“Carry On, Simon”

http://www.mykindabook.com/blog/march-2016/book-of-the-month-carry-on-by-rainbow-rowell

Carry On merupakan novel terbaru karya novelis remaja bestseller, Rainbow Rowell. Berbeda dengan karya Rowell sebelumnya yang lebih menceritakan kehidupan remaja, Carry On mengusut tema fantasi dalam novelnya.

Menceritakan tentang seorang penyihir bernama Simon Snow. Simon yang sejak kecil sudah sebatang kara tinggal di panti asuhan di dunia manusia. Ia tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah seorang penyihir sampai suatu ketika The Mage atau penyihir hebat datang berkunjung di usianya yang ke-11 tahun. The Mage menyampaikan bahwa Simon adalah seorang penyihir terpilih, the chosen one, seorang penyihir hebat yang nantinya akan memimpin kaum penyihir dan sekarang waktu bagi Simon untuk pergi ke sekolah Watford untuk memperdalam ilmu sihirnya.

Dari sinilah Simon memulai petualangannya di dunia Mage bersama sahabatnya Penelope Bunce, pacarnya Agatha Wellbelove, dan teman sekamar sekaligus musuh bebuyutannya Baz Grimm-Pitch. Dalam petualangannya Simon berusaha mengalahkan musuh terbesarnya, penyihir paling jahat di dunia Mage, Humdrum.

Cerita Simon Snow mungkin terdengar familiar. Cerita ini mengingatkan kita dengan serial bestseller JK Rowling, Harry Potter. Rainbow Rowell sendiri mengakui bahwa cerita Simon Snow ini terinspirasi dari serial karya Rowling. Pada awalnya Rowell tidak berniat menulis cerita tentang Simon Snow, Simon Snow hanya tokoh fiksi novel yang disukai Cather, tokoh utama dalam novel Rowell sebelumnya yang berjudul Fangirl. Novel Fangirl sendiri Rowell tulis karena terinspirasi dari cerita kehidupan fans-fans serial Harry Potter. Oleh karena itu cerita Simon Snow mirip dengan Harry Potter.

Akan tetapi jika dibaca lebih lanjut, alur novel ini sangat berbeda dan sulit ditebak. Banyak kejutan-kejutan yang tak terduga di dalam novel ini baik dalam segi petualangan maupun dalam segi percintaan. Novel Rowell memang tidak lepas dari percintaan remaja, akan tetapi saya akui cerita cinta di novel ini sangat berbeda dan lebih ‘segar’. Romansa percintaan di novel ini berbeda bahkan mengusut tema yang akhir-akhir ini sering dibahas di media-media sosial, LGBT, atau queer community.

Selain alur cerita yang tidak bisa ditebak, keberagaman karakter di novel ini juga menjadi sisi yang paling saya sukai dari novel ini. Meski berlatarkan ibukota Inggris, London, tidak semua karakter di novel ini berasal dari ras kaukasoid. Penelope Bunce, sahabat dari tokoh utama novel ini, merupakan keturunan India sedangkan Baz Grimm-Pitch keturunan Arab.

Dalam buku ini juga terdapat beberapa pesan feminism yang disampaikan Rowell. Penelope Bunce merupakan tokoh yang paling banyak memberikan pesan feminism dalam buku ini. Ia merupakan sahabat Simon yang sangat pintar, pemberani, dan berpendirian teguh. Ia tidak suka jika seseorang menilai dirinya hanya dari fisik saja.

Salah satu bagian yang saya sukai ketika pertama kali Simon bertemu dengan Penelope. Saat itu Simon kaget dengan nama gadis keturunan India tersebut Penelope. Mendengar hal itu Penelope lantas berkata, “Someone like me can be named anything.” Penelope seakan menyadarkan kita bahwa nama seseorang tidak terkait dengan ras orang tersebut. Masing-masing orang di dunia memiliki hak kebebasan yang sama, tidak terkait ras atau suku, termasuk dalam pemilihian suatu nama.

Secara keseluruhan menurut saya novel ini cukup bagus untuk dibaca. Novel ini dibawa dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Tema fantasi dengan sedikit percikan cerita cinta mungkin tidak menjadikan novel ini dapat dibaca dan disukai seluruh masyarakat dari berbagai usia, akan tetapi bagi remaja pencinta fantasi saya rasa wajib membaca novel ini.