The Production of Space

Jejak langkah perencana ditentukan akan pandangan mereka akan ruang

Ruang adalah atribut yang sering dibicarakan dalam hal merencanakan sebuah wilayah. Hal ini umum terjadi karena tanggung jawab seorang perencana adalah untuk memanfaatkan ruang dengan luas wilayah yang besar yaitu regional, nasional, benua, maupun dunia. Dalam hal disiplin untuk memanfaatkan ruang sebagai tempat tinggal, habitasi, dan lain adalah urusan arsitektur. Dan disiplin yang mempelajari perkotaan dan ruang publik merupakan peran urbanis. Serta ekonom juga memiliki tanggung jawab dalam skala seperti seorang perencana. Hal ini menjelaskan bahwa manusia telah mengkategorikan beberapa praktik-praktik sosial sesuai dengan ketidaksamaan antara disiplin satu sama lain, yang berkaitan dalam perbedaan jenjang yang dibahas. Tetapi hakikat akan ruang itu sendiri, apakah ada penjelasan yang benar dalam definisi akan ruang? Apakah manusia mempunyai tendensi untuk mengkategorikan sesuatu sehingga melupakan apa ruang itu sendiri, dan bagaimana proses penemuan pengetahuan akan ruang?

Secara singkat, sejarah ilmu filosofi menumbuhkan pengetahuan-pengetahuan baru dalam sains, yang sebelumnya dianggap tidak relevan, dan terutama dalam matematika yang bersama-sama berakar dalam metafisika tradisional. Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya.

Dalam sejarah, Rene Descartes menentang pemikir sebelumnya dengan paham Aristotelian. Ia seorang ahli matematika, dianggap sebagai bapak geometri analitis, dan berusaha membuktikan kebenaran-kebenaran filsafat dengan cara seperti membuktikan dalil matematika. Paham sebelumnya yang ada adalah bahwa ruang dan waktu berada dalam kategori yang dapat membantu untuk memberi nama dan klasifikasi terhadap bukti-bukti yang dapat ditangkap oleh indra. Kategori ini belum memiliki pengertian yang umum sehingga merupakan atribut ilahi dari Tuhan. Sehingga dengan paham ini, manusia mengkategorikan segala sesuatu sesuai dengan tingkat kompleksitas mereka, seperti makhluk hidup atau benda mati, binatang atau tanaman, manusia, dan lainnya. Karena Descartes adalah orang yang kritis dan memiliki hasrat yang kuat untuk mendapatkan wawasan tentang hakikat manusia dan alam raya, ia mempertanyakan segala sesuatu. Ia mempertanyakan apakah ruang memang merupakan atribut ilahi atau aturan yang ada dalam keseluruhan dari dunia? Pertanyaan-pertanyaan ini merubah dari pemikiran filosofis menjadi sains akan ruang. Ia pun menemukan penemuan-penemuan yang menjadi awal perkembangan ilmu spasial yaitu sistem koordinat kartesian, dan tidak aneh kartesian diambil dari namanya.

Kemudian sains tentang ruang dikembangkan, dan muncul teori-teori baru untuk membangun kota dengan bentuk baru, yaitu The Garden City oleh Ebenezer Howard, dimana orang yang kurang bercukupan dapat hidup dekat alam. Walaupun dia tidak merencanakan kota, tujuannya adalah membuat kota-kota yang dapat hidup mandiri, sebuah kota utopis yang terdapat ruang untuk pertanian, sabuk hijau disekitar kota, perumahan, wilayah komersil, dan kawasan budaya. Setelah membentuk beberapa asosiasi perencana, organisasi ini menemukan ide-ide baru dalam merencanakan desain kota. Mereka pun pada akhirnya dikritik atas dasar tak berpengaruh terhadap perencanaan kota dan legislasi yang mengatur perumahan dan finansial perumahan. Dasar dari perencanaan kota bukan berada pada desain jalan, tetapi zonasi dan terutama zonasi gedung bertingkat.

Henri Lefebvre, seorang sosiolog prancis, dalam bukunya “The Production of Space”, memberikan beberapa pandangan penting tentang definisi akan ruang itu sendiri, yang berada pada pemikiran manusia (mental) dan keadaan sebenarnya (real), untuk menemukan kesatuan teori produksi akan ruang. Berlandaskan pemikiran Marxis akan produksi, dia menjelaskan bahwa ruang adalah sebuah moda produksi yang didalamnya terdapat ruang sosial. Ruang sosial dibuat oleh masyarakat sosial dan dalamnya terdapat metode untuk menganalisis sejarah spasial. Dia yang pertama kali memperkenalkan konsep “Hak atas Kota”, yang didasari bahwa urbanisasi secara menyeluruh dalam suatu masyarakat adalah proses yang tak dapat dihindari, sehingga hak atas kota bukanlah bersifat individual melainkan komunal, yang diwujudkan melalui serangkaian transformasi berdasarkan kekuatan kolektif yang dapat ikut membentuk proses urbanisasi.

Dengan itu bertumbuhlah pandangan akan kekuatan kolektif, yang tersebar luas akibat aktivis urban seperti Jane Jacobs. Dalam bukunya “The Death and Life of American Cities”, Jacobs melihat prinsip yang ada dalam perencanaan kota yang keliru dan merusak terhadap kota. Jacobs melihat pembangunan yang berlebihan merusak usaha kecil dan menengah serta interaksi sosial dalam masyarakat sampai bagian terkecil seperti keluarga, dan salah satu faktornya adalah pembangunan jalan raya. Kemudian ia menegaskan bahwa perkembangan dari suatu lingkungan berada pada interaksi di komunitas, sehingga daerah-daerah kumuh bisa menjadi lingkungan yang beradab akibat interaksi sosial didalamnya. Perencana pada saat itu lebih mementingkan faktor kendaraan bermotor, yang akibatnya merupakan penyebab berlebihnya kebutuhan akan komoditas dan kerusakan dalam fungsi kota. Ia melihat kendaraan adalah gejala-gejala permasalahan kota, bukan sumbernya.

Maka pengetahuan akan ruang, yang berbeda-beda pada tiap jamannya, memiliki beberapa kesamaan, yaitu mereka bertumbuh akibat adanya pengalaman dan pertentangan yang ada di masyarakat. Tetapi tujuan dari adanya pertentangan-pertentangan ini adalah untuk menghasilkan satu teori, unified theory yang dapat menjelaskan bagaimana sebuah ruang terbentuk, dan apakah pandangan kita terhadap ruang menentukan perubahan-perubahan yang ada di keadaan nyata.

Dalam pandangan Lefebvre, ruang adalah moda produksi, yang didalam sejarahnya terdapat beberapa aspek yang dapat menjelaskan bagaimana ruang dapat diproduksi, yaitu spatial practices, representations of space, dan representational space. Kekuatan-kekuatan tersebut bukan sekadar menjadi “kompetisi” atas ruang fisik yang sepenuhnya “hampa” atau “kosong” atau bahkan “netral”, melainkan proses tarik-menarik kepentingan antar berbagai macam “kekuatan” yang saling mempengaruhi upaya untuk menghuni “ruang material” (fisik) yang sebenarnya telah “ada”. Sejarah tentang perencanaan wilayah mungkin berada sebagai bagian dari tarik-menarik kepentingan tersebut. Dalam hal ini diskursus tentang apa adanya unified theory atau tidak akan terus berlanjut, tetapi seorang perencana tetap memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan dan mengelola wilayah dan kota agar menciptakan pemahaman-pemahaman baru bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik.

https://indoprogress.com/2016/01/produksi-ruang-dan-revolusi-kaum-urban-menurut-henri-lefebvre/

https://www.citylab.com/design/2012/11/evolution-urban-planning-10-diagrams/3851/