Catatan dari Seorang Sahabat


Aku tahu bagaimana rasanya sakit

Aku tahu bagaimana rasanya kecewa

Ketika kondisimu tidak sesuai dengan harapanmu

Ketika kondisimu mekasamu untuk bertahan

Ketika kondisimu memaksamu untuk menerima semuanya

Aku tahu bagaimana rasanya tidak ada satu orang pun yang tidak mendukungmu

Bagaimana rasanya ketika orang lain meremehkanmu

Bagaimana rasanya ketika orang lain menganggapmu bukan apa-apa

Bagaimana rasanya ketika tidak ada orang yang dapat mendengar keluh kesahmu

Menangis bukan lah solusinya

Mengurung diri bukan lah solusinya

bukan lah solusinya

Suatu saat kamu akan bertemu dengan orang-orang yang menerimamu apa adanya

Orang-orang yang selalu mendukungmu

Orang-orang yang selalu ada untukmu

Ketika saat itu ada

Kau harus mampu membuka hatimu

Karena seberapa keras mereka berusaha, semua tergantung pada dirimu

Tapi, ada satu catatan yang harus kau ingat

Jangan sampai kau menyia-nyiakan mereka

Karena tidak ada yang namanya kesempatan kedua

Kuharap kau mau membuka hatimu

Menerima kondisimu, menerima ku dan juga orang-orang yang sedang berusaha untukmu

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” — Pramoedya Ananta Toer
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.