Saya baru saja menyatakan bahwa saya akan sign-out dari Facebook. Tulisan ini menjelaskan beberapa alasannya dan hikmah yang saya peroleh.

Zain Fathoni
Nov 15, 2018 · 5 min read

Alasan Utama

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin melepaskan ketergantungan diri dari Facebook. Hampir setiap waktu luang untuk membaca yang saya miliki, saya gunakan untuk membuka dan scroll News Feed di Facebook.

Padahal banyak bacaan lain yang seharusnya saya baca, seperti buku O’Reilly yg baru saja saya peroleh aksesnya melalui Safari Books Online, artikel-artikel Medium yang saya bookmark untuk saya baca kemudian, link-link di Refind yang saya masukkan daftar Reading list, ratusan tab di ekstensi OneTab yang saya gunakan untuk menandai halaman-halaman web yang perlu disimak kemudian hari.

Selain dalam bentuk bacaan, ada juga beberapa tontonan berbayar yang sempat saya beli dengan uang sendiri — dan sebagian di-reimburse kantor 😁 — , antara lain Advanced React oleh Wes Bos dan TestingJavascript oleh Kent C. Dodds.

Belum lagi dulu saya juga pernah berjanji untuk menuliskan tutorial JavaScript dan React dalam sebuah blog yang fokus membahas tentang kedua topik tersebut, tapi belum juga terselesaikan.

Walhasil, akibat terlalu banyak menyimak Facebook, semua daftar bacaan, tontonan, dan janji di atas terbengkalai begitu saja. Saya tidak tahu kapan harus memulai resolusi saya untuk mulai meninggalkan Facebook.


Pemicu

Lalu di suatu hari yang mendung, datanglah sebuah komentar di Facebook (dan beberapa rentetan komentar yang mengikutinya) yang menyakiti hati saya. Bisa jadi karena nada komentarnya yang terlalu keras, atau mungkin karena saya yang orangnya terlalu melankolis, walaupun saya sering diserang secara langsung oleh orang lain di dunia maya dan saya santai-santai saja dengan itu, tapi baru kali ini saya merasa sakit hati separah ini. Mungkin karena saya sedang sakit fisik (a.k.a. demam, batuk, pilek, linu2) juga saat ini.

Jadi inilah sebenarnya pemicu saya undur diri sejenak dari Facebook, entah sampai kapan. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin sekedar meluruskan bahwa pemicu saya menarik diri dari Facebook ini bukanlah Mas Agung Setiawan dengan aksi tidak membuka Facebook selama sepekan, bukan pula akibat Video dari YouTube tentang dopamine — yang saya juga ga tahu itu yang mana videonya 😅 — .

Setelah saya coba telaah lebih lanjut, ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil dari sini:

Hikmah

#1 Berhati-hatilah dalam Mengomentari Orang Lain

Kita tidak tahu komentar kita yang mana yang menyakiti hati orang lain. Maka alangkah bijaknya apabila kita selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan orang lain, apalagi orang yang tidak kita kenal. Kalau teman sendiri sih, biasanya lebih enak buat minta maaf.

Saya pribadi selalu berusaha berhati-hati dalam berkomentar supaya tidak menyakiti orang lain. Karena bisa jadi dosa menyakiti hati itulah yang menyeret saya ke neraka. Jadi apabila ada yang merasa tersakiti oleh komentar saya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya 🙏🏼. Saya selalu terbuka untuk menerima masukan langsung melalui japri Telegram, di sana saya biasa stand by 24/7.

#2 Jangan Mudah Merendahkan Orang Lain

Jujur, salah satu yang membuat saya sakit hati adalah saya merasa sangat-sangat direndahkan di situ. Sebenarnya saya ingin membela diri, tapi khawatir justru akan menghabiskan waktu dan malah menambah sakit hati lagi karena berinteraksi dengan orang tersebut.

Saya juga selalu berusaha untuk tidak merendahkan orang lain, baik di komentar-komentar Facebook saya maupun di japri-japri yang saya terima melalui Facebook Messenger dan Telegram. Walaupun kadang saya juga agak keras dengan orang-orang yang pertanyaannya hanya sebatas keluhan, meskipun saya sudah berusaha memberikan solusi sebaik mungkin. Sekali lagi, apabila ada yang merasa saya rendahkan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. 🙏🏼

#3 Mungkin Ini Cara Allah Menegur Saya untuk Lebih Produktif

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbagi artikel Medium di Facebook berikut ini:

Salah satu kunci utama produktivitas di situ adalah:

Spend more time producing than consuming

Mungkin selama ini saya sudah terlalu banyak mengonsumsi dan kurang memproduksi konten. Sampai-sampai ada tulisan yang pernah saya janjikan terkait Tutorial JavaScript dan React yang belum sepenuhnya terealisasikan sampai saat ini. Untuk bisa memenuhi janji-janji saya tersebut, saya harus Spend more time producing than consuming. Berhubung di Facebook ini saya lebih banyak consuming, maka saya harap dengan ini saya bisa memiliki waktu lebih banyak untuk producing.

Jadi bagi teman-teman yang menantikan tulisan-tulisan saya di Medium (dan di blog Tutorial JavaScript yang saya janjikan), jangan berkecil hati. Insya Allah saya akan tetap memproduksi konten sebagaimana yang saya lakukan selama ini, hanya saja mungkin tidak akan begitu interaktif di Facebook. Apabila ingin merespons tulisan saya secara publik, bisa langsung mencantumkan komentarnya di sini. Apabila ingin merespons tulisan saya secara privat, Telegram saya selalu terbuka untuk menerima japrian dari Anda.

#4 Mungkin Ini Pula yang Membuat Saya Tetap Bodoh dan Tidak Begitu Berkembang

Di atas tadi sudah saya uraikan beberapa tanggungan bacaan yang belum sempat saya selesaikan akibat terlalu banyak ber-Facebook ria. Harapan saya, dengan menarik diri dari Facebook, saya bisa menuntaskan tanggungan bacaan dan tontonan tersebut sehingga saya bisa meng-upgrade diri dan menjadi semakin mahir di bidang yang saya geluti saat ini untuk nantinya bisa saya bagikan ilmunya kepada teman-teman semua.

#5 Lebih Baik Diam daripada Berkata Buruk/Salah

Tak bisa dimungkiri, bahwa awal mula saya dihina di thread itu adalah karena saya sok tahu dan menyampaikan opini terhadap sesuatu yang saya belum ketahui sepenuhnya. Jadi sebenarnya awal mula petaka ini juga akibat saya sendiri. Memang sudah begini jalan takdir yang Allah tetapkan untuk menyadarkan saya untuk tidak “banyak bacot”.

Interaksi di Facebook yang berupa komentar-komentar singkat sangat memungkinkan kita untuk berkata buruk/salah, karena mudahnya kita untuk bacot di sana. Berbeda dengan Medium, di mana interaksinya berupa tulisan-tulisan yang — seharusnya — panjang, sehingga kita lebih berhati-hati dalam mengungkapkan apa yang kita maksud.


Penutup

Tindakan saya ini bukan dalam rangka memutus tali silaturahmi, karena saya masih bisa dihubungi melalui Telegram. Hanya saja saya mencoba meninggalkan Facebook karena menurut saya bentuk interaksinya kurang menunjang produktivitas saya. Terima kasih atas pertemanannya yang hangat selama ini. Sampai jumpa di lain kesempatan (dan mungkin juga di Facebook lagi, tapi ga tahu kapan 😁).


Perkenalkan, saya Zain Fathoni, seorang Software Engineer di Ninja VanSingapura 👨🏻‍💻. Saya mulai gemar menulis tentang kehidupan berkeluarga dan programming, mengikuti jejak istri saya, Vika Budi Riandini, yang telah banyak menulis di blog Rumah Berbagi tentang kesehatan, pengasuhan anak, dan perihal rumah tangga lainnya 👨‍👩‍👧‍👦.

Apabila Anda merasa tulisan ini bermanfaat, silakan klik tombol 👏🏼 sebanyak mungkin dan bagikan tulisan ini kepada orang lain melalui media sosial Anda supaya lebih banyak lagi orang yang bisa mendapatkan manfaatnya. Terima kasih 🙏🏼.

Untuk menyimak tulisan-tulisan saya ke depan, silakan berlangganan melalui email dengan mengisi form berikut ini, karena saya tidak akan membagikannya melalui Facebook lagi dalam waktu dekat:

Pejuang Kode

Berjuang dengan kode

Zain Fathoni

Written by

A father, husband, & software engineering enthusiast.

Pejuang Kode

Berjuang dengan kode

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade