Pokemon Go dan Prediksi Liar Kehidupan Urban
Malam ini di jalanan, terlihat orang-orang dengan gerak-gerik aneh, celingak celinguk sambil sesekali memperhatikan layar ponsel di tangannya. Sembari lewat, saya sedikit mengintip layar ponsel mereka, dan benar saja: mereka juga Pokemon Trainers. Lucu rasanya mengingat Pokemon Go belum dirilis secara resmi di Indonesia, tapi sudah banyak pemain game ini berkeliaran di jalanan. Dan alangkah lucu lagi, sehabis saya memperhatikan orang-orang tersebut, saya baru sadar saya juga menggenggam layar ponsel dengan tingkah yang sama.
Ya, hari ini saya resmi jadi pemain (atau korban) Pokemon Go.
Setelah sedikit berkeliling dengan teman yang juga Pokemon Trainer (sebutan untuk mereka yang berkeliling dunia menangkap dan melatih Pokemon), tentunya untuk mencari Pokemon baru, kami singgah sebentar di sebuah kafe. Kepulan asap rokok dan obrolan liburan menghiasi malam yang tidak sedingin biasanya. Sesekali pula kami tetap mengecek ponsel, siapa tahu ada Pokemon baru di sekitar kami. Sebagai perencana muda yang baik hati dan tidak sombong, kami sedikit terbayang dan mendiskusikan bagaimana Pokemon Go berpengaruh terhadap dinamika perkotaan.
Hipotesa kami berujung pada bagaimana tarikan dan bangkitan dalam konteks mobilitas masyarakat kota akan meningkat seiring dengan semakin nge-hype-nya game ini. Tapi apa hanya itu saja? Dan mengapa sebenarnya kami merasa Pokemon Go akan berimbas pada kehidupan masyarakat urban? Mungkin sedikit pengantar untuk memahami apa itu Pokemon Go akan membantu memberikan pencerahan.
Dunia Pokemon adalah dunia yang berisi monster-monster lucu dengan berbagai bentuk dan spesies. Dalam dunia ini, orang-orang dengan sebutan “trainers”, berkeliling dunia untuk menangkap Pokemon dengan suatu alat yang dinamakan PokeBall. Konsep ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk game di platform Nintendo pada akhir 90-an. Game ini langsung meroket, disusul dengan adaptasi anime-nya pada awal 2000-an.
Pokemon Go hadir untuk memenuhi mimpi dari semua fans Pokemon di dunia: bagaimana kalau Pokemon benar-benar ada di dunia nyata? Meski memang tidak mungkin benar-benar menjadi nyata (atau belum), setidaknya dengan teknologi GPS dan augmented reality (AR), mahluk-mahluk lucu nan ganas itu bisa hadir di dunia kita. Mereka bisa ada di halaman rumah, sekolah, kampus, bahkan tempat ibadah.
Tentunya, mau tidak mau, pemain harus menjelajahi dunia nyata untuk menangkap Pokemon dalam Pokemon Go. Tidak hanya menangkap Pokemon, terdapat pula fitur Pokemon Gym, dimana pemain bisa “mengadu” Pokemon-nya dengan pemain lain. Pokemon Gym ini diletakkan di beberapa landmark kota-kota di dunia, terutama di Indonesia. Contohnya Gedung Merdeka di Bandung. Tidak hanya Pokemon Gym, terdapat sebuah fitur yang dinamakan PokeStop, dimana juga diletakkan di lokasi-lokasi tertentu secara random, semisal di gapura, patung-patung, dan terutama yang banyak ada di Indonesia adalah di tempat ibadah.

Grafik diatas menunjukkan perbandingan pengguna harian Pokemon Go dan Twitter dari hari ke hari, terhitung sejak Pokemon Go diluncurkan di Amerika. Menurut data dari Digital Vision, dua hari sejak diluncurkan di Amerika, Pokemon Go sudah diunduh oleh 5,16% ponsel Android di negeri Paman Sam, dimana sudah mencapai dua kali unduhan aplikasi Tinder (dimana Tinder hanya sekitar 3% sejak diluncurkan sampai sekarang), belum lagi jika kita memasukkan total unduhan dari pengguna iOS.

Para pemain Pokemon Go harus terus membiarkan aplikasi ini berjalan untuk mengetahui apakah ada Pokemon di sekitar mereka. Maka dari itu, dengan antusias tinggi untuk terus menangkap Pokemon setiap kali mereka muncul, waktu penggunaan aplikasi ini juga menjadi lebih tinggi, bahkan dibandingkan dengan media sosial seperti WhatsApp ataupun Instagram, seperti yang ditunjukkan oleh grafik di atas.
Jika kita lihat jumlah pemain dan frekuensi penggunaan aplikasi diatas, dengan fakta bahwa jumlah pemain terus bertambah tiap waktu, termasuk memperhitungkan seluruh pemain di dunia (yang berhasil memainkan game ini bahkan sebelum dirilis secara resmi di negaranya), maka kita dapat mengetahui bahwa pergerakan masyarakat kota akan terus meningkat. Hal ini terutama mungkin akan terjadi pada para kelas menengah ngehe dan anak-anak muda. Manusia-manusia pecinta Pokemon akan lebih mobile, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk memburu monster-monster lucu ini.
Apakah fenomena ini akan berimbas pada kemacetan? Yang tidak banyak diketahui oleh para pemain Pokemon Go adalah terdapat teknologi speed-limiter yang membatasi kecepatan bergerak dari para pemain. Terdapat sebuah fitur Pokemon Eggs, dimana para pemain akan mendapatkan telur Pokemon dari PokeStop. Untuk menetaskan telur ini pemain harus berjalan sejauh jarak yang ditentukan. Banyak yang coba mengakalinya dengan menggunakan kendaraan untuk menempuh jarak yang jauh dengan mudah. Tapi ternyata dengan adanya speed-limiter, tidak semudah itu untuk menetaskan telur tersebut. Jadi para pemain, idealnya, memang harus berjalan kaki.
Ya, untuk mendapatkan “kesenangan sejati” dari memainkan permainan ini adalah dengan berjalan kaki. Pertama, jika bergerak dengan cepat (menggunakan kendaraan) pemain akan banyak melewatkan Pokemon liar di sekitar mereka. Kedua, tentunya Pokemon Eggs yang sudah didapat juga tidak akan menetas jika bergerak terlalu cepat. Ketiga, dengan fakta bahwa tidak semua pemain memiliki konektivitas internet yang sama tingginya, jika mereka bergerak terlalu cepat maka pinpoint lokasi mereka relatif terhadap GPS akan menjadi tidak akurat.
Namun, tentunya untuk menjangkau Pokemon Gym dan PokeStop yang tidak tersebar merata, pemain tetap harus menempuh jarak yang jauh. Contohnya dalam kasus saya, jarak dari kompleks rumah saya (di daerah Cimahi) ke Pokemon Gym terdekat cukup jauh. Saya harus menggunakan kendaraan bermotor untuk menjangkau tempat tersebut dengan mudah.
Bagaimana dengan penggunaan kendaraan umum? Hmm, mungkin juga akan meningkat. Namun dengan keberadaan jasa sewa-antar kendaraan seperti Go-Jek, maka bisa jadi kendaraan umum akan di-nomordua-kan. Alangkah wajarnya jika akan banyak pelanggan jasa ini yang nantinya cuma akan bilang, “Ke sungai bang, kita cari Gyarados!”.
Jadi, kita mungkin masih cukup jauh dari masalah kemacetan yang akan ditimbulkan dari Pokemon Go. Yang saya yakini, jumlah fans Pokemon di Indonesia jauh lebih sedikit dari Amerika. Indonesia mungkin tidak akan merasakan hype-nya Pokemon Go seperti di Amerika. Di Amerika mungkin saja, beberapa waktu dari sekarang fenomena macet-akibat-Pokemon-Go akan terjadi.
Yang paling mungkin terjadi di Indonesia adalah meningkatnya jumlah pejalan kaki. Orang-orang aneh dengan ponsel di tangannya, celingak celinguk bak turis, mungkin akan menjadi pemandangan yang umum nantinya. Untuk sekarang, hal ini saya rasa menjadi keanehan, karena saya juga mengalami hal ini: berhenti tiba-tiba dan mengarahkan ponsel ke wajah orang asing, karena tepat disampingnya ada Nidorina, dan orang tersebut lantas beranjak pergi dengan raut muka “Ini orang kenapa, sih”.
Trotoar mungkin saja menjadi berarti lagi buat masyarakat, ya maksudnya bagi masyarakat pecinta Pokemon. Bayangkan saja jika nantinya banyak kasus tabrak lari akibat game ini, semua akibat mereka tidak memiliki akses yang layak untuk berjalan kaki demi memburu Pikachu.
Yang saya takutkan, meski fantasi ini cukup liar, adalah penggusuran PKL berkedok Pokemon Go. Bukan secara langsung, tapi saya rasa dengan alasan “hak pejalan kaki” dan “trotoar milik siapa?” maka Pokemon Go akan melanggengkan perlakuan yang selama ini tidak semena-mena terhadap PKL. Apakah mungkin ini menjadi angin segar bagi pemerintah kota? Terlalu jauh memang, tapi mungkin.
Selain itu semua, dengan juga penempatan Pokemon yang terkadang spesifik untuk memburu satu jenis Pokemon “legendaris” seperti Zapdos, Mewtwo, Articuno, dan lainnya. Meski belum ada pernyataan resmi tentang bagaimana menangkap Pokemon jenis tersebut, tapi sudah banyak bermunculan teori-teori mengenai kemungkinan keberadaan Pokemon tersebut, seperti Ho-Oh yang bisa didapatkan di kaki Gunung Anak Krakatau. Maka tidak heran jika jumlah pendatang tempat-tempat wisata akan meningkat. Dan tentunya bukan sejatinya memburu pengalaman dan pemandangan, tapi tujuan utamanya adalah menangkap Pokemon.
Hal ini mungkin menjadi berkah baik untuk masyarakat lokal dan pemerintah daerah, terutama secara ekonomi. Tapi lagi-lagi, meski prediksi ini sedikit liar, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa butuh kesiapan baik secara infrastruktur dan aspek lainnya, untuk menampung wisatawan-wisatawan nerdy ini.
Mungkin beberapa dari kalian merasa “Ah, ngaco” atau “Mana mungkin, masih kejauhan mikirnya”, tapi dengan keyakinan saya sebagai perencana muda sekaligus Pokemon Trainer Amatir, saya rasa bukan sesuatu yang tidak mungkin hal-hal diatas akan terjadi. Saya rasa sudah saatnya bagi pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk memperhatikan hal ini (maksudnya Pokemon Go). Meski terdengar lucu, tapi saya rasa akan banyak hal-hal yang harus ditanggapi secara serius dari keberadaan Pokemon Go dan para pemainnya. Akan banyak hal yang secara positif bisa dimanfaatkan dari keberadaan permainan ini, namun juga akan banyak dampak negatif yang terjadi dan harusnya bisa diantisipasi. Simpelnya, Pokemon Go dan para pemainnya mungkin akan menjadi salah satu kontributor dinamika perkotaan baru yang layak diawasi.
Saya pribadi tidak bisa melepaskan jati diri sebagai penggemar Pokemon dan seorang yang dikutuk untuk peka terhadap dinamika perkotaan. Sembari terus melangkahkan kaki dan waspada dengan keberadaan Pokemon di sekitar saya, di sela-selanya saya juga terus berimajinasi tentang perubahan-perubahan yang akan terjadi, tentang bagaimana Pokemon Go hadir dalam peradaban dimana saya hidup, dan bagaimana peradaban dan pembangunan berhubungan dialektis, dan keberadaan monster-monster lucu ini di dunia tentunya akan berdampak pada hubungan tersebut. Siapa tahu Pokemon juga perlu perencanaan?
