Perlakuan Terhadap Warna

Warna adalah persepsi visual manusia yang dikelompokkan dan diberi judul seperti Hijau, Biru, Merah, Jingga, dan lain-lain.

Menggunakan warna dalam sebuah karya merupakan sebuah tantangan besar bagi siapapun. Entah itu pelukis, desainer, dan bahkan fotografer.

Warna juga merupakan sesuatu yang sangat subjektif. Memunculkan warna biru dalam suatu scene pantai di pagi hari dapat membuat suasana menjadi segar. Namun lain lagi jika kita pasang warna biru dalam sebuah kamar yang gelap. Suasana terasa sedih dankelam. Sama-sama biru, namun perilaku warna terhadap mata kita lah yang berbeda.

Sesuatu yang simple seperti perubahan hue atau saturation dapat mengubah perasaan yang ditimbulkan terhadap warna.

Satu warna, beda perasaan

Memperlakukan warna secara benar untuk membangkitkan mood atau atmosfir atau cuma sekedar mengkombinasikannya agar enak dilihat, tentu sangatlah susah.

Karena itu saya akan sedikit berbagi ilmu tentang warna dan bagaimana cara memperlakukannya hehehehehe.

Color Wheel

Bahasa Indonesianya adalah Roda Warna. Karena bentuknya yang seperti roda, dan terdiri dari berbagai warna. Adapun pembagian kategori warna berdasarkan Color Wheel tersebut, kaya gini nih..

Warna Primer
Terdiri dari Merah, Kuning, Biru (Bukan Hijau!). Warna ini adalah 3 pigmen warna yang tidak bisa dibentuk dari campuran warna lain. Dan semua warna lain berasal dari 3 warna ini.

Warna Sekunder
Terdiri dari Hijau, Oranye, Ungu. Warna ini dapat dibentuk dengan mencampurkan warna-warna primer.

Warna Tersier
Terdiri dari banyak warna… Dibentuk dengan mencampurkan warna primer dan sekunder. Maka dari itu namanya jadi kaya gabungan 2 warna, blue-green, red-violet, yellow-orange, dan lain-lain. Sebenernya ada sebutan lain juga kaya Cyan, Magenta, dll, tapi belom bisa saya sebutin semuanya di sini hehehe.


Saturasi dan Value

Nah, mulai dari topik ini kita bisa belajar perlakukan warna dengan maksimal. Banyak orang berpikir komposisi yang bagus adalah perpaduan dari beberapa warna yang harmonis. Padahal tidak semudah itu. Tanpa pemahaman mendasar mengenai apa itu Saturasi dan Value, perpaduan warna tidak akan menjadi harmonis.

Wang Kun — Melody of Red Feathers Garment (Artrenewal.org)

Saturasi adalah kemurnian dari sebuah warna. Contohnya nih, saya menggunakan cat air warna hijau. Semakin banyak saya campurkan air ke dalam cat tersebut, maka saturasinya pun akan berkurang. Semakin berkurang saturasi, semakin mendekati warna putih (dalam konteks cat air berarti bening).

Sedangkan Value adalah terang dan gelapnya suatu warna. Contohnya lagi nih, saya menggunakan cat air warna biru. Semakin banyak saya campur biru tersebut dengan cat warna hitam, maka biru tersebut akan semakin gelap dan tua. Semakin bertambah value, semakin mendekati warna hitam.

Kalo digambarin jadi kaya gini nih..

Oh oke coy gue dah tau, tapi kenapa penting sih?” Naah, justru penggunaan Saturasi dan Value yang tidak benar justru akan merusak keseluruhan dari karya tersebut. Kombinasi warna yang oversaturated membuat perpaduan warnanya tidak kompak. Kesannya agak ‘menekan’ di mata. 
Coba deh liat contoh lukisan di sini..

Jonas De Ro — Stonehold (Deviantart.com)

Seperti yang bisa anda lihat warna biru dan hijau berperan sebagai saturated color di situ, namun tetap berdampingan dengan banyak warna abu-abu sebagai warna tebing yang unsaturated. Kombinasi yang enak dan mantap seperti ini terbukti membuat lukisan ini tetap nyaman dilihat oleh mata.

John Singleton Copley — The Tribute Money (Artrenewal.org)

Saturasi juga dapat digunakan untuk menimbulkan sifat tertentu dari objek pada gambar.

Pada lukisan tersebut, saturasi digunakan untuk menggambarkan bahwa Jesus terlihat lebih kuat dibandingkan orang-orang di sampingnya yang unsaturated.

The Garden of Words (2013)

Saturasi juga digunakan untuk memberi mood pada gambar. Makoto Shinkai dalam filmnya TheGarden of Words menggambarkan suasana sedih dengan scene hujan yang unsaturated. Namun setelah si cewek membalas pernyataan cinta si cowok, langit menjadi cerah, pelangi pun datang.


Color Harmonies

Di sini kita bakal tau, “Kenapa sih Hulk celananya ungu?”

“Kenapa sih Spiderman kostumnya merah ama biru?”

Ternyata ada formulanya masbro!

Ada beberapa warna yang jika dipadukan menimbulkan kesan yang nyaman dan menyenangkan di mata. Sebaliknya, jika warna yang dipadukan tidak harmonis, maka otak kita secara otomatis akan memberikan tolakan berupa perasaan tidak nyaman.

Ada 6 formula Color Harmonies yang paling efektif, langsung saja kita bahas..

1. Monochromatic

Yang ini cukup simple, hanya terdiri atas satu warna dengan variasi saturasi dan value. Karena itu formula ini bagus untuk komposisi single object atau memberikan efek atmospheric.

Contohnya nih..

Jonas De Ro — Han (Deviantart.com)
Jesper Andersen — Ruins (Artstation.com)
Julie Bell — A Friendly Tussle (Artrenewal.org)

2. Analogous

Formula ini menggunakan warna-warna yang berdekatan pada Color Wheel. Kombinasi warna ini sering terlihat di alam, dan dapat menciptakan suasana tenang dan nyaman.

BloodLineV — The Neighborhood Cat (Deviantart.com)
Sir William Russel Flint — Violet Shades (Artrenewal.org)

3. Complementary

Formula warna ini adalah yang paling populer dan sering digunakan. Kombinasinya menggunakan warna yang berseberangan pada Color Wheel. Untuk komposisi yang baik pilihlah salah satu warna sebagai dominannya, dan tambahkan warna-warna netral seperti abu-abu dan coklat.

Jesper Andersen — Brimstone (Artstation.com)
Gute Werbung — Lego Jurassic Park Poster
Moana (2016)

4. Triadic

Kombinasi warna ini cukup sulit dilakukan karena jarak antar warnanya yang jauh satu dengan yang lain. Warnanya yang bersifat kekanak-kanakan saat ini lebih sering digunakan untuk kartun dan animasi.

Superman (DC Comic)
Carl Heinrich Bloch — Casting Out The Money Changers (Artrenewal.org)

5. Split Complementary

Hampir sama dengan formula Complementary, namun di sini kita membagi dua warna di salah satu sisinya. Hal ini biasanya dilakukan untuk menambah palet warna, jika 2 warna saja tidak cukup.

Jesper Andresen — Brothers (Artstation.com)
Carlos Ortega — Elizalde (Artstation.com)

6. Double Complementary

Formula ini sebenarnya sama dengan Complementary, namun hanya dibuat dua kali lipat untuk menambah variasi warna. Kombinasinya dapat bebas diambil dari sisi Color Wheel mana saja, yang penting tetap sepasang-sepasang. Penggunaannya cukup rumit, mencampurkannya dengan jumlah yang sama tentu akan membuat komposisi menjadi kacau. Baiknya digunakan sepasang untuk foreground dan sepasang lainnya untuk background.

Thomas Moran — The Autumnal Woods (Artrenewal.org)
Ponyo (2008)

Warna bukanlah sesuatu yang bisa sembarang kita perlakukan. Alam ini punya aturan untuknya.

Perlakukanlah secara baik agar menghasilkan karya yang baik pula.

Like what you read? Give Gani Amin a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.