Planologi: Melirik Jurusan Sebelah

oleh Risma Cahyani Widyantoro (19916163)

Mungkin teman-teman saya akan bercerita mengenai tujuan mulia mereka untuk mempelajari program studi yang akan saya ceritakan pada tulisan ini. Tentang keresahan yang mereka rasakan, tentang cita-cita besar mereka — ya, saya sudah membaca beberapa tulisan teman saya karena sekadar penasaran. Namun, saya akan berterus terang pada tulisan saya kali ini tentang mengapa dan bagaimana saya memilih untuk menggeluti jurusan kuliah Perencanaan Wilayah dan Kota atau yang populer dengan nama Planologi ini.

Dulu, saat saya masih SMA — persisnya kelas X, saya sudah tahu benar kalau saya ingin berkuliah di Arsitektur ITB. Mengapa arsitektur? Pertama, karena saya mencari jurusan teknik karena kepastian kerjanya terlihat menjamin, tetapi saya juga ingin yang ada sedikit unsur seninya. Berhubung minat saya saat itu adalah mencari subjek pembelajaran yang memiliki kepastian tetapi tetap mengembangkan kreativitas, yang langsung terlintas oleh saya saat itu adalah arsitektur. Mengapa ITB? Yang saya tahu, Arsitektur ITB adalah salah satu sekolah arsitektur terbaik di Indonesia yang tidak mengharuskan mahasiswanya untuk ‘jago’ menggambar untuk dapat masuk jurusan tersebut (ya, saya memang tidak jago menggambar). Selain itu, terlepas karena rumah saya di Cimahi dan SMA di Bandung, saya jatuh cinta pada Kota Bandung dan ingin menghabiskan masa-masa perkuliahan di Bandung. Dengan begitu, SAPPK ITB sudah menjadi pilihan yang mantap bagi saya sebagai tujuan masuk perkuliahan.

Namun nasib berkata lain — saya tidak diterima pada SNMPTN maupun SBMPTN di pilihan apapun. Saat itu saya tahu harapan saya pupus karena yang saya tahu kelas reguler di ITB hanya menerima lewat SNMPTN dan SBMPTN, dan saya tahu saya harus memperjuangkan jurusan di universitas lain melalui ujian saringan masuk yang lain karena orang tua saya ingin saya tetap berkuliah tahun itu. Berhubung saya masih memperjuangkan arsitektur, saya mengambil ujian saringan untuk masuk jurusan arsitektur di UGM, IPB, ITS, dan UNPAR. Dalam proses mengikuti ujian masuk, saya melalui proses usaha belajar semaksimal mungkin disertai pengeluaran biaya yang lumayan besar untuk biaya ujian maupun biaya perjalanan ke tempat ujian.

Dalam prosesnya, saya mendengar ITB ternyata masih membuka pendaftaran pada tahun ajaran tersebut. Setelah saya telusuri informasinya, ternyata yang dibuka adalah PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) untuk ITB kampus Cirebon. Ternyata, program studi yang dibuka adalah peminatan Teknik Industri (FTI), Perencanaan Wilayah dan Kota (SAPPK), dan Kriya (FSRD). Saat itu, mata saya langsung berbinar ketika membaca ada SAPPK pada pilihan prodi, meskipun jurusannya adalah PWK dan bukan arsitektur. Mungkin memang kondisi saya yang sudah se-desperate­ itu untuk berkuliah. Langsung saya saat itu mendaftarkan diri untuk mengikuti PMB ITB Cirebon, dan ternyata pendaftarannya mudah (cukup mengunggah kartu peserta SBMPTN) dan bebas biaya.

Tak disangka, saya diterima di PWK ITB kampus Cirebon. Ini adalah hal yang sangat saya syukuri, berhubung saya ternyata tidak diterima sama sekali di universitas lain melalui jalur mandiri. Saat itu, entah mengapa saya memiliki feeling bahwa mungkin Tuhan tidak menghendaki saya untuk masuk jurusan arsitektur. Namun, saya tetap senang karena meskipun tidak masuk arsitektur, saya tetap bisa masuk SAPPK seperti tujuan awal saya sejak SMA.

Sampai saat ini, bisa masuk Perencanaan Wilayah dan Kota ITB kampus Cirebon adalah hal yang tetap saya syukuri. Meskipun saya peminatan, TPB telah cukup merepresentasikan hal-hal dasar yang ingin saya ketahui tentang proses belajar di SAPPK — baik planologi maupun arsitektur. Hal pasti yang saya ketahui tentang kedua prodi tersebut — dalam menjalaninya tidaklah mudah. Dalam kedua prodi tersebut dibutuhkan kemampuan menata suatu ruang berdasarkan fungsinya dengan melihat berbagai pertimbangan. Hal yang membedakannya ialah arsitektur membutuhkan kemampuan merancang suatu struktur sesuai kebutuhan dan membuat representasi visualnya sesuai teknik yang benar, sedangkan planologi membutuhkan kemampuan memunculkan solusi berdasarkan analisis berbagai aspek untuk mengatasi permasalahan ataupun membangun dalam hal spasial.

Setelah menjalani satu tahun TPB, saya tahu bahwa Tuhan telah bijak menempatkan saya di planologi. Pertama, saya sadar bahwa saya akan tertekan bila diberi tugas yang melibatkan keterampilan merancang baik secara manual maupun digital yang harus dikerjakan dalam batasan waktu tertentu, dalam hal ini adalah arsitektur. Kedua, dalam planologi — meskipun masih dasar — saya merasa pikiran saya menjadi lebih terbuka karena banyak aspek yang perlu ditinjau dan dipelajari dalam planologi. Ketiga, aspek kajian planologi itu sangat luas karena bidang keilmuan yang luas pula, sehingga prospek kerjanya pun luas — katanya.

Meskipun sudah setahun berkuliah, sampai saat ini saya belum memiliki bayangan pasti akan dibawa ke mana keilmuan planologi saya ketika sudah lulus nanti. Mau kerja apa? Di mana? Bidang keahlian apa? Apa motivasi dan cita-cita terbesar untuk berkarya dan berkontribusi pada masyarakat dengan keilmuan planologi nanti? Jawabannya adalah: saya belum tahu. Ya, jujur saja, saya belum tahu. Dan sebagai seorang mahasiswa yang beranjak dewasa, saya tahu saya harus segera bisa menemukan apa jawabannya. Mungkin jawaban paling sederhana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: saya ingin mengimplementasikan ilmu yang telah saya pelajari, setidaknya saya bisa menggerakkan hal yang tidak benar menjadi benar dengan ilmu yang saya miliki. Dalam hal ini adalah planologi — misalkan ada suatu sistem ke-tata-kota-an yang meresahkan masyarakat, saya ingin turut ambil andil dalam mengatasi keresahan tersebut dengan solusi atas dasar-dasar kebijakan yang berlaku, as what a planner must do.

Mungkin cita-cita saya memang belum spesifik, tapi setidaknya saya sudah mantap dengan planologi sebagai bidang studi saya. Harapannya, dalam proses mengikuti perkuliahan untuk 3 tahun ke depan (semoga memang 3 tahun) saya akan menemukan apa yang ingin saya geluti secara spesifik. Semoga Tuhan mendukung saya untuk berkembang dan dapat memberikan manfaat yang nyata kepada sesama. Sekali lagi, saya tidak menyesal telah melirik jurusan sebelah.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Risma Cahyani Widyantoro’s story.