Ketika yang Mereka Punya Hanya Harapan

Only in the darkness can you see the stars.” –Martin Luther King Jr.

Pelabuhan Ba’a, Rote Ndao (Foto: Yvonne Sibuea)

Kalau keluar dari sini nanti, saya akan berkeliling menjajakan panci presto,” ungkap Kintan lantang ketika masing-masing penghuni panti diminta berbagi apa yang akan dilakukan begitu diperbolehkan meninggalkan panti.

Kintan mendekatiku begitu sesi yang kubawakan selesai.

Mbak….boleh saya minta alamat rumah mbak? Saya minta dibantu untuk memasarkan panci.”

Kintan bergegas mencari secarik kertas ketika aku memintanya, di atas carikan kertas itu aku menuliskan nama dan nomor ponselku. Sebaliknya, aku juga meminta Kintan menuliskan nama dan alamatnya.

Ini alamat kakak saya, saya sendiri tidak punya rumah,” Kintan menerangkan. Aku menahan haru yang merebak. Dalam sesi yang baru saja aku bawakan, Kintan bercerita, ia sudah tinggal di panti rehabilitasi narkoba ini selama 6 tahun. Beberapa rekan Kintan yang lain menyebutkan angka yang berbeda-beda, dari 8 bulan hingga 9 tahun.

Jujur aku terkejut. Panjang sekali program pemulihan di panti rehabilitasi ini. Pantas saja mereka sudah lama sekali tidak berhubungan dengan dunia luar. Tidak punya ponsel selama bertahun-tahun. Sementara sesi yang kubawakan sedikit banyak menyinggung tentang media sosial. Rupanya kali ini, informasi latar belakang penghuni panti yang kuterima kurang akurat. Untung saja aku dapat membelokkan sesi yang kurang pas tadi menjadi bincang-bincang bertema motivasi diri, serta menggali rencana masing-masing penghuni panti bila mereka telah menyelesaikan program nanti.

Lebih dari setengah peserta sesi berusia di atas 40 tahun, aku memperkirakan berdasarkan penampakan fisik belaka. Bahkan ada penghuni panti yang berusia mendekati 60 tahun. Lagi-lagi berdasarkan kira-kira. Bayangkan saja di tahun 1979, ia sudah menuliskan beberapa puisi bertema ‘narkoba’, kisah hidupnya sebagai pengguna heroin. Aku sempat membaca selintas, majalah terbitan sebuah organisasi religius yang kertasnya telah menguning. Artinya 37 tahun yang lalu, ia sudah menggunakan narkoba. Dan sampai hari ini, ia masih menghuni panti narkoba.

Aku bertanya-tanya dalam hati, tidakkah mereka punya keluarga? Apa keluarga mereka tidak kehilangan mereka? Demikian lama mereka terisolir menghuni panti.

Aku tidak tega bertanya langsung. Nanti saja, pikirku.

Di mobil dalam perjalanan pulang, Arief, kolegaku yang kini bekerja di lembaga pemerintah pengampu program ketergantungan narkoba, bercerita lebih banyak tentang latar belakang panti, serta para penghuninya. Ternyata panti tersebut juga menampung pasien psikosis, dan mayoritas mereka sudah tidak diterima lagi di keluarga masing-masing. Ada pasien yang mengalami psikosis karena penggunaan narkoba menahun, ada pula individu yang karena mengalami psikosis maka perlu mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka panjang.

Kintan sendiri, adalah pengguna ekstasi sejak belasan tahun lalu. Kuperkirakan, usianya mendekati 50 tahun. Bisa jadi ia nampak lebih tua dari usia sebenarnya, atau memang ia sudah menggunakan ekstasi sejak pertama kali substansi itu masuk ke Indonesia.

Aku jadi banyak melamun setelah bertanya-tanya. Menyaksikan mereka mengungkap harap dengan wajah berseri-seri sesungguhnya menggiriskan hati. Setidaknya aku senang mereka mau mengungkapkannya. Aku beruntung menyaksikan mereka yang bertahun-tahun terisolasi dan berjuang mengatasi masalah kesehatan mental, masih punya semangat yang memercik-mercik dengah hangat.

Kalian luar biasa!

The piece was originally published at:

Semarang, 30 September 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.