The Handmaid’s Tale dan Utopia Palsu Feminisme

Oleh Indah Febryyani

Saya menutup laptop sembari menghela nafas berat. Baru saja tiga musim drama distopia dari HBO berjudul The Handmaid’s Tale rampung saya tonton. Serial yang diangkat dari novel Margaret Atwood terbitan tahun 1985 dengan judul sama tersebut selesai dalam 36 episode. Endingnya cukup menggantung dan membuat saya bertanya-tanya, sekedar menyelipkan sedikit harapan andai saja ada musim keempat sebagai lanjutan. Yah minimal prekuelnya.

Seri The Handmaid’s Tale menceritakan protagonis bernama Offred (Elizabeth Moss) yang bernama asli June Osborn di dunia paska Perang Saudara AS Kedua. Offred adalah seorang handmaid, kelompok wanita fertil yang diperdayakan paksa menjadi “mesin pencetak demografi” di negara totaliter baru. Republik Gilead terbentuk oleh gerakan rezim represif berbasis agama yang menamai diri mereka “Sons of Jacob” untuk menjawab krisis fertilitas di Amerika.

Build up cerita yang ditawarkan oleh seri ini sangat menarik karena kita tidak hanya melihat bagaimana gambaran distopia sebuah negara adidaya di bawah pemerintahan totaliter, tetapi juga melihat visualisasi Atwood dari efek gerakan feminisme secara masif. Dilihat dari catatannya, penulis menerbitkan novel ini di era feminisme gelombang kedua. Distopia adalah genre yang menceritakan kemungkinan masa depan berdasarkan kondisi apa yang sedang terjadi saat ini dalam konteks negatif. Kita diajak melihat evolusi Offred dari sosoknya yang tertekan hingga memberontak. Kisah hidupnya sebelum dan sesudah Gilead. Kita juga mengetahui beberapa fakta bahwa Offred/June adalah anak dari aktivis feminis yang memilih menjadi single mom. Moira, sahabatnya adalah seorang lesbian. Ofglen teman belanjanya ternyata dulu adalah dosen bergelar doktor di Harvard dan menjalani same sex marriage. Konflik di dalam cerita juga tidak jauh dari tema seksualitas, gender, dan patriarki.

Seri ini membuat saya agak bergidik karena gambaran dunia dalam pengaruh feminisme yang nyata itu tengah dirasakan pergerakannya di Indonesia. Perlahan, masyarakat dicekoki paham-paham keliru berbasis HAM yang kebablasan. Semua value dari feminisme asal tabrak masuk ke dalam sosio-kultural negara tanpa peduli apakah fit and proper terhadap moral sosial dan agama kita. Pergerakan kelompok “marjinal” berteriak meminta keadilan negara untuk mengurusi gaya hidup mereka namun disatu sisi juga merengek agar negara tidak usah ikut campur urusan selangkangan. Sebuah inkonsistensi argumen yang apik. Akal dipelintir seakan orang yang tidak satu barisan dengan kaum “marjinal” dicap sebagai anti HAM, mabok agama, dan pelindung pemerkosa.

Ditengah riuh rendahnya media mainstream menggoreng isu RUU PKS yang sangat kental dengan nilai sekularisme, saya mengkhayalkan perspektif kontras dari seri The Handmaid’s Tale yang meromantisasi kehidupan pra Gilead. Kehidupan yang bebas memilih, bebas menjadi apa, bebas berpakaian apa, bebas menikahi siapa, bebas melahirkan anak dari siapa saja seperti AS sebelum kudeta. Apabila kelak rumusan Undang-Undang ini benar disahkan, akankah Indonesia menjadi negara yang lebih makmur dan damai seperti di seri?

Ah, tidak percaya.

Dalam rumusan Perundang-Undangan tersebut, banyak problematika baru yang diprediksi terjadi dari implikasi hukumnya. Semakin mudahnya akses alat kontrasepsi tapi usia pernikahan yang semakin naik menyebabkan lebih banyak remaja yang rawan melakukan seks non-marital. Toh juga penggunaan alat kontrasepsi tidak secara instan mencegah kehamilan dan penyakit menular seksual. Kemudian, permohonan agar akses aborsi aman dipermudah terutama bagi korban perkosaan. Ya, menjadi korban itu sangat menyakitkan, tetapi tetap ada kode etik kedokteran dan koridor hukum yang mengatur aborsi. Bila abai, siap-siap Indonesia merasakan isu rendahnya fertilitas dan naiknya Penyakit Menular Seksual. Lebih ngaco lagi, pasangan suami istri bisa dijerat delik marital rape, padahal masyarakat ngerti definisinya saja enggak. Efek lebih jauh kemana? Tentu ke semua orang yang tidak punya akses untuk mengerti. Semua prediksi tersebut bersifat chain reaction dan itu baru beberapa poin.

Saya tidak melihat dunia pra Gilead sebagai dunia ideal.

Justru saya melihat itu sebagai gambaran dunia yang bisa saja terjadi bila kita lalai dan membawa kehancuran. Sebagai seorang Muslim harusnya kita mampu memfilter paham dari luar yang masuk. Jangan asal internalisasi tanpa mengerti (kayak yang sering digaungkan kaum so called open minded). Bisa jadi apa yang ditawarkan feminis bagaimana idealnya dunia memperlakukan wanita hanya utopia palsu semata. Sejatinya mereka tidak benar-benar berpihak pada kemajuan dan kemaslahatan umat. Feminisme hanya dijadikan excuse dan life style value untuk menjadi pembenaran atas kebiasaan buruk dan menyimpang yang menjamur di masyarakat modern. Terutama masyarakat yang buta dunia dan lupa bahwa hidup hanya kesenangan sementara.

Selain itu saya melihat satu poin yang kontras. Gilead membentuk masyarakat mereka dengan kosakata baru. Tidak ada lagi sapaan “hello”, “goodbye”, “thank you” yang ada hanyalah sapaan yang terkesan God Centric: “Blessed be the fruit”, “May The Lord open”, “Blessed day” yang harus diucapkan dalam percakapan sehari hari. Konstruksi masyarakat yang baru tersebut menciptakan suasana yang kaku juga baku. Bahasa telah menjadi salah satu faktor berubahnya dinamika masyarakat di Gilead yang bertransformasi dari masyarakat liberal menjadi masyarakat rezim totaliter.

Menurut teori sosiolinguistik sendiri, bahasa berpengaruh pada definisi. Akhir-akhir ini kita bisa melihat progresivitas ameliorasi bahasa dan definisi yang berkaitan dengan gender di Indonesia. Sebenarnya ini bukan hal baru. Dulu sebelum ada istilah Pekerja Seks Komersial, sinonimnya adalah sundal, jalang, pelacur. Definisnya juga jelas: wanita yang memperjualbelikan jasa seks di luar pernikahan. Hukum yang menjerat dari definisi ini juga mudah menjerat karena makna dari kata yang tidak ambigu. Ketika terminologi LGBT mulai mencuat ke permukaan, konstruksi sosial kita perlahan “didoktrin” bahwa penyebutan homo itu tidak berperikemanusiaan (peyorasi) dibandingkan kata gay (ameliorasi). Pergeseran kata ini akan menimbulkan persepsi baru di masyarakat tentang komunitas LGBT dan juga bagaiamana melihat framing seksualitas.

Hal yang sama bisa kita rasakan bila kelak rancangan hukum ngawur ini diimplikasikan ke masyarakat. Se powerful itu makna bahasa! Kaum feminisme sepertinya sadar dengan perubahan dinamika bahasa terhadap persepsi masyarakat seperti apa yang dilakukan Gilead.

Dari serial The Handmaid’s Tale ada satu pelajaran yang bisa dipetik. Kebebasan feminisme yang kebablasan di serial tersebut berujung pada petaka negara adidaya: bencana infertilitas dan darurat demografi. Tanpa harus menunggu itu terjadi, sudah ada contoh konkrit dari Jepang. Jepang memperlihatkan fakta kaum muda yang melihat pernikahan sebagai momok menakutkan dan samen leven sebagai jalan keluar dari kebutuhan mereka atas pelampiasan nafsu. Hasilnya? Krisis demografi yang merugikan kaum lansia sehingga beban kerja produktif negara semakin panjang. Jepang sedang berusaha keluar dari krisis demografi ini meskipun tidak menggunakan cara seperti Republik Gilead, sih… Pantaskah dunia yang singkat ini kita gadaikan dengan kebahagiaan akhirat hanya demi memperjuangkan sesuatu yang semu? Jawaban ada di setiap individu…

Pena Putih: Collective Essay

Medium kolektif untuk menuangkan pemikiran berbasis Islamic Worldview. Mari mengeksplorasi lagi value dan pemikiran bernafaskan Islam demi Indonesia yang damai.

Pena Putih Collective Essay

Written by

Pena Putih: Collective Essay

Medium kolektif untuk menuangkan pemikiran berbasis Islamic Worldview. Mari mengeksplorasi lagi value dan pemikiran bernafaskan Islam demi Indonesia yang damai.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade