Sepenggal kisah unik kami sekeluarga pindahan rumah hanya dalam waktu 4 hari sejak keputusan pindah hingga duduk manis di rumah baru.

Zain Fathoni
Mar 6 · 9 min read

Pengantar

Februari ini tepat setahun kami sekeluarga tinggal di Singapura. Itu berarti habis pula masa kontrakan rumah kami yang hanya setahun. Beberapa bulan sebelumnya saya sempat dihubungi oleh pemilik rumah mengenai status perpanjangan kontraknya dan saya menyatakan bahwa saya bersedia memperpanjang kontraknya hingga dua tahun mendatang, karena kami sudah merasa sangat nyaman dengan lokasi dan lingkungan rumah yang kami tinggali ini.

Segala urusan perjanjian kontrak dari pihak saya sudah tuntas sejak November lalu, sehingga kami tinggal menunggu menjelang dimulainya periode baru kontrakan untuk mentransfer tambahan uang deposit yang menjadi kewajiban kami. Akhir Februari lalu pun langsung saya lunasi kewajiban pembayaran saya tersebut, dengan asumsi bahwa segala urusan administrasi telah diselesaikan oleh pihak pemilik rumah.

Berikut ini akan saya ceritakan kronologis kejadian-kejadian setelah itu. Saya awali dari tanggal 1 Maret lalu.


1 Maret 2019

17:00 — Pemberitahuan Mendadak

Mendadak saya mendapatkan kabar dari agen perantara bahwa urusan administrasi perjanjian kontrakan rumah tersebut terhambat. Perlu diketahui bahwa pemerintah Singapura memang punya aturan yang cukup ketat mengenai proses jual-beli-sewa propertinya, mengingat lahan Singapura yang sangat terbatas. Tanpa regulasi yang ketat, mungkin Singapura tidak akan bisa selamat menghadapi arus imigrasi yang tinggi. Saking ketatnya, bahkan untuk urusan sewa-menyewa rumah pun harus ada agen CEA yang terlibat di dalamnya supaya transaksinya berlaku sah secara hukum.

Selain itu, ada juga aturan mengenai adanya kuota untuk non-warga negara Singapura dan Malaysia (Non-Citizen Quota) di setiap gedung dan zona apartemen milik pemerintah. Intinya, saya tidak bisa tetap tinggal di rumah tersebut karena Non-Citizen (NC) Quota di apartemen itu sudah penuh. Terkait bagaimana kasus aneh ini bisa terjadi, saya sendiri belum benar-benar paham bagaimana duduk perkara yang sebenarnya, siapa yang salah, apa yang harusnya saya lakukan untuk menghindarinya, dsb. Mungkin akan saya tuliskan di lain kesempatan setelah berhasil mendapatkan keterangan langsung dari pemerintah. Yang jelas, status residensi saya di rumah itu sudah ilegal per tanggal 1 Maret itu.

20:00 — Rencana “Kabur” ke Kampung Halaman

Agen CEA kami memberi saran untuk “mengungsi” ke rumah teman di Singapura selama legalitas status kami masih dia upayakan. Namun bagi kami itu bukan pilihan, karena kami juga sadar diri bahwa rumah teman-teman kami sesama WNI di Singapura ini tidak cukup besar untuk menampung kami berempat sekeluarga. Akhirnya saya rencanakan untuk mengungsi ke kampung halaman, waktu itu saya langsung cari-cari tiket pesawat untuk mudik mendadak.

Selain mencari tiket, saya juga sekalian iseng-iseng mencari rumah kontrakan baru yang siap dihuni secepatnya, meskipun waktu itu kurang begitu yakin bisa mendapatkannya, karena tidak semudah itu untuk mencari tempat tinggal yang cocok di Singapura. Beberapa agen CEA sempat saya kontak untuk menanyakan status dan kondisi rumah yang mereka sewakan.

21:00 — Menemukan Rumah Baru

Qadarullaah, dari sekian rumah yang saya incar, ada satu rumah yang lokasinya sangat dekat dari rumah kami, lokasinya tepat berada di gedung apartemen sebelah rumah kami. Bahkan jendela dapurnya pun masih bisa terlihat dari jendela dapur rumah kami 😅. Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas, kami masih merasa sangat nyaman dengan lingkungan apartemen ini, maka tentunya bagi kami ini adalah kandidat rumah baru yang paling baik.

Ternyata tak lama kemudian, malam itu juga saya langsung dihubungi balik oleh agen CEA rumah itu untuk melihat langsung kondisi rumahnya, karena kebetulan pemilik rumahnya sedang ada di lokasi juga. Sepertinya mereka baru selesai mempersiapkan rumah tersebut untuk dikontrakkan, hal itu terlihat dari waktu postingan rumah tersebut di Property Guru yang baru dirilis pagi harinya.

Tanpa berpikir panjang, kesempatan itu tidak kami lewatkan. Kami langsung bergegas menuju lokasi dan melihat kondisi rumah tersebut. Alhamdulillaah, kami cocok dengan lokasi dan kondisi rumahnya. Harga sewanya pun sama persis dengan rumah yang saya tinggali sebelumnya, jadi dari sisi anggaran sewa rumah tidak ada perbedaan sama sekali bagi saya baik tinggal di rumah lama maupun di rumah baru. Padahal menurut perkiraan kami luas bangunannya lebih besar daripada rumah sebelumnya. 😄

Tak lupa kami juga seketika langsung memastikan bahwa NC Quota di gedung apartemen tersebut masih tersedia, karena apabila tidak, tentu kami tidak akan bisa menempati rumah ini. Alhamdulillaah, ternyata kuotanya masih tersedia. Berarti kuota yang habis di rumah lama itu hanya kuota untuk gedung apartemen tersebut, tapi kuota untuk zona apartemennya masih tersedia. 😇

2 Maret 2019

11:00 — Pembayaran Uang Muka untuk Rumah Baru

Keesokan harinya, setelah memastikan kondisi rumah pada siang hari, kami langsung bayarkan uang muka sebagai tanda jadi bahwa kami siap menghuni rumah tersebut. Kami bahas pula dengan agen CEA-nya mengenai proses serah terima rumah dan proses pindahan kami. Yang jelas, kami ingin pindah secepatnya karena status residensi kami saat itu sudah tidak sah secara hukum. Akhirnya kami sepakati untuk serah terima kunci keesokan harinya.

13:00 — Berkemas ala Konmari

Sepulang darinya, kami langsung mengemasi barang-barang kami di rumah. Sebenarnya lebih tepatnya istri saya yang mengemasi barang-barang, saya pergi ke luar menjemput Najmi dari ngaji di masjid dekat rumah sambil momong anak-anak supaya tidak mengganggu aktivitas ibunya di rumah, hehe.. 😁 Proses pengemasan dan penataan ulang barang-barangnya bisa dibaca di story highlight istri saya berikut ini:

3 Maret 2019

13:00 — Serah Terima Kunci

Sekitar 24 jam kemudian, kami mendapat kabar bahwa rumahnya sudah siap untuk ditempati. Seketika itu pula kami langsung menuju lokasi, melunasi sisa pembayarannya, serta tanda tangan kontrak dan serah terima rumah dan beberapa aset di dalamnya. Kemudian saya dan anak-anak pergi membeli makan siang dan istri saya lanjut menuntaskan beberapa pakaian yang belum selesai dikemas.

16:00 — Pindahan ala Ninja

Karena lokasi rumah yang begitu dekat, kami putuskan untuk memindah barang-barang kami sendiri yang masih bisa kami pindah sendiri tanpa bantuan agen pindahan rumah. Ngirit Bos! 💸 Banyak dana tak terduga harus kami keluarkan untuk proses administrasi pindahan, ngurus pindahan internet, listrik, & air — di sini tagihan internet, listrik, & air atas nama kontraktor, bukan atas nama pemilik rumah — . Belum lagi pemborosan akibat harus beli makan di luar selama beberapa hari karena tidak bisa memasak sendiri di rumah — di Singapura ini selisih biaya makanan beli matang di luar dan masak sendiri di rumah bisa sangat jauh berbeda, sedikit khilaf terlalu banyak jajan saja sudah bisa berakibat pada overbudget senilai jutaan rupiah. 😅

Angkutan Ninja Pertama

Urusan berkemas dan penataan di rumah memang mayoritas bagian istri saya yang jago banget menerapkan prinsip-prinsip Konmari, tapi kalau urusan memindah barang, tentu itu sudah menjadi tanggung jawab moral saya sebagai Ninja. 😆

Terhitung sembilan kali saya bolak-balik jalan dari rumah lama ke rumah baru dengan membawa barang-barang menggunakan stroller raksasa untuk anak-anak. 😵

4 Maret 2019

05:00 — Lanjut Pindahan ala Ninja

Karena sampai larut malam proses pindahannya masih belum selesai, keesokan harinya saya tuntaskan barang-barang ringan terakhir yang belum sempat saya angkut. Ini penampakan angkutan terakhir saya. 😂

Angkutan Ninja Terakhir

09:30 — Pindahan ala Ninja Hattori

Sekarang tinggal barang-barang besar seperti lemari pakaian, lemari es, dan kasur yang proses pindahannya tidak bisa saya lakukan sendiri. Untuk itu, kami membayar penyedia jasa pindahan rumah. Di sini, jasa pindahan rumah sangat profesional, barang-barangnya dibungkus rapat dengan plastik wrapper seperti koper-koper di bandara, kemudian diangkut menggunakan troli. Karena jarak pindahannya juga cukup dekat, jadi tidak perlu lagi diangkut dengan mobil, cukup dipindahkan ke gedung sebelah saja. Itu semua bisa mereka tuntaskan dalam waktu 30 menit saja! 👏🏼 Ini baru Ninja beneran, tidak seperti saya, Ninja gadungan yang butuh waktu berjam-jam untuk melakukan hal yang sama. 🙊

10:00 — Penataan ala Konmari

Hari ini saya sengaja mengambil cuti dari kantor supaya (lagi-lagi) saya bisa menjaga anak-anak dan istri saya bisa fokus menjalankan tugasnya kembali. 😅 Berikut ini kira-kira gambaran before-after-nya di rumah kami.

Before
After

Yang bikin tambah ribet adalah, pemilik rumah barunya terlalu baik kepada kami sehingga mereka meninggalkan banyak barang-barang bekas mereka di rumah dan menghibahkannya kepada kami. Tentu kami dengan senang hati menerima pemberian itu, tapi di sisi lain ada tambahan pekerjaan juga bagi kami untuk memilah-milah barang mana yang menurut kami masih layak pakai dan ingin kami gunakan serta barang mana yang sudah tidak layak pakai dan harus dibuang. 😅 Alhamdulillaah, istri saya, Vika Budi Riandini, sangat sigap dan cekatan dalam urusan demikian. Jadi tugas saya tinggal angkat-angkat barang yang perlu dibuang saja. 😁

11:00 — Bersih-Bersih dan Serah Terima Rumah Lama

Meskipun proses penataan di rumah baru masih belum selesai, kami masih harus kembali lagi ke rumah lama untuk membersihkannya, karena sore harinya kami harus segera mengembalikan rumah lama kepada pemiliknya.

Alhamdulillaah, proses serah terima rumah lama berjalan cukup lancar, walaupun ada beberapa hal yang mengecewakan terkait perhitungan pengembalian deposit di akhir masa kontrakannya. Tapi secara umum prosesnya berjalan lancar, dengan menyisakan satu PR pindahan lagi buat saya, yaitu memindahkan sofa bekas dari rumah baru ke rumah lama sebagai bentuk ganti rugi atas sofa bekas di rumah lama yang sobek sebagian. Karena sofa bekas di rumah baru ini sudah dihibahkan oleh pemilik rumah kepada kami, maka kami bisa menggunakannya sesuka hati, termasuk sebagai barang pengganti atas sofa bekas di rumah lama yang sobek itu. 😁

5 Maret 2019

10:00 — Bala Bantuan Datang!

Karena saking banyaknya urusan di hari sebelumnya, proses penataan di rumah masih belum selesai. Saya pun juga masih punya PR untuk memindahkan sofa dan saya putuskan untuk mengambil cuti lagi di hari ini. Istri saya mencoba menghubungi temannya di dekat rumah sini untuk meminjam troli untuk keperluan memindah sofa. Eh, bukannya dapat pinjaman troli, mereka malah menawarkan bantuan untuk pindahan. 😅

Kami memang tidak butuh bantuan untuk pindahannya, karena semua barang sudah selesai dipindahkan di hari sebelumnya. Tapi kami masih butuh bantuan untuk menata barang-barang kami yang masih berserakan di ruang tamu. 😆 Alhamdulillaah, teman istri tersebut datang dengan membawa dua orang teman lainnya, sehingga dengan bantuan mereka semua, ruang tamu kami langsung bersih dalam waktu 30 menit! 👏🏼 Terima kasih banyak Mbak Susi dkk. atas bantuannya, jadi nambah teman baru juga di sini. 😇

22:00 — Pindahan Sofa ala Ninja

Karena gagal mendapatkan pinjaman troli untuk memindah sofa, berarti mau tidak mau saya harus mengangkat sofa itu sendiri. Tidak mungkin juga sofa itu diangkut dengan menggunakan stroller, saya khawatir stroller-nya rusak karena beban sofa yang terlalu berat. Dan karena saya juga tidak ingin jadi perhatian banyak orang ketika mengangkut sofa sendirian, saya putuskan untuk melakukannya di malam hari.

Meskipun jadinya lebih mirip maling sofa 😅, tapi setidaknya saya hanya bertemu segelintir orang ketika saya sedang berjalan memindahkannya. Berikut ini gambar sofa yang harus saya pindahkan.

Sofa bekas dari rumah baru (kanan) duduk manis bersama sofa-sofa bekas dari rumah lama (tengah), termasuk yang sudah sobek (kiri).

Penutup

Photo by Kogulanath Ayappan on Unsplash

Alhamdulillaah, akhirnya selesai juga proses pindahan dadakan kali ini. Skill angkat-angkat yang saya kembangkan semasa aktif di kegiatan organisasi dulu dan skill beres-beres istri saya dengan prinsip Konmari yang ia pelajari selama beberapa tahun terakhir dipertaruhkan di sini, dan alhamdulillaah kami bisa melaluinya dengan lancar dan terbilang sukses. 😇

Prosesnya memang sangat mengejutkan dan melelahkan bagi kami, tapi banyak sekali hikmah yang kami peroleh dari kejadian ini. Kami juga merasa bahwa inilah cara Allah untuk memberikan kami kehidupan yang lebih baik, seiring dengan kebaikan-kebaikan yang kami temukan pasca melaluinya.

Kebaikan-kebaikan tersebut antara lain yaitu:

  1. Rumah yang jauh lebih luas, terang, dan nyaman untuk sarana belajar homeschooling anak-anak.
  2. Tetangga yang ramah dan ada anak-anak kecilnya sehingga bisa jadi teman main baru Najmi dan Isa.
  3. Pemilik rumah yang lebih ramah dan murah hati dengan berbagai fasilitas yang disediakannya.
  4. Dan beberapa informasi baru lainnya yang mungkin tidak akan kami ketahui saat ini apabila kami tidak mengalami kejadian ini.

PR selanjutnya bagi kami adalah menggali informasi selengkap-lengkapnya mengenai kejadian yang menimpa kami ini, supaya kejadian yang sama tidak lagi terulang baik kepada kami maupun kepada para pembaca blog kami. Semoga Allah mudahkan untuk menemukan titik terang kebenarannya. 😇


Perkenalkan, saya Zain Fathoni, seorang Software Engineer di Ninja Van Singapura 👨🏻‍💻. Saya mulai gemar menulis tentang kehidupan berkeluarga dan programming, mengikuti jejak istri saya, Vika Budi Riandini, yang telah banyak menulis di blog Rumah Berbagi tentang kesehatan, pengasuhan anak, dan perihal rumah tangga lainnya 👨‍👩‍👧‍👦.

Apabila Anda merasa tulisan ini bermanfaat, silakan klik tombol 👏🏼 sebanyak mungkin dan bagikan tulisan ini kepada orang lain melalui media sosial Anda supaya lebih banyak lagi orang yang bisa mendapatkan manfaatnya. Terima kasih 🙏🏼.

Pejuang Kode

Berjuang dengan kode

Zain Fathoni

Written by

A father, husband, & software engineering enthusiast.

Pejuang Kode

Berjuang dengan kode

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade