Pada Akhirnya

Saat aku umur 2 tahun, Ibu pernah membacakan buku cerita bergambar tentang “Kelinci dan Kura-kura”.

Tentang Kelinci yang berlari begitu cepat di awal pertandingan namun di akhir merasa sombong terhadap Kura-kura yang tertinggal jauh di belakang. Tentang Kelinci yang akhirnya memutuskan untuk bersantai di bawah pohon rindang hingga tertidur. Pada akhirnya, meski lambat dan tertatih, Kura-kura berhasil melampaui Kelinci dan mencapai garis finish terlebih dahulu.

Lalu aku ingat bagaimana ketika itu sempat termenung melihat gambar Kura-kura yang berhasil mencapai garis finish. Kura-kura di cerita memiliki ilustrasi lemah dan … tampak renta. Jauh berbeda dengan kelinci yang tampak kuat dan energik. Tapi toh pada akhirnya, Kura-kura berhasil menyelesaikan dan memenangkan pertandingan. Tidak seperti Kelinci yang terbawa rasa nyaman hingga jumawa dan lupa diri.

Kemudian aku pikir hal-hal sederhana seperti itu sering kali terlupakan. Tentang bagaimana menyelesaikan suatu hal semaksimal mungkin dan tetap konsisten hingga akhir. Tentang bagaimana mencapai akhir yang sesuai kerap butuh proses yang menunjang. Tentang amalan yang dinilai berdasarkan akhir perlu melalui berbagai jenjang. Suka tidak suka.

Sebab pada akhirnya, manusia terus berjalan menuju tujuan hakiki.

Perkaranya adalah bagaimana meninggal dalam kondisi baik, tidak sia-sia.

Semoga kita terus konsisten.