Ada Harapan di Atap Pasar Ciroyom

Karena pendidikan dapat dihadirkan di setiap tempat.

Waktu itu sabtu sore. Aku bersama dua temanku datang ke atap pasar ciroyom. Beritanya di atap ini setiap sabtu sore ada kegiatan belajar-mengajar untuk anak jalanan di Bandung yang diadakan oleh Rumah Belajar Sahaja.

Sebuah harapan baru?

Anak-anak dan pendidikan adalah dua isu yang paling menarik perhatianku. Dan disini di Bandung, perhatianku tertuju pada anak jalanan. Entahlah, mungkin karena pernah melihat sendiri kegiatan eksploitasi anak itu terjadi, atau mungkin karena pernah mendengar sendiri keluh kesah anak jalanan tentang betapa ia merindukan sekolah, atau mungkin juga merasa prihatin karena di lingkungan sekitar perguruan tinggi yang bahkan terkenal baik pun masih ada anak-anak yang sekedar menyicipi sekolah pun tidak.


Pada saat aku baru saja menginjakkan diri di depan anak-anak di atap pasar ciroyom, salah satu anak yang bernama Ebu langsung memelukku. Antara kaget dan terharu, aku buru-buru menyambut kembali dan menyapa anak-anak yang lain. Satu hal dari Ebu yang menarik perhatianku adalah lem aibon yang tidak berhenti ia hirup. Bertanya-tanya mengapa pihak sekolah tidak menghentikannya. Tetapi melihat tingkat adiktif lem bagi Ebu yang sangat tinggi, aku tidak jadi ikut mencoba menghentikan. Lem itu seperti sesuatu yang tidak boleh lepas dari genggamannya.

Saat itu kegiatannya sedang menulis surat untuk teman-teman di Sulawesi. Aku merasa prihatin terhadap Ebu karena ia tidak ikut teman-temannya menulis surat, malahan menghirup lemnya dan uring-uringan. Katanya tadi siang ada anak-anak nakal yang menendang kakinya. Setelah itu aku mendengar bahwa Ebu memang tidak terlalu tertarik dengan belajar serta masih sulit menentukan mimpinya. Saat itu aku hanya berperan sebagai kakak yang mendengarkan cerita, entahlah, untuk menghadapinya aku masih belajar.

bersama Ebu

Setelah itu, aku ikut adik-adik menulis surat untuk teman-teman di Sulawesi. Katanya teman-teman di Sulawesi belum pernah melihat gedung-gedung tinggi seperti di kota-kota di Jawa. Maka dalam suratnya aku buat gambar pop-up gedung-gedung bertingkat dan aku ceritakan tentang kehidupan kota.

Ada Rasyid, sejak kecil bercita-cita menjadi TNI, katanya ingin melindungi Indonesia. Usianya kira-kira delapan sampai sepuluh tahun. Hal yang aku kagum darinya karena ia sudah bermimpi untuk Indonesia sejak masih belia. Apalah aku yang pada usia itu hanya bermimpi untuk diri sendiri.

bersama Rasyid

Ada juga Nadia. Satu-satunya murid perempuan dan berprestasi di Rumbel Sahaja. Nadia banyak bercerita tentang kehidupannya. Tentang nikmat sekolah dan banyak hidup di jalanan, tentang jauhnya rumah tinggalnya dan harus bolak-balik sendirian, juga tentang mimpi-mimpinya di masa depan. Kagum dengan pemikiran anak berusia sepuluh tahun yang sudah peduli tentang isu sekitar serta mimpi-mimpinya yang mulia. Nadia ingin sekali menjadi dokter. Tetapi katanya banyak kendala karena kuliah kedokteran mahal. Diam-diam dalam hati aku berniat membantunya menggapai mimpinya.

Ada Raihan, menurutku ia anak yang sangat cerdas. Imajinasinya tentang mahluk berkepala serigala, bertanduk, memiliki mata merah dan taring tajam serta bertubuh naga menginspirasi teman-teman sekitarnya. Mereka bermain dengan imajinasinya dan membuatku cukup terkagum-kagum dan terhibur karena kreativitas dan imajinasinya yang sangat tinggi. Raihan bisa menirukan dengan persis pengumuman yang ada di stasiun. Bahkan katanya ia pernah masuk ke dalam ruangan Kepala Stasiun dan mengumumkan sesuatu.

Ada adik-adik yang lain, yang maaf, aku lupa namanya. Tapi mimpi-mimpi mereka dan semangat belajar tak kalah hebat. Melihat mereka aku jadi malu karena sering bermalas-malasan untuk mengemban pendidikan, padahal nikmat yang aku dapatkan sangat jauh banyak ketimbang mereka.

calon-calon tentara bangsa

Mendengar anak-anak itu bermimpi membuat aku menjadi berpikir kembali, apa mimpiku dulu? Hidup mudah serta segala kebutuhan terpenuhi terdengar egois melihat ketidakadilan yang dirasakan anak-anak ini. Ternyata masih banyak misi dalam hidup yang belum diselesaikan, bahkan belum disentuh.

Masih ingat jelas ketika dulu bertanya ke seorang anak jalanan,

Cita-citanya jadi apa?
Jadi tukang sampah, Kak.
Loh, kenapa jadi tukang sampah?
Iya, mau jadi kayak bapak. Ngga apa-apa sih kak, asal bisa makan. Lagian ngga mau yang tinggi-tinggi kak, ngga ada duitnya.

Aku kaget, dan ternyata kehidupan benar-benar bisa merenggut mimpi seseorang. Dulu setelah mendengar itu, aku percaya, bahwa pendidikan bisa mengubah mimpi. Dan aku bertekad dalam hati, bahwa aku perlu bermanfaat untuk oranglain, setidaknya dalam hal pendidikan. Khususnya anak-anak yang merasakan ketidakadilan dalam pendidikan.

Pendidikan menurutku adalah jantung pengubah masa depan. Bahwa mengubah masa depan dengan pendidikan seperti rantai yang terus dipilin. Mengembangkan seseorang dengan pendidikan, yang nantinya dapat berpengaruh positif ke sekitarnya, dan cakupan yang lebih luas lagi, dan lebih luas lagi.

Maka itu, berbaur dengan masyarakat mengubah cara pandangku terhadap mimpi masa depan. Tentang makna pendidikan ternyata lebih luas dari itu. Tentang pendidikan berarti harapan untuk masyarakat luas.


Sore itu di atap pasar ciroyom kami menyanyikan lagu Indonesia Raya. Nyanyian yang lebih khidmat daripada nyanyian yang sering aku nyanyikan pada saat upacara di sekolah dulu. Ada harapan di atap pasar ciroyom. Ada harapan di tangan anak-anak ini. Ada calon dokter, tentara, dan yang lainnya untuk generasi penerus bangsa.

Melihat mereka aku tidak lagi melihat anak jalanan dengan tatapan yang sama. Aku melihat bahwa mereka masih punya harapan. Mereka masih bisa mengenyam pendidikan. Entah bagaimana caranya, suatu hari aku harus bisa mengajak lebih banyak anak-anak yang belum pernah menyicipi dunia pendidikan.

Bahwa sebenarnya pendidikan adalah hak semua orang. Dan tidak ada batasan untuk belajar. Masalah ekonomi, sosial, atau bahkan lingkungan bukan alasan bagi seseorang untuk tidak belajar. Karena pendidikan bisa dilakukan dimana saja. Kapan saja. Dan oleh siapa saja.

Maka darisitu, aku mengabadikan momen itu dalam batin, dan kembali ke kampus dengan hati yang tersenyum lebar.


Sore itu, banyak cerita yang kudapat

Tentang harapan-harapan untuk masa depan

Tentang anak-anak yang mengagumkan

Dan tentang makna pendidikan yang lebih luas dari itu.


Bandung, 21 Agustus 2016

Marsha E. Miloen

Hanya sekedar bercerita tentang anak-anak jalanan dan pendidikan. Mungkin sekali-kali kau juga berbaur dengan mereka, atau sesederhana membantu mereka bermimpi. :)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Marsha E. Miloen’s story.