut sebagai One Belt, One Road karena terbagi atas dua macam jalur. Jalur darat melalui Silk Road Economic Belt dan jalur laut melalui 21st Century Maritime Silk Road. Akan ada enam koridor darat yang terdiri atas jalan tol, rel kereta, pipa gas alam dan banyak lagi yang menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara lain yang berada di koridor tersebut melalui jaringan pelabuhan yang digunakan berdagang.

Pembiayaan finansial proyek itu didominasi oleh Tiongkok. Hingga saat ini total invetasi BRI bernilai 4 hingga 8 triliun dollar Amerika Serikat. Sekitar 50 perusahaan yang berasal dari Tiongkok telah berinvestasi pada hampir 1.700 proyek BRI sejak tahun 2013. Dananya sendiri datang dari perusahaan sebagai berikut:
1. Silk Road Fund
2. China Develpment Bank
3. Import Bank Of China
4. Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB)
5. New Development Bank
Theresa May, Perdana Menteri Inggris, menilai bahwa selain besarnya jumlah investasi yang diberikan Tiongkok, hal lain yang membuat banyak negara mau bekerja sama dengan Tiongkok adalah keengganan Tiongkok untuk menaruh banyak perhatian terhadap hak pekerja dan rendahnya kesadaran akan perlindungan terhadap lingkungan. Hal itu berbeda dengan banyaknya evaluasi dan administrasi yang harus dilalui oleh negara-negara tersebut ketika ingin meminjam modal dari IMF dan Bank Dunia.
Hal penting yang harus dicermati adalah BRI merupakan proyek berisiko tinggi. Banyak dari negara yang menerima suntikan investasi itu adalah negara dengan tingkat keamanan yang rendah dan tingkat korupsi yang tinggi serta berpotensi terlilit utang, seperti Sri Lanka. Sri Lanka sendiri memberikan Tiongkok hak untuk menggunakan pelabuhan Hambantonta selama 99 tahun sebagai pengganti utang. Hal itu layaknya Inggris yang mendapatkan Hong Kong selama 99 tahun dari Dinasti Qing Tiongkok.

Walaupun BRI memberikankeuntungan bagi negara-negara yang menerima suntikan modal, sudah jelas Tiongkok akan menjadi pemenang sesungguhnya. Segala investasi itu dibangun dengan tujuan membuat Tiongkok memiliki pengungkit ekonomi dan politik di daerah yang tercakup dalam BRI. BRI bukan hanya sekedar rute, tetapi juga suatu strategi cerdas yang meskipun menunjukkan risiko-risiko yang disebutkan di atas, tetap berpotensi membuat Tiongkok menjadi negara adidaya yang berikutnya.
Di era Donald Trump, Amerika Serikat sebagai negara adidaya de facto setelah Perang Dingin usai sedang condong ke arah kebijakan isolasionis. Sebaliknya, Tiongkok tengah memperbanyak investasi luar negerinya, terutama melalui proyek BRI. Dengan semakin banyak negara yang memercayakan pembangunan infrastruktur mereka kepada Tiongkok, maka daya tawar Tiongkok akan menjadi semakin tinggi terhadap mereka. Lalu, dengan akses pasar yang lebih luas, Tiongkok akan dapat memperbesar output ekonominya. Semua hal tersebut jika sukses dilaksanakan akan mengantarkan Tiongkok sebagai ekonomi terbesar di dunia dan negara dengan daya tawar politik yang tinggi yang pada akhirnya akan menjadi jalan bagi Tiongkok untuk menjadi negara adidaya yang baru.
Oleh: Muhammad Agun Pratama (FH 2016), Anggota Research and Development FPCI UI.
Referensi
“China issues first big data report on B&R Initiative,” China.org http://www.china.org.cn/china/2016-10/28/content_39588318.htm diakses 18 April 2018.
“One Belt One Road’: Connecting China and The World,” https://www.mckinsey.com/industries/capital-projects-and-infrastructure/our-insights/one-belt-and-one-road-connecting-china-and-the-world diakses 18 April 2018.
“Our Bulldozers, Our Rules,” Foreign Policy, 2 Juli 2016, https://www.economist.com/news/china/21701505-chinas-foreign-policy-could-reshape-good-part-world-economy-our-bulldozers-our-rules diakses 19 April 2018.
“Theresa May Is Right To Be Cautious Over China’s Belt and Road Plan,” Financial Times, 1 Februari 2018, https://www.ft.com/content/65d22a88-067a-11e8-9650-9c0ad2d7c5b5 diakses 19 April 2018.
Huang, Zheping, “OBOR An Extremely Simple Guide To Understand China’s One Belt One Road Forum For Its New Silk Road,” Quartz, 15 Mei 2017, https://qz.com/983460/obor-an-extremely-simple-guide-to-understanding-chinas-one-belt-one-road-forum-for-its-new-silk-road/ diakses 19 April 2018.
Hurley, John, Scott Morris, and Gailyn Portelance, Examining the Debt Implications of The Belt and Road Initiatives From A Policy Perspectives, hlm. 2.
Kawashima, Shin, Complementary, Not Rivals: One Belt One Road Is A Win Win Situation, It Is About Mutual Interest And Partnership, The Diplomats, 23 April 2018, https://thediplomat.com/2018/04/the-risks-of-one-belt-one-road-for-chinas-neighbors/ diakses 19 April 2018.
Laurelle, Marlene, “Introduction. China’s Belt and Road Initiative. Quo Vadis?” dalam China’s Belt and Road Initiative and Its Impact in Central Asia, ed. Marlene Laurelle (Washington D.C.: Central Asia Program, 2018), hlm. x.
Ministry of Foreign Affairs of The People’s Republic of China, “President Xi Jinping Delivers Important Speech and Proposes to Build a Silk Road Economic Belt with Central Asian Countries,” http://www.fmprc.gov.cn/mfa_eng/topics_665678/xjpfwzysiesgjtfhshzzfh_665686/t1076334.shtml diakses 19 April 2018.
Ramasamy, Bala; Yeung, Matthew; Utoktham, Chorthip; Duval, Yann, “Trade and trade facilitation along the Belt and Road Initiative corridors”, (Bangkok: ARTNeT Working Paper Series, №172), hlm. 10, diakses 19 April 2018.
