Kado Untuk Liani

Bagus Poetra
Nov 6 · 12 min read

Namaku Amran. Umurku 13 tahun. Keluarga kami baru pindah rumah. Agar lebih dekat dengan kantor kerja Ayah, kami pindah ke sebuah rusun di Slipi. Rusun ini sebenarnya terdiri dari 3 gedung. Gedung A, B, dan C. Rumah baru kami terletak di lantai 15, yang paling tinggi di gedung A. Gedung B dan C terdiri dari 20 lantai.

Karena pindah rumah, maka aku dan adikku, Ardi, juga harus pindah sekolah. Sekolahku yang baru tidak terlalu buruk. Begitu pula adikku. Tapi karena kami anak baru, kami masih harus menyesuaikan diri.

Tadinya ayah bekerja sebagai karyawan toko di dekat rumah nenek. Tapi beberapa minggu ke belakang, katanya ayah mau pindah kerja ke Jakarta. Ayah bilang, “Pekerjaan baru ini lebih menyenangkan”.

Ibuku tidak bekerja. Sehari-hari ia berada di rumah sambil menyirami bunga-bunganya yang baru ia beli. Sepertinya membosankan ya menjadi ibu. Setiap hari cuma berdiam diri di rumah, tidak bisa bermain keluar. Tapi katanya, kalau ibu tidak di rumah, “Nanti kamu gak bisa makan telur dadar kesukaanmu.

Sebelum pindah, ayah sering mengajak kami bermain di kolam di dekat sawah kakek. Airnya bersih dan ikannya besar-besar. Ayah juga suka membawakan kami keripik. Adikku suka sekali snack itu. Tapi semenjak pindah, ayah cukup sibuk dan tidak bisa terlalu sering bermain dengan kami. Maka, suatu hari, ayah mengajak kami ke pasar dan membelikan kami sarung tangan dan bola kasti. Kami diajak ke loteng rusun untuk bermain lempar-tangkap.

Permainannya menyenangkan. Kecuali bagian-bagian ketika kami melempar terlalu keras dan bolanya jatuh dari loteng. Kata ayah, “Selama belum kenal dengan orang-orang, bermainlah di sini. Kami sering bermain di loteng setelah itu.

Suatu siang, ketika kami sedang bermain di loteng, lemparanku melenceng jauh hingga mengarah ke gedung sebelah. Bola itu masuk ke jendela sebuah kamar di sana. Mungkin sekitar lantai 16, atau mungkin 17.

Tuh kan, asal lempar sih”, kata Ardi. Dengan muka cemberut, aku menatap balik Ardi yang mengesalkan itu. Jendela kamarnya memang selalu terbuka. Setiap kami bermain di loteng, hanya kamar itu yang jendelanya terbuka. Kami tidak tahu siapa yang tinggal di sana karena ruangannya selalu gelap. Apa jangan-jangan, kamar itu ada hantunya? Entahlah, mana ada hantu di siang-siang bolong?

Aku sudah lelah dan malas mencari bolanya. “Beli bola baru aja deh, Di. Pakai tabunganku gak apa-apa kok”, kataku. Tabunganku memang cuma sedikit, tapi mungkin cukup untuk beli bola baru.

Ihh, nanti ku bilang ke ayah, dimarahin loh”, balasnya.

Eh, jangan dong. Kok main bilang-bilangin sih”, ujarku dengan nada panik.

Yaudah kakak cari bolanya sana. Aku tunggu di sini”, katanya.

Bantuin dong. Kan kita main berdua. Nyari bolanya juga berdua dong”, balasku dengan nada kesal.

Lalu, kami dikejutkan dengan kejadian yang tidak terduga. Bola kasti itu tiba-tiba jatuh ke hadapan kami berdua. Kami saling menatap. Kemudian tatapan kami sedikit demi sedikit beralih ke arah kamar yang ada di gedung B. Jantungku berdegup kencang. Keringatku mengalir deras hingga membasahi leher. Semua bunyi bising jalanan seketika menjadi hening. Kami menatap kamar itu selama beberapa detik sambil bertanya-tanya keheranan.

Kak, apaan tuh?!”, adikku bertanya keheranan sambil menunjuk ke kamar tadi.

Dengan ketakutan, aku mencoba mendekat untuk mencari tahu. Kemudian terdengar suara reot dari balik kamar itu diiringi dengan penampakkan seorang perempuan yang duduk di atas kursi roda.

Sekonyong-konyong kami langsung berteriak ketakutan, “Aaaaah. Hantu!!!”.

Kami dengan terbirit-birit berlari menjauh dan bersembunyi di belakang tumpukkan meja di loteng. Adikku yang penasaran itu mencoba untuk melihatnya lagi. Ia mengintip pelan-pelan ke arah kamar tadi. Aku melihatnya sambil menunggu teriakan apalagi yang akan dia keluarkan. Pandangannya seperti kebingungan.

Tangannya mencoba menarik-narikku sambil berbisik, “Kak, sini lihat deh”.

Dalam hatiku, “Mampus. Masa suruh lihat setan sih”.

Gak mau, jangan”.

Eh, sini lihat dulu, ga ada setannya”.

Karena aku malah jadi penasaran, aku mencoba memberanikan diri mengintip lewat atas meja. Mataku sedikit-sedikit bergerak melihat ke arah kamar tadi. Lalu, aku yang pensaran itu dibuat terkejut. Di kamar itu tidak ada setan. Akan tetapi justru seorang anak perempuan yang duduk di atas kursi roda.

Coba ke sana, Kak”, ujar Ardi.

Aku yang juga sama penasarannya dengan dia kemudian maju, “Ayo, bareng”.

Kami berdua mendekat ke arah anak perempuan itu. Anak itu mengenakan sweater hijau dengan rok batik yang lusuh. Mata kirinya ditutupi perban putih yang sepertinya baru diganti. Rambutnya panjang dan berwarna hitam. Ia menggunakan kursi roda dan duduk di balkon di depan kamarnya. Ketika kami sudah cukup dekat, bibirnya yang pucat itu melekuk perlahan memberi sinyal senyuman kepada kami. Tangannya melambai lesu menyapa kami berdua, tapi ia tidak bicara apa-apa.

Aku menatap adikku. Ia juga menatap balik. Kemudian kami membalas sapa anak itu dengan lambaian dan senyuman yang kelihatannya sedikit terpaksa karena kebingungan. Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.

Aku bertanya, “Nama kamu siapa?”.

Dia hanya menatap kami tanpa memberi jawaban. Tangannya yang lemah itu kemudian memberi isyarat seakan-akan sedang melempar sesuatu.

Kak dia minta lempar bolanya kali”, kata adikku.

Aku kemudian mengambil bola kami dan melemparkannya ke arahnya. Anak perempuan itu mengambilnya dan mengikatkan selembar kertas menutupinya. Lalu ia lemparkan lagi ke arah kami. Adikku mengambil bolanya dan membuka kertas yang menutupinya itu.

Bacain, Kak, kayaknya dia nulis nama”, kata adikku.

Kemudian aku mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Di sana tertulis,

Salam kenal. Namaku Liani. Maaf aku tidak bisa bicara.

Tanganku masih memegang kertas itu, kemudian tatapanku tertuju padanya. Ia membalas tatapanku dengan senyuman. Lagi-lagi senyuman lemah.

Katanya, Namanya Liani. Dia bilang dia gak bisa bicara”, ujarku pada Ardi.

Ohh gitu. Kasian ya, Kak”.

Sambil melambai-lambai, adikku berteriak kepada anak itu, “Halo, Liani. Namaku Ardi. Maaf ya tadi Kak Amran lempar bola ke kamarmu”.

Mendengar ucapannya, aku juga teringat bahwa harus minta maaf kepada anak itu, “Liani. Maaf tadi aku lempar bola ke kamarmu. Salam kenal juga ya”.

Anak perempuan itu membalas dengan mengangguk-angguknan kepalanya. Ia lalu mengisyaratkan tangannya lagi. Aku lemparkan kembali bola dan kertas itu ke arahnya. Ia kemudian mengambil pensil dan menuliskan sesuatu di kertas. Lalu ia remas kertas itu menutupi bola dan melemparnya lagi. Aku mengambilnya dan membaca tulisannya.

Gak apa-apa. Boleh ikut main?

Katanya dia mau ikut main, Di. Bolehin atau engga?” tanyaku ke Ardi.

Adikku lalu tiba-tiba menendang kakiku seperti kesal, “Ya bolehin lah, Kak. Dasar jahat”.

Dasar Ardi tukang tending kaki.

Aww sakit tau. Ya aku kan cuma nanya”, balasku dengan kesal.

Ketika aku melihat anak perempuan itu lagi, ia tertawa. Semenjak saat itu, kami sering bermain lempar bola bersama. Kalau hujan turun, biasanya kami tetap bermain, apalagi kalau ibu sedang tidur. Kalau ibu bangun kami suka kena marah. Tapi Liani tidak ikut bermain jika hujan. Dia hanya menonton dari balik jendela kamarnya.

Pernah suatu siang kami bermain lempar-tangkap dengannya, lemparan Liani tidak cukup jauh dan akhirnya bola itu jatuh ke gang yang memisahkan gedung A dan B. Saat itu, wajahnya menunjukkan penyesalan. Ia kemudian menempelkan kedua tangannya seperti sedang meminta maaf.

Adikku kemudian bilang, “Haha, gak apa-apa, Lia. Nanti biar Kak Amran yang ambil”.

Lah, kok aku?!”.

Yaudah ntar aku bantuin deh. Lia tunggu di sana ya!”, ujar Ardi.

Kami kemudian mencari-cari di tumpukan rongsokan di gang itu. Gang itu bau. Sepertinya ada yang membuang sampah di sana. Setelah setengah jam kami cari, akhirnya kami menemukan bolanya dalam keadaan basah dan bau. Kami membawa balik bolanya ke atas untuk dicuci dan dikeringkan.

Ketika kami kembali ke loteng, kami menemukan plastik putih tergeletak. Aku mengambilnya dan membukanya. Di sana ada makanan dan kertas. Kuambil kertas itu dan kulihat isinya.

Ini buat kalian. Maaf ya bolanya jatuh.

Makanan itu ternyata adalah snack keripik. Ini snack kesukaan adikku.

Setelah melihat isinya, adikku segera berteriak, “Makasih ya, Liani! Aku suka Keripik!”.

Liani yang duduk di balkon hanya tertawa melihat kami berebut makan keripik yang ia beri.

Selama beberapa minggu, kami sering bermain bersama. Ardi bahkan menceritakan ini ke ayah dan ibu.

Mendengar cerita kami, ayah bilang, “Baik-baik ya sama Liani. Sepertinya kalian satu-satunya teman dia”.

Ibu juga bilang ke kami, “Hati-hati kalau melempar. Nanti terlalu keras, kan kasian dia”.

Ayah dan ibu sepertinya memang tidak kenal Liani ataupun keluarganya, tapi mereka berdua senang jika kami berteman dengannya.

Suatu hari, ketika sedang bermain, Liani meremas kertas dan mengikatnya di bola. Ia melemparkannya kepada kami. Sepertinya ia mau bilang sesuatu. Aku lalu mengambilnya dan membaca isi kertasnya.

Besok lusa hari ulang tahunku. Datang ya! Kamarku di lantai 16 nomor 51a.

Adikku bertanya, “Apa isinya, Kak? Dia mau ngasih keripik lagi?”.

Ihh, pikiranmu keripik doang”.

Dia bilang dia ulang tahun besok lusa. Kita diundang buat datang. Mau gak?”, tanyaku.

Ohh, iya dateng yuk, Kak. Kita beliin hadiah yang bagus”.

Adikku kemudian mendekat ke arah Liani dan berteriak, “Liani, tenang aja. Besok lusa kami datang bawa hadiah yang bagus ya!”.

Permainan hari itu selesai. Di kamar, kami berdua mengobrol.

Di, mau belikan apa buat Liani?”, tanyaku pada Ardi.

Dengan bersemangat, Ardi bilang, “Kita beliin bola kasti aja, Kak. Tapi bola yang bagus. Besok kan sabtu, kita beli dulu ke pasar”.

Yaudah, tapi kita patungan ya. Tabungan kakak kan kamu pakai beli topi kemarin. Sekarang belum banyak”, jawabku ke Ardi.

Lalu Ardi membalas, “Hehe. Oke kalau gitu, Kak. Nanti liat dulu ya tabunganku ada berapa”.

Keesokan harinya, selepas solat subuh, kami mengumpulkan uang tabungan kami dan menghitungnya. Setelah dijumlah, kami punya uang sebesar 47.000.

Di, kalau cuma segini sih gak cukup buat beli bola”, kataku setelah menghitung uang yang ada.

Kalau kita minta ke ayah dan ibu aja gimana, Kak?”.

Jangan, Di. Ayah dan Ibu juga kan ada keperluan lain”.

Yaudah, Kak. Kita ke pasar aja dulu. Siapa tahu dapat yang harganya segitu”.

Akhirnya, setelah kami sepakat, kami bersiap-siap dan bergegas menuju ke pasar. Kami berlari menuju pintu keluar.

Ibu yang sedang di dapur kemudian bertanya, “Eh, pada mau ke mana? Sarapan dulu!”.

Aku hanya menjawab, “Mau ke pasar. Sebentar aja kok, Bu. Hehe”.

Kami lalu segera berangkat menuruni gedung.

Di pasar, kami mencari ke mana-mana. Pasar itu besar, tapi kami harus cari sampai ketemu.

Kami bertanya ke suatu toko, “Pak, jual bola kasti?”.

Penjual toko itu menjawab, “Ada, Dek”.

Harganya berapa, Pak?”.

60.000 aja, Dek”.

Karena kami tidak punya uang sebanyak itu, kami beralih ke toko lain. Ternyata tidak ada yang menjual bola kasti seharga 47.000. Para penjual di pasar bilang rata-rata harganya di atas 50.000. Setelah 2 jam berkeliling. Aku dan adikku kemudian berhenti di salah satu teras toko. Adikku yang kelelahan karena belum sarapan itu kemudian menangis.

Huwaaa. Bolanya gak ada, Kaaak… Kita gak bisa kasih hadiah buat Liani. Huwaaaa…”, dia bicara sambil berurai air mata.

Aku juga bingung. Dengan uang segitu, mana bisa beli bola kasti, apalagi bola kasti yang bagus.

Aku bilang ke adikku, “Udah jangan nangis. Cari lagi aja yuk. Masih ada toko lain kayaknya di sebelah sana”, aku menunjuk ke salah satu sudut pasar.

Sambil dibasahi air mata, adikku mengusap pipinya yang merah itu. Kami kemudian berjalan lagi mencari bola kasti untuk diberikan pada Liani sebagai hadiah ulang tahunnya. Setelah mencari cukup lama, kami menemukan sebuah toko alat olahraga. Ketika kami sedang melihat-lihat bola-bola di etalase, seorang bapak-bapak mendekati kami.

Mau beli apa, Dek?”, tanya bapak itu.

Karena sudah lelah, aku ceritakan saja semuanya pada bapak itu, “Pak, kami mau kasih hadiah bola kasti untuk teman kami. Katanya besok dia ulang tahun. Tapi tabungan kami cuma ada 47.000, Pak. Dari tadi kami cari-cari di pasar, gak ada yang menjual bola kasti di bawah 50.000, Pak”.

Mendengar ceritaku, bapak tadi kemudian bertanya, “Anak yang baik. Nama kamu siapa?”.

Saya Amran, Pak. Ini adik saya, Ardi. Dia tadi nangis karena gak nemu bola yang murah”.

Sepertinya bapak tadi cukup kasihan melihat kami. Bapak itu kemudian bertanya lagi, “Temen kamu namanya siapa?”.

Temen kami namanya Liani, Pak”, jawabku.

Bapak itu sedikit terkejut, “Wah, perempuan to? Masa anak perempuan main bola kasti?”.

Dia gak punya temen, Pak. Cuma kami temennya. Kami suka main lempar-tangkap bareng. Makanya kami mau belikan bola untuk jadi hadiah ulang tahunnya”.

Bapak itu kemudian tersenyum mendengar ceritaku.

Ia kemudian berkata lagi, “Kalian baik banget ya. Kalau gitu sini bapak belikan bola untuk kalian ya. Nih, lihat. Mau bola yang mana?

Mendengar ucapan itu, seketika Ardi langsung tersenyum. Mata merahnya itu kemudian menjadi berseri karena senang sekali ada orang yang mau membantu. Aku kemudian menunjukkan bola yang ingin kubeli. Harganya 95.000. Akan tetapi bapak itu tidak menghiraukannya. Ia membelikan bola itu untuk kami, dan bahkan memberi kami uang tambahan.

Sambil tersenyum, bapak itu berkata, “Ini buat beli kertas kado sama ongkos pulang ya, Dek. Salam buat orang tua kalian”.

Kami berdua mengucapkan terima kasih kepada bapak tadi dan mencium tangannya. Dengan hati yang gembira, kami berdua segera pulang ke rumah. Ketika masuk rumah, ibu segera menyuruh kami makan. Kami segera makan dan menceritakan apa yang terjadi kepada ibu dan ayah kami.

Padahal kalian bilang aja. Kalau untuk beli bola, ibu ada uang kok”, ujar ibuku.

Kami gak mau merepotkan ibu dan ayah”, jawabku.

Ayahku kemudian berujar, “Kalian sudah jadi anak baik. Kalau begitu, besok kita ke rumah Liani bareng-bareng ya”.

Di malam harinya, kami membungkus kado dan menulis ucapan selamat ulang tahun untuk Liani. Kami tidur dalam keadaan sangat gembira malam itu.

Tibalah hari minggu, hari ulang tahun Liani. Seperti biasa, kami sarapan pagi terlebih dahulu. Kami bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Liani.

“Amran, kadonya udah dibawa?”, tanya ayah padaku.

Udah, Yah. Dipegang Ardi”.

Kami kemudian berangkat ke Gedung B pada pukul 9 pagi.

Ketika sampai di lantai 16, kami mencari-cari alamat rumah Liani.

Nomor 51a, Yah”, kataku pada ayah.

Kami mencari bersama-sama.

Nomor 48, nomor 49, nomor 50, nomor 51, nah ini dia 51a”, ucap ayahku.

Ayah mengentuk pintu sebanyak tiga kali. Tok, tok, tok. Secara perlahan, pintu itu kemudian terbuka. Dari balik pintu, ada seorang nenek yang menyapa kami.

Ada yang bisa dibantu?”, tanya nenek itu.

Selamat pagi, Nek. Benar ini rumahnya Liani?”, kata ayah.

Benar, Pak. Ini dengan Ayah Amran dan Ardi ya?”, ternyata nenek itu sudah tahu kedatangan kami.

Benar, Nek. Kami datang ke ulang tahun Liani”, ujar ayah.

Adikku yang tidak sabar kemudian bertanya, “Lianinya di mana, Nek? Boleh masuk?”.

Nenek tadi kemudian mempersilakan kami masuk, “Tunggu dulu ya di sini”.

Kami dipersilakan duduk di ruang tamunya dan disuguhkan teh hangat. Nenek tadi kemudian duduk di kursi.

Amran sama Ardi, terima kasih ya sudah mau main sama Liani. Setiap kali kalian main, Nenek ada di rumah dan memperhatikan. Liani kelihatan senang dan bahagia ketika bermain dengan kalian”.

Nenek itu kemudian melanjutkan ceritanya, “Setiap hari, Liani gak bisa ke mana-mana. Liani menderita Leukimia dan bisu sejak lahir, Pak, Bu. Keadaannya lemah sekali sejak umurnya 5 tahun. Ia tidak bisa keluar rumah dan bermain seperti anak-anak lain. Makanya ketika ada teman yang mau bermain dengannya, ia sangat senang. Ia punya buku catatan harian. Setiap malam, Liani menulis tentang Amran dan Ardi. Ketika Amran dan Ardi tidak datang karena tugas sekolah atau yang lain, ia hanya bisa duduk di depan balkon sambil berpura-pura melempar kertas sendirian. Ia bilang ingin mengundang Amran dan Ardi ke ulang tahunnya”.

Aku tidak terkejut bahwa Liani punya penyakit itu. Memang tampaknya sangat pucat setiap kali kami bermain. Mendengar cerita itu, ibuku penasaran dan bertanya pada nenek itu,

Kalau boleh tahu, sekarang Liani sedang di mana, Nek?”.

Ehem”, nenek itu sedikit terbatuk. “Jadi gini, Bu. Hari jumat kemarin setelah bermain bersama anak-anak, kondisi Liani ternyata melemah. Saya bawa dia ke rumah sakit untuk dirawat di sana”.

Entah mengapa mata nenek itu sedikit bersinar. Sepertinya ia menangis.

Setelah saya bawa ke rumah sakit, kondisi Liani terus menunjukkan penurunan. Kemarin pagi, saat di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa kondisinya kritis. Saya hanya bisa pasrah. Dokter sudah berusaha keras selaa beberapa jam. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya… Liani tidak tertolong. Sore kemarin, Liani meninggal”.

Sang nenek tidak bisa menahan air matanya. Ibuku hanya bisa memegang mulut sambil mengusap-usap rambut Ardi.

Jadi Liani ada di mana, Bu?”, tanya Adikku yang masih kecil itu.

Ibu hanya membaliknya dan memeluknya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan anak polos itu. Ibu cuma bilang, “Liani gak ada, Dek”, sambil sedikit-sedikit mengusap-usap matanya.

Nenek itu kemudian melanjutkan ucapannya, “Sebelum meninggal, Liani sempat menulis di bukunya. Katanya, ia ingin berterima kasih pada Amran dan Ardi. Terima kasih ya sudah mau bermain dengan cucu nenek”.

Sampai saat ini, nenek itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia terisak-isak sambil memegang wajahnya yang sudah renta itu. Aku melihat ayah dengan badannya yang tetap tegak. Pandangannya tertunduk ke bawah. Jari-jarinya saling bersilangan.

Ia kemudian mengucapkan sesuatu, “Nek, semoga Liani tenang di kuburnya ya. Kami sekeluarga mengucapkan bela sungkawa. Semoga Allah menjaganya selalu”.

Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia itu sekarang menjadi hari yang sedih. Adikku hanya bertanya-tanya ke ibu tentang Liani. Sementara Ibu hanya bisa memeluknya karena tidak bisa menjawab. Ayah kemudian menyatakan rasa empatinya dan memberikan uang untuk membantu sang nenek. Kami kemudian hanya bisa memeluk sang nenek dan bergegas pulang. Entah mengapa aku tidak menangis. Tapi ada bagian kecil dari hatiku yang terasa sakit.

Aku sendiri masih tidak percaya bahwa Liani sudah tidak ada. Ia seumuran denganku, tapi aku dalam kondisi sehat, sementara ia sudah meninggal. Rasanya aneh anak-anak harus meninggal. Bukannya yang meninggal itu orang tua?

Sepertinya aku telah kehilangan sesorang yang sudah seperti keluarga. Mungkin, Liani memang sudah menjadi keluarga kami. Tapi sekarang satu keluarga kami sudah berpulang.

Kami tidak berhenti bermain semenjak hari itu. Bahkan, kami menggunakan bola hadiah itu untuk bermain. Kami pikir itu bisa mengingatkan kami berdua kepadanya.

Kado untuk Liani sepertinya tidak bisa kami berikan sekarang. Tapi di kehidupan yang nanti, aku akan menemuinya dan memberikan kado ini langsung kepadanya.

Selamat ulang tahun, Liani.

Penacava

Gagasan adalah ruh amal besar. Menjadi seorang orkestrator perubahan membutuhkan gagasan yang besar dan mendasar. Barangkali, secarik gagasan ini dapat membuat kita berpikir lagi, “Hendak kemana kita memandu perubahan di masa yang akan datang?”. Mari bersama membangun gagasan.

Bagus Poetra

Written by

Penacava

Penacava

Gagasan adalah ruh amal besar. Menjadi seorang orkestrator perubahan membutuhkan gagasan yang besar dan mendasar. Barangkali, secarik gagasan ini dapat membuat kita berpikir lagi, “Hendak kemana kita memandu perubahan di masa yang akan datang?”. Mari bersama membangun gagasan.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade