Ruang Manusia

Manusia berkembang setiap harinya dengan memunculkan masalah-masalah baru, baik itu masalah individu hingga masalah beresolusi publik. Ketika sebuah masalah sudah mencakup lingkup yang melibatkan banyak orang, butuh pendekatan kolektif untuk menemukan solusinya. Tidak ada perseorangan yang dapat bertanggung jawab atas munculnya permasalahan seperti ini dan kontrol dari permasalahan ini tentunya berada di atas kemampuan satu orang atau beberapa orang.

Keragaman manusia secara langsung dapat menjadi faktor yang mendukung ataupun menghambat penyelesaian masalah-masalah tersebut. Implementasi keilmuan multidisiplin yang merupakan bagian dari keragaman manusia tersebut seyogyanya mampu membantu memecah dan mengidentifikasi permasalahan yang ada, sebelum masuk ke ranah yang lebih luas dan memberikan dampak yang jauh lebih signifikan. Keragaman manusia juga dikembalikan kepada status dan kelebihan manusia yang mampu menentukan pilihan dengan kesadaran, apakah mereka lebih peduli dengan permasalahan individual atau permasalahan publik.

humans of ny (http://www.newcitiessummit2013.org/wp-content/themes/event-manager/images-homepage/ncs2013-homepage-plenary1-main1.jpg)

Apabila kita sedikit menilik mengenai perkembangan wilayah dan khususnya mengenai perencanaan wilayah, mungkin akan lebih banyak muncul pertanyaan semacam apakah kondisi kita lebih baik dari 20 tahun lalu? Apa saja yang sudah pemerintah lakukan untuk memperbaiki kondisi wilayah ini? Padahal mungkin kita perlu lebih dihadapkan dengan pertanyaan seperti apakah kita sudah memahami ilmu kewilayahan itu sendiri, atau mungkin apakah kita sudah menyadari bahwa planologi ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita? Manusia seharusnya menyadari dari sekian banyak makhluk hidup, hanya manusialah yang memiliki kemampuan untuk memberikan kontrol penuh pada ruang yang ada di sekitarnya, dan ini menjadikan ruang yang ada menjadi ruang manusia.

Apa yang menurut saya menjadi masalah sekarang merupakan ketidaktahuan kita akan permasalahan yang ada pada level keruangan, dan ilmu perencanaan seharusnya mampu menjembatani ketidaktahuan akan komplikasi yang terjadi di lingkungan sekitar. Dengan adanya perkembangan teknologi, kita bisa melihat bahwa skala permasalahan keruangan tidak lagi berada pada level yang rendah, tetapi menciptakan berbagai meta baru dalam permasalahan perwilayahan, khususnya di Indonesia. Munculnya gojek, adanya reklamasi, dan berbagai permasalahan yang bentuknya sudah tidak lagi hanya sekedar banjir akibat sampah yang dipupuk oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, ataupun pembangunan masif dan eksesif tanpa mementingkan keasrian dan kenyamanan lingkauan. Yang juga menjadi masalah, tidak ada bias dalam perkembangan teknologi, dalam artian teknologi tidak dapat memihak baik buruknya perkembangan manusia. Reklamasi merupakan bentuk perkembangan teknologi, namun kita belum dapat mengkotakkan apakah hal tersebut positif atau negatif, sebelum kita melihat jangkauan dan dampak dari perkembangan tersebut.

Masih naif bagi saya untuk mengatakan bahwa Indonesia memiliki tata ruang yang buruk, namun mempelajari ilmu planologi menjadi pilihan untuk memperbaiki apa yang sudah kadung menjadi masalah, dan kita butuh gerakan pragmatis yang mampu membantu memberikan perubahan positif pada Indonesia. Planologi lebih dari sekedar observasi, kajian, dan peta tematik. Planologi seharusnya menjadi ilmu yang dapat membantu dan memberikan pelayanan pada publik.

Dan disini saya menawarkan pilihan, untuk berkata bahwa kita sudah terlambat, atau berbenah.