Apa Yang Sedang Anda Baca?

Sebuah Pemantik Seadanya

Melalui survei tidak sederhana yang diselenggarakan di sekre HMP PL ITB, 8 dari 10 orang sedang membaca sebuah buku. Awalnya memang tidak semua langsung reflek mengangkat tangan saat pertanyaan spontan memgisi celah diantara gemericik suara hujan.

“Siapa yang lagi baca buku, buku apapun diluar buku perkuliahan?”

Pertanyaan itu memang tidak spesifik ditujukan buat mereka yang se-rajin itu membaca, katakanlah meluangkan beberapa menit per harinya untuk membaca. Setiap kita memang dianugerahi konsistensi yang berbeda-beda, apalagi konsistensi membaca buku. Ada yang pernah membaca satu buah buku dalam sekali duduk, ada yang sebulan satu buku, ada yang gonta-ganti buku tapi tidak semua selesai, ada yang hanya melihat sampul depan dan resensi buku tersebut, ada yang tidak selesai-selesai, ada yang tidak tertarik membaca, atau Anda ingin tertarik membaca?

Membaca tidak pernah menjadi sebuah pemaksaan, bahkan buku-buku perkuliahan yang terpaksa Anda baca sekalipun.

“Sedang membaca buku apa?”

Pertanyaan selanjutnya tidak kalah sederhana. Namun jawabnya bisa begitu berwarna. Sialnya, banyak ungkapan tidak terduga. Kadang orang-orang yang sehari-hari kita sapa, yang biasa-biasa saja mungkin, atau yang kita rasa tidak seakrab itu dengan buku (atau koran yang tergeletak dan berserakan dimana-mana), kadang dibalik raut lelah selepas kuliah ternyata tersimpan bacaan yang bisa jadi menjadi teman sebelum terlelap setiap malam.


Apa yang sedang kita baca

Koran. Line Today. Iklan ingin cepat kaya. Peninggi badan. Emejing pidio. Pristegholik. Quotes galau. Segala yang berseliweran di timeline. Dst. Dst
Hari ini kita berjumpa dengan dunia virtual yang menyajikan banjir informasi yang tidak akan sempat kita cerna, kita pilah dan pilih satu persatu. Jangankan memilih, kita bahkan tidak sempat memilih apa yang ingin atau seharusnya kita baca. Kita terjebak dalam arus mainstream, terjebak dalam wacana media, meyakini apa yang dikatakan sekitar kita. Boro-boro mengececk langsung ke tempat kejadian perkara.

Memangnya apa yang seharusnya kita baca?


Aksara Loka

Bung Hatta membawa serta 16 koper sekembalinya dari Belanda. 15 diantaranya berisi buku-buku. Berapa tingkat occupansy buku-buku di kamar kita hari ini?

Tidak ada yang pernah memaksa untuk membaca, seperti halnya tidak ada yang memaksa untuk merebut ke-merdeka-an.

Aksara loka hanyalah rak tempat menaruh buku-buku yang tertinggal di sekre kita tercinta.
Aksara loka hanyalah sudut kumuh lain tempat kita rehat melepas penat.
Aksara loka hanyalah tempat sunyi di malam hari, bersama obrolan ngalor-ngidul dan asap yang membumbung.
Aksara loka hanyalah mimpi-mimpi tentang kopi, buku, dan diskusi sampai pagi.
Aksara loka hanyalah realitas lain, bahwa literasi… membaca, menulis, dan diskusi, hanyalah hal-hal yang bernasib sama seperti biji sawi, ditanam tapi tidak dirawat kemudian.

Namun ia bisa bernasib berbeda…

Aksara Loka bisa adalah potret lain keseharian kita, bahwa kita tidak tenggelam di arus liar pemberitaan, bahwa selalu ada mimpi-mimpi baru tentang kota, tentang desa, tentang berpikir kritis, komprehensif, sistematis, dan metadisiplin (bukan yaudahlaya, sporadis, antikritik, dan tidakdisiplin)
Tentang planologi yang mungkin tidak sekedar menjadi pemanis dibalik gelar.

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

― Mohammad Hatta

Tanah Pangripta
29.8.16
Galih Norma
Kepala Divisi Kajian Tiba-Tiba