Catatan Dari Ponggang

#01

Sumber : Dokumentasi Pribadi
Kami, mahasiswa Institut Teknologi Bandung
Sadar, bahwa kami hanyalah sebagian kecil dari rakyat Indonesia yang berkesempatan untuk menikmati pendidikan atas beban rakyat Indonesia
Sadar, bahwa kami dituntut untuk berperan dalam perbaikan dan pembaharuan masyarakat Indonesia
Sadar, bahwa pada pundak kami ini tertumpu harapan masa depan Indonesia
Karenanya:
Kami tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri, harus mendahulukan kebutuhan masyarakat
Kami tidak akan menunda-nunda tindakan kami untuk berperan dan membuat perubahan mulai dari diri kami sendiri
Kami akan bekerja keras untuk mewujudkan harapa rakyat bangsa, dan Negara Indonesia serta almamater Institut Teknologi Bandung
Ikrar ini segera kami buktikan,
Dalam tindakan nyata dari kami

Tiga kali kata SADAR kita ucapkan di sebuah ruangan besar di lembah yang hijau ini, tapi sepertinya kita tidak benar — benar sadar dalam mengucapkannya. Bahkan saya berani bertaruh bahwa hampir setiap anak gajah yang membaca ini pun tidak sadar pernah mengucapkannya. Ya mungkin ikrar tersebut hanyalah dianggap omong kosong oleh anak — anak jaman sekarang. Tetapi sebenarnya semua ini adalah pilihan, tergantung anda memilih untuk menepati janji tersbut sekarang ini atau nanti, itupun kalau sempat. Sudahlah, hal ini akanku bahas lagi nanti saja.

Sekarang menurutku ada suatu bagian paling menarik dari ikrar ini yaitu dibagian terakhir dari ikrar tersebut, “Ikrar ini segera kami buktikan, dalam tindakan nyata dari kami” ya bagian inilah yang coba aku dan teman — temanku wujudkan, kami sedang berusaha untuk membuat suatu pembuktian.


Ponggang. Entah sudah kali ke berapa aku menapakan kaki di desa ini selama setahun terakhir. Belasan? Ku rasa terlalu sedikit. Dua puluhan? Mungkin juga masih kurang. Entah juga sudah berapa banyak orang yang aku ajak dan aku bawa ke desa ini. Dimulai dari orang — orang terdekat hingga orang yang tak aku kenal. Hanya satu harapanku, semua orang ini dapat menyadari kelebihannya dan sadar bahwa masih ada tempat lain yang masih membutuhkan bantuan dari mereka.

Ponggang. Sebuah desa kecil yang menurutku pribadi telah memberikan banyak pembelajaran. Pembelajaran yang bisa didapat dari anak kecil yang belum bersekolah hingga sesepuh adat yang kurang lancar berbahasa Indonesia. Dan tentunya hari ini aku mendapatkan sebuah pembelajaran baru lagi. Ditempat ini aku juga bisa mendapatkan ketenangan dan juga pencerahan. Sebuah desa yang terlihat sangat ideal jika engkau hanya duduk dan menikmati indahnya alam tanpa mau bertanya sekitar.

Ponggang. Desa ini kutemui secara tidak sengaja setelah melalui obrolan hangat bersama salah seorang tokoh terkenal lulusan kampus gajah yang bergerak di bidang teknologi energi pembaharuan. Ya desa ini adalah desa binaannya. Desa yang disarankan kepadaku karena keinginanku untuk berkunjung ke desa yang tidak biasa. Sebuah desa adat dimana agama dan budaya terlihat sangat harmonis.

Selama setahun semuanya berjalan seperti baik — baik saja. Mimpiku untuk membantu desa ini masih sangat menggebu — gebu. Banyak mahasiswa yang katanya ingin melakukan pengabdian masyarakat aku bantu arahkan ke sana. Satu, Dua, Tiga, Empat… entah sudah berapa kloter rombongan mahasiswa yang kubawa kesini. Hingga akhirnya beberapa rombongan memutuskan untuk menetap dan berusaha untuk sustain disini. Jalanan , masjid, saluran air, semuanya menjadi baik (mudah — mudahan tetap baik dan berfungsi).

Hingga sebulan yang lalu, aku datang kembali dengan membawa sekelompok lain yang baru, dan timbul satu pertanyaan dibenakku yang membuatku tersadar akan suatu hal. “Sejauh ini kah dampak yang telah kami berikan?” Ya, desa ini telah berubah jauh, sangat jauh menurutku dalam waktu yang singkat.

Pertama, budaya dan adat istiadat yang sangat kental diawal — awal aku datang ke desa ini, sekarang perlahan demi perlahan telah menghilang. Apa yang membuat hal tersebut menghilang? Jawabannya sederhana, budaya serta adat istiadat yang ada disini perlahan memudar hanya karena warga desa takut kami tidak bisa menerima adat yang ada disini. Hal ini disebabkan banyaknya penolakan — penolakan dari mahasiswa yang datang kesini dan tidak mau mengikuti adat budaya disini. Alasan lain juga karena warga desa ini mungkin terlalu takut jikalau mahasiswa tidak bisa menerima adat mereka nantinya mahasiswa akan pergi dan harapan mereka untuk desanya yang lebih baik sirna begitu saja. Aneh menurutku ketika kami yang datang untuk mencari pembelajaran malah tidak mau beradaptasi dengan lingkungan dan aturan yang ada.

Kedua, anak — anak kecil disini mulai ketergantungan teknologi. Anak — anak yang biasanya bermain dengan riang hanya dengan daun singkong atau dengan pelepah pisang dan senang berlarian ke sawah, sekarang mulai sulit diajak berbaur jika tidak diberikan gadget masa kini. Perubahan yang cukup signifikan, karena dulunya untuk memegang handphone saja sudah merupakan prestasi yang cukup wahhh untuk anak — anak ini. Hal ini disebabkan mahasiswa yang datang selalu memegang gadget mereka dan menawarkan gadget mereka kepada anak — anak jika mereka sudah tidak mempunyai mainan. Sebuah perilaku kecil yang akhirnya ditiru anak — anak dan membuat ketergantungan.

Ketiga, masyarakat disini sudah mulai ketergantungan terhadap mahasiswa. Semenjak mahasiswa berdatangan, masyarakat yang tadinya bisa hidup bahagia walaupun tanpa uang dengan menikmati alam sekarang sudah mulai mengerti nominal. Sekarang kecemburuan sosial mudah sekali dibentuk oleh selembar uang yang jumlahnya tidak sama (yang padahal uang tersebut diberikan oleh mahasiswa). Keramah tamahan sudah mulai menghilang jika menyangkut selembar kertas ini. Hal ini disebabkan oleh perilaku mahasiswa yang terlalu sering menjanjikan sesuatu kepada masyarakat, seolah — olah mereka yang lebih mampu dan bisa melakukan apapun. Sebuah kesalahan besar yang sejujurnya akupun juga pernah melakukannya.

Tiga hal tersebut sudah cukup menggambarkan perubahan yang terjadi selama setahun menurutku. Meskipun sebenarnya masih sangat banyak perubahan kecil yang berdampak yang juga terjadi. Ketika menyadari hal — hal tersebut, sejujurnya aku merasa bahwa akulah orang yang seharusnya paling bertanggung jawab. Karena aku, banyak sekali mahasiswa yang ikut datang ke desa ini. Dan karena aku juga tidak memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di desa ini. Warga desa tidak peduli kelompok mana yang datang kesini, yang mereka tau adalah aku yang pertama kali kesini dan membawa banyak orang.

Niat awal yang baik untuk membuktikan bahwa aku dan teman — temanku telah sadar dengan ikrar kami nyatanya tidak hanya berdampak baik untuk desa tersebut, tetapi juga beredampak buruk. Sebuah kenyataan yang sebenarnya membuat hati merasa malu dan ingin mundur dari tempat tersebut. Tak sedikit temanku yang setelah mengetahui realita ini perlahan satu persatu bermunduran. Namun seorang sesepuh disana memberikan pelajaran yang sangat penting.

“Saat ini kamu dan teman — temanmu sudah terlanjur basah diterima disini. Dan setiap usaha baik pasti akan ada tantangan. Sekarang adalah tantang pertama kamu, dimana kamu harus berusaha untuk berkomitmen untuk melanjutkan semua yang sudah dimulai disini apapun yang terjadi saat ini. Karena pengabdian tak akan pernah mudah

Dan benar memang, mungkin yang masih tersisa saat ini hanyalah segelintir orang. Tetapi, sekarang yang harus kami lakukan sangatlah sederhana, yaitu berkomitmen untuk tetap membantu desa ini, serta memperbaiki kesalahan yang telah kami buat. Bukan memutuskan untuk mundur dan menyerah melawan keadaan.


Untuk kalian yang pernah datang ke desa ini.

Ponggang, 24 Desember 2015

Muhammad Fadhil D.