Mencintai Seutuhnya

Mengapa Ingin Masuk Jurusan Planologi

  • Muhammad Harits Kamaaluddin
  • 19916223

“Kenapa mau masuk planologi bro?” , itulah pertanyaan yang sering orang orang tanyakan kepada saya. Sebenarnya sudah berbagai jenis jawaban yang saya lontarkan, misalnya ingin membangun suatu kota, ingin mengembangkan suatu potensi kota, ingin memajukan pariwisata Indonesia, ingin membantu mengembangkan desa — desa terpencil, ingin memakmurkan rakyat, dan jawaban — jawaban singkat lainnya. Namun terkadang, saya berpikir. Apakah alasan itu bisa dijadikan pedoman ketika saya mejalani kuliah saya? apakah jawaban — jawaban singkat tadi bisa membantu saya termotivasi? Saya rasa tidak. Oleh karena itu memang setelah satu tahun menjalani masa TPB saya kembali mengevaluasi diri saya sendiri, terutama mengapa saya memilih jalur Planogogi kehidupan saya.

Disaat saya masih mencoba mencari — cari alasan, teman saya dari jurusan statistika tiba — tiba mengajak saya menjadi surveyor. Surveyor disini maksudnya ditugaskan oleh pemkot Bandung menjadi penyurvey warga Kota Bandung mengenai impresi masyarakat mengenai perkembangan Kota Bandung selama satu tahun terakhir. Saya ditugaskan untuk memberikan kuesioner dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Warga Kecamatan Sukajadi Bandung (Belakang PVJ). Pertama kalinya saya masuk ke daerah itu, dimana lokasinya sangatlah sempit, suasana yang jauh berbeda dari Bandung yang saya jumpai sebelumnya. Mulailah saya mewawancarai beberapa orang disana. Yang mengejutkannya adalah, dari semua warga yang saya wawancarai, hampir semuanya adalah warga Bandung asli, bukan rantauan. Inilah yang membuat saya sedih, warga lokal, hidup di tengah kota, namun dengan kondisi yang tidak ideal seperti ini.

Namun, ketika saya menanyakan impresi mereka terhadap kinerja Pemkot Bandung mereka sangat puas. Kemudian ketika saya seberapa bangga dan bahagia mereka sebagai warga Kota Bandung, mereka menjawab sangat bahagia dan sangat bangga. Alangkah hebatnya mereka, dengan segala keterbatasan, seakan tidak ada yang peduli kepada mereka, tetap saja mereka percaya kepada ‘Perencana’ Kota Bandung. Seolah mereka yakin bahwa disana, ada seseorang yang peduli terhadap mereka, warga kampung kota.

Dari sana saya berfikir, banyak warga lokal yang tidak dapat menikmati ataupun mendapatkan apa yang sebenarnya mereka miliki, dalam hal ini adalah kota atau daerah mereka sendiri. Banyak masyarakat lokal yang kasarnya ‘terdzolimi’, padahal pembangunan ataupun perkembangan daerah tersebut didapatkan dari jerih payah masyarakat lokal. Oleh karena itu, mungkin alasan saya masuk jurusan Planologi adalah membuat warga lokal, dapat menikmati daerahnya sendiri, dan dapat mencintainya seutuhnya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Harits Kamaaluddin’s story.