Berawal dari Singapura dan Malaysia, Munculah Kegelisahan untuk Indonesia

Nama : Davin Azhari Hadicahyono

NIM : 19916221

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa akhirnya saya ditakdirkan untuk masuk Planologi. Sejak kecil saya dibina untuk bisa menggambar yang tadinya hanya sebatas keinginan orang tua untuk mengisi waktu luang seusai pulang sekolah. Namun entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sampai suatu ketika saya menemukan Majalah “Asri” milik ibu saya dan saya melihat gambar-gambarnya.

Sejak dulu, cita-cita yang saya jawab ketika ditanya adalah ‘Menjadi Dokter’. Ketika ditanya apa alasan ingin menjadi dokter, saya menjawab “Ingin menolong banyak orang.”. Tapi entah mengapa tak ada satupun hobi saya yang sejalan dengan cita-cita saya. Bahkan di sekolahpun saya tidak pernah mendaftar sebagai dokter cilik ataupun sekadar anggota UKS.

Singkat cerita, saya pindah ke Kalimantan karena ayah harus bekerja disana sebagai engineer Pembangkit Listrik Tenaga Uap di salah satu perusahaan Batu Bara. Sayapun disekolahkan di sekolah milik perusahaan. Kami juga tinggal di perumahan perusahaan yang suasananya sangat persis dengan Australia. Hmm… saya sangat menikmatinya dan saya berandai-andai “seandainya semua kota di Indonesia suasananya bisa senyaman ini”.

Kembali ke Bandung, melalui Jakarta, saya melihat betapa macetnya Jakarta ini. Saya hanya melihat Metro mini dan Kopaja lah tansportasi andalan warga Jakarta. Awalnya saya pikir itu hal yang lumrah di Kota besar di seluruh dunia, mengingat sejak kecil saya tinggal di Bandung dan hanya angkot yang saya sering liat (dan beberapa Damri yang ketika tancap gas asapnya menghilangkan seisi kota).

Suatu ketika saya berkesempatan Liburan ke Singapura. setibanya disana, wawasan saya seketika terbuka begitu luas. saya sadari betapa mudahnya naik bus dan MRT di Singapura, bahkan saya yang ketika itu masih berumur 13 tahun sempat nyeletuk “ke Singapura sendiri juga bisa kalau ginimah, tinggal naik MRT.”. Lalu terlintaslah ide “kayanya kalo di Jakarta ada MRT asik juga yah”.

Tiga tahun berlalu, munculah berita bahwa MRT akan dibangun di Jakarta. Sejak saat itu saya selalu mengikuti perkembangannya di skyscrapercity.com walau hanya sebagai silent reader. Sejak itu, saya jadi senang membuka thread lainnya juga. Mulai dari Jalan Tol Trans Jawa, Trans Suamtera, Trans Kalimantan, Trans Papua, dll.

memasuki masa SMA, saya kembali berkesempatan untuk pergi ke Malaysia. Kembali wawasan saya terbuka, bahwa tak semua kota besar senyaman di Singapura. Kuala Lumpur sama macetnya ketika saya naik taksi menuju Hotel di daerah Bukit Bintang. Namun saya melihat ada rel monorail dan monorailnya yang terisi penuh. “Oh, ternyata ada juga kota yang sepadat Jakarta, tapi lebih tertata”. Tapi yang saya lihat adalah, di Kuala Lumpur, jumlah sepeda motornya hanya sedikit. seperti biasa terlintas pikiran liar “Bisa ga ya di Jakarta atau Bandung motornya se-sedikit ini?”.

Karena kakak ku berkuliah di Malaysia, akhirya saya jadi sering pergi ke Malaysia. Karena kampusnya berada di Melaka, maka suatu ketika saya pergi ke Melaka dan berjalan-jalan. Di sana terdapat kompleks bangunan bersejarah yang disebut Bangunan Merah yang merupakan gereja peninggalan zaman kolonial. Yang saya kagumkan adalah, kawasannya tertata begitu rapi. kembali terlintas pemikiran “Bisa ga ya Jalan Asia Afrika ditata seperti ini?”.

Keesokan harinya, saya diajak pergi ke Putrajaya, kota pemerintahan Negara Malaysia. kembali saya kagum dengan penataan kawasannya. Begitu rapi, dan bersih. Kembali terlintas pikiran yang sedikit menantang “Harusnya Indonesia bisa nih bikin kota pemerintahan kayak gini, jangan nyampur di ibukota”. Sejak itu ambisiku muncul.

Ambisi saya menjadi liar, saya ingin jadi presiden supaya bisa membuat kota pemerintahan sendiri di Luar Jakarta. Saya juga ingin jadi Menteri Pekerjaan Umum supaya bisa membangun Tol sepanjang mungkin. Saya ingin menjadi Menteri perhubungan supaya bisa membatasi penggunaan sepeda motor. dan seketika cita-cita menjadi dokter pun lenyap, terlebih pada saat saya sempat jatuh sakit dan harus diambil darah, saya menjerit kesakitan. memalukan memang untuk seorang yang katanya ingin jadi dokter.

Singkat cerita, pada suatu waktu saya melihat majalah otomotif dan ada rubrik mengenai perjalanan dari Pontianak menuju Brunei Daarussalam melalui Pos Lintas Batas Negara di Entikong. Saya sangat miris melihat foto-foto keadaan di perbatasan yang begitu tertinggal, jalanan berlumpur, dan disandingkan dengan foto ketika mereka sudah memasuki kawasan Malaysia yang jalannya begitu bersih dan mulus. muncul lagi ambisi ingin menjadi menteri Daerah tertinggal atau Bupati di daerah perbatasan supaya bisa membangun perbatasan semaju kota besar lainnya.

sejak itulah saya mengenal Planologi, jurusan yang tidak sekadar menata kota, tapi merencanakan berbagai aspek yang saya temukan sepanjang kehidupan travelling saya. Dengan tekad yang bulat akhirnya saya memilih Planologi ITB walau sempat ditolak dua kali di SNMPTN dan SBMPTN. Dan saya yakin, disinilah jalan menuju cita-cita saya yang baru, Membangun Indonesia sejajar dengan negara negara besar lainnya. Entah itu jadi presiden, menteri, maupun bupati, ataupun hanya sekadar tim perencana, saya yakin ini jalan yang benar untuk mewujudkan mimpi saya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Davin Azhari H’s story.