Banyuwangi : The Sunrise of Java

Banyuwangi yang dulu bukanlah yang sekarang

Kawah ijen dan para penambang belerang di siang hari.
Banyuwangi merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten Banyuwangi ini memiliki luas 5.782,50 km2 dan terletak di antara 27° 43’ — 8° 46’ Lintang Selatan dan 113° 53’ — 114° 38’ Bujur Timur. Kabupaten ini terletak di ujung paling timur pulau Jawa, di kawasan Tapal Kuda, dan berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso di barat.

Hampir setiap tahun ku singgah ke daerah ini, setidaknya setahun sekali saat hari raya tiba. Banyuwangi merupakan tanah kelahiran ibuku, sehingga mau tak mau setiap tahun harus kembali ke kampung halaman untuk sekedar bersilaturahmi. Aku dapat melihat dengan jelas perkembangan Banyuwangi tahun demi tahun. Banyuwangi yang katanya dijuluki “Sunrise of Java” memang memiliki potensi yang sangat besar, baik dari bidang pariwisata, kebudayaan, maupun perekonomiannya.

Banyuwangi, sudah dapat dikatakan sebagai salah satu kabupaten yang sangat maju di Indonesia. Perubahan tersebut terlihat jelas dari pola pikir masyarakatnya sendiri. Kini masyarakat Kabupaten Banyuwangi sudah dapat dikatakan maju, lebih tepatnya berubah ke arah yang lebih positif. Pasalnya, Kabupaten Banyuwangi tempo dulu sangat terkenal dengan tempat untuk mencari ilmu spiritual yang bersifat gaib. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Banyuwangi ini merupakan “Kota Santet”. Seram bukan?

Namun seiring berjalannya waktu, citra Banyuwangi di luar daerah yang mungkin terkenal dengan hal-hal gaibnya, kini berubah terkenal dengan pariwisatanya karena keindahan alam yang dimiliki oleh Banyuwangi.

Kemajuan yang dialami Kabupaten Banyuwangi ini terlihat dari kesadaran dari masyarakat akan perkembangan zaman. Hal ini dibuktikan dengan pola pikir masyarakat yang tidak lagi percaya akan hal-hal gaib, sehingga melunturkan citra Banyuwangi yang dulu terkenal sebagai destinasi untuk mencari ilmu spiritual yang bersifat gaib. Selain itu, pembenahan pariwisata yang dilakukan di Banyuwangi serta promosi yang digalakkan oleh Bupati Banyuwangi ke wisatawan lokal maupun mancanegara terbilang sangat sukses. Dapat dilihat dari mulai populernya pariwisata yang ada di Banyuwangi dari sekian banyak daerah wisata favorit di seluruh Indonesia. Banyak sekali tempat wisata populer yang dapat kita temukan di Kabupaten Banyuwangi ini, seperti Kawah Ijen, Pulau Merah, Teluk Hijau, Pantai Plengkung atau G-land, Taman Nasional Baluran, dan masih banyak lagi.

Fenomena api biru atau bluefire yang hanya ada 2 di dunia, di Kawah Ijen dan Islandia.
Pantai Plengkung atau G-Land merupakan spot surfing terbaik di Asia Tenggara.
Taman Nasional Baluran, tempat penangkaran banteng jawa.

Hal ini juga diperkuat dengan hadirnya berbagai hal yang mendukung promosi pariwisata Banyuwangi. Seperti diadakannya event-event tahunan yang menarik perhatian wisatawan untuk datang ke Banyuwangi. Dengan cara tersebut, Banyuwangi dapat memperkenalkan kebudayaannya, contohnya Festival Gebuk Kasur yang merupakan tradisi suku osing. Festival ini sangat menarik perhatian wisatawan karena keunikannya, warga suku osing menjemur kasur di depan rumah dengan bentuk dan warna yang sama lalu memukul-mukul alas tidur dari kapuk dengan penebah yang terbuat dari anyaman rotan. Kemudian, digelarnya acara tahunan kebanggaan masyarakat Banyuwangi seperti BBJF ( Banyuwangi Beach Jazz Festival ) dan Banyuwangi Ijen Summer Jazz baru-baru ini juga mendapat sorotan positif dari masyarakat dan wisatawan yang menghadirinya. Selain itu, pembangunan Marina di Pantai Boom Banyuwangi juga menjadi nilai tambah dari kemajuan Banyuwangi. Pembangunan marina di kawasan Pantai Boom dilakukan oleh BUMN PT Pelindo III melalui anak usahanya yaitu PT Pelindo Properti Indonesia dan Pemkab Banyuwangi. Kabarnya proyek ini akan menghadirkan kapal pesiar yang akan dikoneksikan dengan berbagai destinasi lain di sekitar Banyuwangi, seperti Pantai Tanjung Benoa di Bali dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Dermaga sandar kapal pesiar tersebut akan dibangun di lahan seluas 30 hektar dan direncanakan mampu menampung 150 kapal pesiar atau yacht.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Banyuwangi yang dulu memang bukanlah yang sekarang. Masyarakat Banyuwangi sudah seharusnya patut untuk bangga akan kemajuan yang dialami oleh daerahnya. Bukan lagi daerah yang dikenal sebagai “Kota Santet”.

Salam dari kampung halamanku,

The Sunrise of Java, Banyuwangi, Indonesia.

Amalia Rahayu / 15415015

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.