Isu Perencanaan Wilayah dan Kota Berskala Makro

Sudahkah Saatnya Indonesia punya Ibukota yang Baru?

Davin Azhari H — 19916221

Gambar 1 : Jembatan Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah

Isu pemindahan ibukota negara sedang hangat akhir-akhir ini. Menurut berita yang dilansir Kompas.com, Presiden Joko Widodo mengatakan, pemindahan ibukota tengah dikaji oleh lembaga dan kementerian terkait. Menurutnya, perlu kalkulasi yang matang agar pemindahan ibukota ini dapat benar-benar bermanfaat. Sedangkan menurut Bambang Brodjonegoro, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), pemindahan ibukota sudah dapat dimulai 2018 mendatang. Saat ini pemerintah tengah mencari wilayah yang tepat untuk ibukota yang baru.

Jika melihat isu ini, sebenarnya Indonesia bukanlah negara pertama yang melakukan pemindahan ibukota. Salah satu contohnya adalah negara jiran Malaysia. Pada tahun 1995 Tun Dr Mahathir Mohammad, Perdana Menteri Malaysia kala itu mencetuskan pemindahan ibukota dari Kuala Lumpur ke Wilayah Kp. Prang Besar di Selangor bagian selatan yang kemudian dinamai Putrajaya. Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) II Malaysia Ahmad Husni Handzalah, pemindahan ibukota ini didasari karena hal yang sama dengan Jakarta saat ini, yaitu kepadatan lalu-lintas. Namun Malaysia tidak sepenuhnya memindahkan ibukota dari Kuala Lumpur ke Putrajaya, melainkan memindahkan kegiatan Administrasi negara ke Putrajaya dan pusat kegiatan ekonomi tetap berada di Kuala Lumpur. Berbeda dengan Negara Brazil. Mereka benar-benar memindahkan ibukota seluruhnya , baik pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Jauh lagi kebelakang, Indonesia juga pernah beberapa kali pindah ibukota. Pada zaman kolonial, Ibukota Hindia-Belanda pernah berada di Yogyakarta, kemudian pindah ke Batavia dan sempat diwacanakan pindah ke Bandung.

Gambar 2 : Wilayah Persekutuan Putrajaya, Selangor Darul Ehsan, Malaysia

Dari pengalaman beberapa negara diatas, dapat ditarik bahwa pemindahan ibukota terdapat dua jenis. Pertama, memindahkan seluruh kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi dari ibukota lama ke ibukota yang baru. Kedua, memindahkan kegitan pemerintahan ke ibukota yang baru dan kegiatan ekonomi di ibukota yang sudah ada, sehingga memiliki dua ibukota yakni ibukota negara dan ibukota pemerintahan. Nah, kira-kira mana yang paling tepat untuk Indonesia? apakah memindahkan seluruh kegitan ke ibukota yang baru, atau hanya memindahkan kegiatan pemerintahan ke wilayah baru?

Pertama, Jika Indonesia memilih untuk memindahkan seluruh kegiatan ke ibukota yang baru, maka Jakarta akan sepi. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000, mayoritas penduduk jakarta berasal dari suku Jawa (35,16%), suku betawi sendiri, jika diasumsikan semuanya tinggal di Jakarta, hanya 27,65% dari jumlah total penduduk Jakarta. Sisanya adalah pendatang dari suku sunda, minang, tionghoa, dll. Hal ini diperkuat dengan keadaan ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri ketika musim mudik lebaran, Jakarta selalu sepi. Dengan “menghilangnya” penduduk Jakarta, otomatis semua kegiatan ekonomi akan mati, termasuk dengan proses ekspor impor di pelabuhan Tanjung Priuk, terkecuali jika perindustrian masih berlangsung di kawasan Cikarang. Masalah lain yang timbul adalah, masalah sosial yang dialami Jakarta saat ini, juga akan ikut pindah ke ibukota yang baru. Karena pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan pindah ke ibukota yang baru, maka penduduk yang meninggalkan Jakarta akan menduduki ibukota yang baru, sehingga permasalahan di Jakarta yang tadinya ingin dibenahi (seperti kepadatan penduduk dan kemacetan) malah ‘ikut pindah’.

Opsi Kedua, jika Indonesia memilih hanya memindahkan pusat pemerintahan negara ke ibukota yang baru, maka mungkin permasalahan sosial yang selama ini terjadi di Jakarta akan sedikit teruai. Karena pusat ekonomi tetap berada di Jakarta, maka masyarakat yang mengantungkan hidupnya dari sektor perdagangan dan jasa tidak akan ikut pindah ke ibukota yang baru, hanya para pegawai pemerintahan yang akan ikut pindah ke ibukota yang baru. Karena sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai pegawai pemerintahan pindah ke ibukota yang baru, maka kepadatan penduduk akan sedikit terurai, begitu juga dengan kemacetan.

Kedua opsi ini kini tengah dikaji dan dimatangkan oleh Presiden Republik Indonesia bersama dengan Lembaga dan Kementerian terkait. Namun tercuat juga isu soal wilayah yang akan digunakan sebagai ibukota baru. Nama Palangkaraya kembali tersorot ketika presiden melontarkan ide memindahkan ibukota ke luar jawa pada saat masih menjadi gubernur DKI Jakarta. Kota ini juga sempat diangkat menjadi calon ibukota yang baru pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wilayah lain yang ikut tersorot juga adalah Jonggol, Jawa Barat. Kota ini sempat dikonsepkan menjadi pusat pemerintahan baru pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Gambar 3 : Letak Geografis Palangkaraya Terhadap Provinsi yang ada di Indonesia

Terdapat beberapa pertimbangan jika pemerintah memilih Palangkaraya sebagai ibukota yang baru. Palangkaraya memiliki wilayah yang luas serta tidak terdapat lempengan maupun pita vulkanik yang melewati wilayah itu, sehingga bebas gempa. Hal itu disampaikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki kepada redaksi detik.com. Selain itu, secara geografis juga Palangkaraya memiliki posisi yang strategis untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Posisinya berada di tengah-tengah, sehingga memiliki jarak yang hampir sama ke seluuh provinsi di Indonesia. Tidak seperti Jakarta yang hanya dekat dengan provinsi di Sumatera dan Jawa namun jauh dengan Provinsi di Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua, yang membuat adanya julukan “Java-Sentris”. Berbeda dengan Jonggol. Posisi Jonggol hampir berdekatan dengan Jakarta. Mungkin dari sisi pemindahan, akan berlangsung lebih cepat karena masih satu pulau dengan Jakarta, tetapi permasalahan yang selama ini timbul mungkin tidak akan terurai sepenuhnya, mengingat lokasi Jonggol berada di antara Bogor dan Cibubur yang selama ini menjadi kota penyangga Jakarta.

Gambar 4 : Tugu Selamat datang di Kecamatan Jonggol, Jawa Barat

Jadi, apakah sudah saatnya Indonesia memiliki ibukota yang baru? mengingat kondisi lalu-lintas Jakarta kini sudah semakin parah yang berimbas pada produktivitas kerja dan perdagangan yang semakin terhambat. Mungkin memindahkan ibukota akan menjadi solusi atas permasalahan ini, namun perlu pegkajian dan pertimbangan yang sangat matang dari pemerintah bersama dengan para ahli dan juga lembaga serta kementerian terkait, agar pemindahan ibukota benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Daftar Pustaka

Ihsanuddin (2017). Akhirnya, Jokowi Angkat Bicara soal Wacana Pemindahan Ibukota. http://nasional.kompas.com/read/2017/07/13/18105891/akhirnya-jokowi-angkat-bicara-soal-wacana-pemindahan-ibu-kota (Diakses pada 17 Juli 2017)

Ihsanuddin (2017). Pemindahan Ibu Kota Muncul dari Pengalaman Jokowi Pimpin Jakarta. http://nasional.kompas.com/read/2017/07/07/08481351/pemindahan.ibu.kota.muncul.dari.pengalaman.jokowi.pimpin.jakarta (Diakses pada 17 Juli 2017)

News, Detik (2013). Ini Kisah Malaysia Memindahkan Pusat Pemerintahan ke Putrajaya. https://finance.detik.com/properti/d-2365733/ini-kisah-malaysia-memindahkan-pusat-pemerintahan-ke-putrajaya (Diakses pada 17 Juli 2017)

Wikipedia (2017). Daerah Khusus Ibukota. https://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta (Dikses pada 17 Juli 2017)

Wikipedia (2017). Putrajaya. https://ms.wikipedia.org/wiki/Putrajaya (Diakses pada 17 Juli 2017)

Wikipedia (2017). Usulan Pemindahan Ibukota Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Usulan_pemindahan_ibu_kota_Indonesia (Diakses pada 17 Juli 2017)

Daftar Gambar

Gambar 1 : Jembatan Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. http://4.bp.blogspot.com/-M1Bdoz1XwkE/Te6iGDkKUOI/AAAAAAAAABg/ZPgme_TOBBE/s1600/IMG_7110_picnik.jpg (Diunduh pada 17 Juli 2017)

Gambar 2 : Wilayah Persekutuan Putrajaya, Selangor Darul Ehsan, Malaysia. http://www.malaysiaheritage.net/new/wp-content/uploads/2015/03/HeliDataranPutra3.jpg (Diunduh pada 17 Juli 2017)

Gambar 3 : Letak Geografis Palangkaraya terhadap Provinsi yang ada di Indonesia. http://assets-a1.kompasiana.com/statics/crawl/552a96d66ea834f7558b4567.jpeg?t=o&v=800 (Diunduh pada 17 Juli 2017)

Gambar 4 : Tugu Selamat Datang di Kecamatan Jonggol, Jawa Barat. http://1.bp.blogspot.com/-esLpy7qjbIc/VOXO-EkaRjI/AAAAAAAAATU/nshQyqna9bI/s1600/a75629fd01702916f7b9365a7a99356637793e03.jpg (Diunduh pada 17 Juli 2017)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.