Saya Telat Menginginkan

(Mengerjakan Juga)

Ravinska Minerva Azura / 19916215

Perencanaan merupakan hal yang seharusnya tidak diajarkan, karena pada kenyataannya perencanaan selalu kita temui dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Idealnya, kita — manusia — adalah perencana kehidupan kita sendiri. Berbeda dengan keluarga saya, perencanaan harus lah diajarkan, merencanakan sesuatu sudah seharusnya direncanakan, tapi tak pernah saya pahami konsep dan urgensinya maka tak pernah saya ikuti apa yang mereka ajarkan.

Karena tidak suka dengan keteraturan yang mereka ajarkan, saya selalu hidup dengan impulsif, spontan, dan ikut arus. Sudah tak terhitung jumlah perjalanan saya yang dikonsep beberapa jam sebelumnya, perjalanan ini termasuk naik gunung, pergi ke hutan, dan ke luar kota yang pada dasarnya memiliki banyak risiko. Saya dituntut berpikir cepat dan lebih jauh dengan waktu yang sedikit, maka banyak hal yang terlewat dan pastinya menyebabkan chaos dan melatih saya manjadi deadliner.

Pernah pada suatu ketika di jam 11 malam dompet saya hilang, isinya tanda pengenal, kartu debit, dan beberapa hal penting yang saya butuhkan untuk pergi ke Labuan Bajo esok hari. Di beberapa menit awal pikiran saya kacau, untungnya ada kakak kelas saya (Kevin Wibowo, OS 2013) yang membuat saya berpikir jernih dan masih berpikir pada jalurnya. Itu lah momen titik balik dimana saya merasa merencanakan sesuatu sangat lah penting. Karena terlalu panjang, untuk kelanjutan ceritanya berjalan seperti setiap kisah bahagia, esoknya saya pergi ke Labuan Bajo.

Saya kira itu mengapa saya ingin masuk planologi dan keinginan ini baru akhir-akhir ini saya temukan, lebih baik telat kan daripada tidak sama sekali. Untuk yang lalu-lalu sebelum masuk ITB, saya hanya asal memilih planologi karena itu satu-satunya jurusan yang ditawarkan oleh ITB Cirebon yang menurut saya feasible.

nb. saya masih belajar untuk menjadi planner yang baik.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ravinska Minerva Azura’s story.