Naufal Rofi
Sep 2, 2016 · 6 min read

Sebenarnya ingin menjadi perencana seperti apakah kita?

Pertanyaan tersebut terpinggirkan dalam kesadaran saya. Pertanyaan semacam “Lulus mau ngapain?” atau “Lo mau kerja dimana abis ini?” selalu membuat baik yang ditanya maupun penanya terjebak dalam sebuah pikiran tentang “Mau jadi apa?”. Kita, para mahasiswa perencana, (seharusnya) diberkahi oleh berbagai macam ilmu saat kuliah, mulai dari jenis tanah sampai standar median jalan. Tapi, untuk apakah semua itu tanpa kita berpikir kembali: untuk siapakah kita bekerja? Atau mungkin dengan siapakah kita bekerja?

Saya pribadi, masih berpikir bahwa sebagai pekerjaan yang berada dalam domain publik, seorang perencana haruslah mampu bekerja dalam realita. Yang menjadikan realita seorang perencana adalah isu pembangunan wilayah yang sedemikian rebek-nya. Sumber daya alam dan buatan (apalagi yang bersifat given), serta manusia dan dinamika kegiatan di dalamnya berujung pada suatu hal yang kadang sulit kita terima: bahwa masalah yang kita hadapi itu kompleks.

John Friedmann, dalam bukunya Planning in The Public Domain bersabda:

“Nothing will be gained by simple formulations when the reality is not simple”

Saya membagikan tulisan ini di media sosial, dan juga ke adik-adik angkatan saya dalam sebuah kesempatan yang berharga. Sesungguhnya, adik-adikku: ini punchline-nya.

Meski saya menganggap diri saya open-minded terhadap ideologi atau keyakinan seseorang, saya masih merasa variabel kesuksesan pribadi (terutama secara materiil) merupakan sebuah motivasi yang tidak bisa saya terima untuk seseorang yang menghabiskan separuh lebih hidupnya di kampus untuk sekedar datang kuliah, berlelah-lelah menuntut ilmu, berkontribusi dalam kerja kelompok, hahahihi, lalu pulang.

Hal ini terutama, berlaku untuk mahasiswa perencanaan wilayah dan kota. Kita sudah tahu bersama, tataran teoritis yang kita pelajari, diakumulasikan selama empat tahun itu sangat banyak (yang kadang saya visualisasikan menetes dari lubang kuping kita). Hal ini terbukti dari kesulitan mengingat rumus shift-share ataupun model Hotelling. Tapi penumpukan ilmu itu juga membuktikan beberapa hal. Diantaranya, bahwa semakin banyak teori sebagai kondisi ideal suatu hal, maka semakin banyak pula permasalahan yang mendasari lahirnya teori tersebut. Dalam dimensi waktu, perkembangan teori tersebut juga membuktikan bahwa masalah yang dihadapi selalu berkembang. Banyak hal yang kita dengarkan saat dosen berbicara ataupun dari rujukan literatur merupakan teori yang outdated. Beberapa mungkin masih relevan, tetapi apakah realita yang akan kita hadapi nanti bisa dilakukan dengan pendekatan teoritis tadi? Pun kalau ya, apakah solusi yang akan kita hasilkan akan berjalan dengan baik?

Dari kontemplasi yang saya lakukan tuangkan di atas, lahirlah sebuah kesimpulan, setidaknya bagi diri saya sendiri bahwa mempelajari ilmu perencanaan tidaklah berhenti sampai kita lulus S1, atau mungkin juga S2 atau S3. Dan kuliah tidak cukup: kita masih perlu membaca, menulis, dan berdiskusi. Terlebih lagi, sebenarnya, pelajaran sesungguhnya ada di luar sana, di dunia nyata. Maka, ilmu perencanaan selayaknya ilmu lain, harus dituntut sampai keabadian. Hal ini haruslah didukung oleh kerelaan kita sebagai seorang (calon) perencana untuk menerima kenyataan, memahami kenyataan, tidak memudahkan persoalan, dan juga kemauan untuk terus belajar dari semua hal tadi. Dan juga, untuk memahami kekuatan dan kelemahan kita sebagai individu dalam dunia yang luas ini.


Perencanaan adalah rangkaian proses mencapai tujuan, mulai dari mengenali objek perencanaan, memetakan potensi dan masalah, menentukan tujuan, sampai bagaimana tujuan tersebut dapat dicapai. Semua hal itu dilakukan secara sistematik dan menyeluruh. Mempelajari hal ini dan melatihnya saat menjalani perkuliahan, diam-diam membentuk kita menjadi manusia yang terorganisir dan rapi.

Menjadi sebuah ironi, ketika kita mampu berpikir demikian untuk orang lain, tapi tidak untuk diri sendiri. Maka dari itu, saya rasa sekecil apapun komponen “terorganisir” dan “rapi” yang kita lakukan tetap saja kita selalu berusaha menjadi seorang planner yang juga bisa plan for himself/herself. Kita menjadi seseorang yang strive for excellence. Entah apapun excellence yang dimaksud: proses yang baik, hasil yang baik, atau kinerja yang baik?

Lalu, diam-diam pula, ini juga membentuk persepsi orang lain tentang kita. Hal-hal sederhana seperti “anak plano jago kajian” dan “anak plano mikirnya bagus” merupakan simplifikasi dari bentuk riil bahwa hal tersebut dibentuk oleh proses yang kita tidak sadari, yang kita jalani dan kita terapkan dalam keseharian, termasuk dalam kehidupan berorganisasi. Gejolak masa muda mungkin membuat kita masih bisa tertawa, bermain gitar, dan berwisata kuliner. Tapi apakah semua hal tadi akan menjadi modal untuk membentuk kita menjadi seseorang yang benar-benar perwujudan dari “perencana yang baik”?

Apapula itu perencana yang baik? Waktu saya masih muda dulu (?), saya selalu memandang masa depan perencana sebagai seorang yang: tertata fisik dan mentalnya, rapi berpakaiannya, dan sopan berbicaranya. Saya melihat teman-teman saya yang gondrong akan mencukur rambutnya nanti. Saya melihat teman-teman saya yang slengekan akan berubah menjadi Barney Stinson dalam How I Met Your Mother. Saya melihat hal-hal serius dan dewasa, hilangnya kata-kata kasar (“Anjing lo”) dalam keseharian, ketika kita semua bertemu lagi nanti di masa tua.

Saya kesulitan menemukan literatur tentang personality seperti apa yang seharusnya dimiliki seorang perencana. Tetapi saya terdampar dalam sebuah tulisan berjudul Be a bit f*cked up. People will like you for that. Saya membayangkan sebuah ironi dari kehidupan perencana di beberapa paragraf awal tersebut.

Inti dari tulisan tersebut adalah sebuah fenomena bernama Pratfall Effect. Efek ini menjelaskan kecenderungan meningkat atau menurunnya ketertarikan setelah seseorang melakukan kesalahan. Secara sederhana, jika kita merupakan orang yang cerdas dan tidak melakukan kesalahan, maka orang-orang akan menghormati kita dan beberapa mungkin menyukai kita. Tetapi jika kita merupakan orang yang cerdas dan terkadang melakukan kesalahan, maka orang-orang akan mencintai dan memuji kita.

Hal ini berhubungan dengan bagaimana seorang perencana yang berinteraksi dengan masyarakat (terutama secara langsung) mampu menerima satu sama lain. Seorang ahli perencanaan yang datang ke sebuah wilayah perencanaan dengan budaya yang distingtif, haruslah mampu menunjukkan bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat, yang sama tidak sempurnanya dan juga melakukan kesalahan.

Dalam ranah politik, kita bisa melihat contoh nyata dari presiden kita. Gaya yang sederhana menjadikan dia favorit masyarakat (setidaknya kala itu). Masyarakat menyadari bahwa dia merupakan seorang yang “biasa saja”. Dari situ, masyarakat menemukan penyatu, sebuah hal yang menjadikan Jokowi memiliki kesamaan yang sama dengan masyarakat pada umumnya.

Dalam tulisan yang sama, terdapat sebuah trivia menarik mengenai bagaimana kata courage atau keberanian berasal dari kata “cor” atau dalam bahasa Latin berarti “hati”. Courage sebenarnya berarti menceritakan siapa diri kita dengan sepenuh hati. Jika dihubungkan dengan profesi perencana, secara normatif, adalah bagaimana ketulusan seorang perencana dalam menyampaikan dirinya sebagai seorang yang bertugas memperbaiki kehidupan masyarakat, seseorang yang harus mampu memberikan pengertian mengenai pembangunan dan mengartikulasikan isu pembangunan secara baik. Keberanian ini mencakup bagaimana diri kita, mampu menunjukkan kelemahan kita, lebih baik lagi jika itu adalah hal yang alamiah. Bersikap pintar dengan kerendahan hati dan kemauan untuk membumi, saya rasa, adalah hal yang kadang kita lupakan.

Acceptance dari masyarakat terhadap seorang perencana adalah sebuah hal penting, mengingat masyarakat harus dilibatkan dalam proses perencanaan. Kita lahir dari mereka, dan bisa jadi masih menjadi bagian dari mereka kelak. Terdapat sebuah hal yang lebih penting dari semua itu, adalah bagaimana kita tidak hanya berinteraksi dalam hal bertukar informasi, tapi untuk bisa melebur dalam emosi yang kolektif di dalamnya.

Tidak hanya masyarakat secara umum, hal ini berlaku untuk bagaimana kita bekerja dengan orang lain, terutama yang bukan perencana. Kita selalu diinsepsi untuk menjadi team leader, tapi kita selalu lupa bahwa kita adalah jack of all trades. Kita kadang lupa, bahwa orang-orang yang bekerja dengan kita adalah ace dari tiap bidang yang berkaitan. Dengan menerima ini, saya rasa pula, adalah sebuah keberanian yang hakiki dari seorang perencana.


Mari kita kembali ke pertanyaan: ingin menjadi seperti apa kita kelak?

Disini, saya ingin menekankan bahwa saya sendiri masih belum menjadi seorang yang saya gambarkan dari keseluruhan tulisan ini. Dan saya juga masih tidak bisa membayangkan secara pasti, ingin menjadi perencana seperti apa ketika saya tidak lagi menempuh pendidikan perencanaan. Tetapi, dengan semakin dekatnya kita dengan kenyataan (baca: lulus), kita menjadi terlalu fokus menggapai hasrat kita (baca: ambis). Kita hanya bisa melihat satu titik, yang kita rasa benar, tanpa adanya jeda di antara perjalanan menggapai tujuan tersebut: untuk berhenti sejenak, memikirkan sekitar, memikirkan tanggung jawab sebagai seorang intelektual, memikirkan strength-weakness-opportunity-threat baik diri kita sebagai individu yang unik, dan kesamaan kita sebagai (calon) perencana.

Saya rasa selalu ada keseimbangan antara logika dan emosi. Masih ada mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan mulut yang berbicara diantara otak dan hati. Dan keseimbangan itu semua, bagi saya adalah apa yang kita punya, tetapi menjadi pilihan kita masing-masing untuk menerima dan menggunakannya.

Kota Cimahi, 3 September 2016


Teruntuk teman berkontemplasi kemarin malam, semoga dikau selesai membaca sampai bagian ini.

Pangripta Loka

Gurat Tinta Perencana

Naufal Rofi

Written by

Tukang sunting tulisan di medium.com/kolektif-agora | Menulis soal kota dan warganya serta warga dan kotanya

Pangripta Loka

Gurat Tinta Perencana

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade