Bagaimana Cara Saya Belajar Ilustrasi

Ghani Pradita
Mar 9 · 5 min read

Sedikit bercerita, saya mulai mempelajari ilustrasi sekitar tahun 2015, saat itu saya baru saja memulai karir sebagai full time freelancer. Jadi ini sudah tahun ke empat saya mendalami seluk beluk ilustrasi meskipun tidak 100% fokus ke bidang ini. Beberapa teman sering bertanya :

  • Dulu belajar ilustrasi darimana?
  • Memang ada background pendidikan seni ya?
  • Aku gak ada bakat gambar, kira-kira gimana caranya biar bisa bikin ilustrasi?

Dari situ saya tertarik untuk sedikit bercerita dan berbagi metode belajar ilustrasi yang saya gunakan.


Belajar tidak harus di kampus/sekolah

Tak bisa dipungkiri, di sekitar kita pendidikan formal kerap menimbulkan stereotype. Namun sebenarnya di jaman yang serba teknologi seperti sekarang, ilmu tak melulu harus ditimba dari pendidikan formal/sekolah.

Dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat, banyak perangkat dan platform penunjang yang terus berevolusi, yang terkadang tak lagi relevan dengan kurikulum pendidikan formal. Bukan berarti pendidikan formal itu tidak penting, hanya saja kita perlu mengimbangi juga untuk update dengan berita-berita ataupun metode-metode baru seputar desain. Karena pada praktiknya, kita mau tidak mau harus menggunakan tools/metode yang sesuai dengan trend saat ini.

Pada fase awal belajar ilustrasi, saya sering bertanya ke teman-teman tentang seluk beluk teknis Adobe Illustrator (software yang digunakan saat itu). Selain itu juga saya banyak menonton tutorial-tutorial di Youtube.

Kendala yang saat itu saya temui adalah susahnya menemukan kurikulum ataupun runtutan materi yang saya perlu pelajari secara bertahap. Kemudian yang saya baru sadari belum lama ini, ternyata sebenarnya ada banyak online course yang membahas tentang ilustrasi di Udemy ataupun Skillshare. Jadi untuk teman-teman yang ingin mengetahui terlebih dahulu tentang teori-teori menggambar atau ilustrasi bisa coba lihat-lihat dulu di sana.

Tahapan saya dalam belajar membuat ilustrasi

Karena ketidak tahuan saya tentang literatur ataupun course yang mendukung, saya nekad langsung terjun hands on di laptop. Berikut langkah-langkah atau proses yang secara bertahap saya lakukan dari tahun ke tahun.

  • 2015 awal (Photoshop) — Memulai dengan shape sederhana.
    Saya memulai dengan belajar membuat ilustrasi dengan shapes geometric (kotak, bulat, dll). Langkah ini saya rasa tidak salah karena dengan begitu saya mampu membiasakan diri dengan metode teknis pembuatan ilustrasi dengan cara sederhana dan mudah dipetakan/dirancang. Barulah kemudian secara perlahan saya mempelajari cara-cara menggambar objek dan beberapa teori seperti pencahayan dan pose. Proses tersebut kebanyakan saya pelajari dengan cara mengamati karya-karya desainer lain di Dribbble, Behance, & Pinterest.
Ilustrasi dengan shape geometric
  • 2015 akhir-2016 (Sketch) — Shape sederhana yang dimodifikasi.
    Masih dengan teknik yang serupa, saya tetap menggunakan shapes sederhana ketika membuat ilustrasi. Namun ketika mengerjakan beberapa project, saya menemui kendala bahwa ternyata penggunaan shape geometric terkadang tidak mampu memenuhi semua kebutuhan pose dan objek. Karena itulah pada fase ini saya mulai belajar melakukan modifikasi path. Disitulah kemudian saya mulai belajar memahami fungsi path dan skema anchor point.
Geometric shape yang dimodifikasi
  • 2017 (Sketch) — Custom shape, detail & Isometric.
    Setelah cukup terbiasa menggerakkan path & anchor point, saya mulai belajar membuat ilustrasi yang keseluruhannya berasal dari custom shape, serta mencoba bereksperimen dengan tekstur. Di kurun waktu yang hampir sama, saya juga belajar membuat ilustrasi isometric yang di kala itu sedang menjadi trend.
Penggunaan tekstur
Ilustrasi isometric
  • 2018 - sekarang (Sketch, Procreate)Perspective & Digital Painting
    Ditahun 2018 saya mulai mencoba bermain dengan perspective yang sedikit advance. Dari situ saya mendapat pemahaman bahwa penggunaan perspective mampu memberikan kesan dramatis ke dalam ilustrasi yang dibuat.
    Di tahun tersebut juga saya tertarik untuk mempelajari teknik digital painting dengan menggunakan Procreate. Banyak sekali hal yang saya dapat dengan mempelajari teknik ini. Karena saya terbiasa membuat ilustrasi vector, ternyata painting benar-benar seperti hal yang sangat berbeda. Semua objek yang ada murni dari goresan, modifikasi dan finishing menjadi sesuatu yang tidaklah mudah. Karena itulah mengapa style ilustrasi dengan teknik ini seperti seakan tak terbatas dan tak mudah diduplicate.
    Di tahun inilah justru saya mulai mempelajari teori-teori dasar menggambar, dan kedepannya masih sangat banyak style dan teori yang ingin saya dalami untuk terus berkembang.
Ilustrasi dengan perspective yang advance
Digital painting menggunakan Procreate

Ada yang bilang bakat itu tidak penting, yang penting adalah usaha. Benarkah?

Disini sebaiknya kita tekankan bahwa Illustrator tidak sama dengan seniman, ilustrasi tidak sama dengan lukisan. Sama halnya dengan desainer, illustrator membuat karya untuk berdasarkan masalah yang ada. Sebagai contoh adalah ketika media belajar online yang kerap kali membosankan dan kurang interaktif, kemudian muncul Duolingo yang mampu memadukan gamification dan penggunaan ilustrasi lucu untuk memecahkan masalah tersebut.

Illustrator membuat karya untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan seniman membuat karya cenderung berdasarkan hasrat dan suasana hati yang dirasakan.

Setiap orang dilahirkan dengan berbeda. Ada yang sejak kecil memiliki keahlian dibidang pengetahuan, menghitung, memetakan jalan, berdiskusi, dll. Begitu pula untuk membuat ilustrasi ada yang namanya bakat mengamati dan faktor taste/selera. Faktor bakat mengamati dan faktor selera ini tentunya memang dapat dipelajari oleh siapapun akan tetapi mungkin proses dan tempo yang dibutuhkan oleh satu orang dengan orang yang lain tidak sama.

Seperti yang saya jelaskan di atas, saya memahami ilustrasi sebagai hal yang berbeda dengan lukisan. Lukisan merupakan sebuah karya seni yang dibuat seseorang dan susah di tiru ataupun dibuat ulang karena tiap goresan kuasnya tidak bisa sama. Sedangkan ilustrasi, menurut saya lebih seperti sebuah design yang dibuat terstruktur dan memiliki pola. Jadi kita bisa saja membuat ilustrasi yang hampir sama dengan mengamati polanya.

Siapa saja bisa menjadi illustrator, meskipun tidak memiliki bakat menggambar.


Tidak ada metode belajar yang sempurna untuk semua orang

Proses saya dalam belajar ilustrasi adalah dengan memulai hands on menggunakan shape-shape sederhana, lalu secara perlahan barulah meningkatkan kompleksitas teknik dan hasil. Kemudian baru ditahun-tahun belakangan ini saya mulai mempelajari teori-teori pencahayaan, komposisi, pose, perspective, dll.

Nah metode belajar ini bisa dibilang kurang tertata dan cenderung berkembang ketika saya menemui kendala di tengah proses. Namun serangkaian tahapan ini justru sangat cocok untuk saya pribadi. Akan tetapi, saya yakin teman-teman semua pasti punya metodenya sendiri yang pastinya berbeda karena pereference orang dalam menjalani proses belajar yang berbeda-beda. Bila berkenan, silakan teman-teman yang memiliki pengalaman untuk sharing juga disini :)

Paperpillar

Story about paperpillar

Ghani Pradita

Written by

Designer at Paperpillar Studio

Paperpillar

Story about paperpillar