DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN LAYANG TOL BECAKAYU TERHADAP DAERAH KALIMALANG

DKI Jakarta merupakan tempat dimana pusat kegiatan maupun pemerintahan Indonesia terjadi, maka dari itu DKI Jakarta memerlukan wilayah penyangga untuk menunjang segala aktivitasnya. Salah satu daerah yang menjadi penyangganya adalah Kota Bekasi yang merupakan bagian dari megapolitan Jabodetabek yang saat ini berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri. Mobilitas antara Kota Bekasi dan DKI Jakarta, khususnya Kotamadya Jakarta Timur, dapat terbilang tinggi. Hal itulah yang mendasari dibangunnya Jalan Layang Tol Becakayu yang menghubungkan Bekasi, Cawang, dan Kampung Melayu. Jalan layang ini dibangun di atas Sungai Kalimalang yang terletak di Bekasi dan Jakarta Timur. Pembangunan Jalan Layang Tol Becakayu dicanangkan mulai tahun 1996. Akan tetapi, proyek ini dihentikan sebagai imbas dari krisis moneter yang melanda Indonesia, sehingga tiang-tiang yang telah terpancang di sepanjang Sungai Kalimalang terbengkalai.

Semakin berkembangnya mobilitas penduduk dari Kota Bekasi ke Jakarta dan sebaliknya menyebabkan kemacetan di Kalimalang yang merupakan penghubung utama Kota Bekasi dan Jakarta Timur tak dapat dihindari. Untuk mengurai kemacetan, akhirnya proyek pembangunan Jalan Layang Tol Becakayu ini kembali dibuka pada Maret 2015. Kali ini, PT Waskita Karya memimpin pembangunan jalan layang sepanjang 21,04 kilometer ini. Tol akan dibagi menjadi dua seksi, yaitu Seksi I Casablanca-Jakasampurna dan Seksi II Jakasampurna-Duren Jaya Bekasi.

Akan tetapi, proses pembangunan jalan layang di tengah ramainya jalan arteri tidaklah mudah. Berbagai macam persoalan harus dirasakan para pengguna jalan maupun kontraktor demi pembangunan jalan tol yang diharapkan dapat mengurai kemacetan di Kalimalang ini. Saat ini, pembangunan Jalan Layang Tol Becakayu menjadi penyebab kemacetan, dan peningkatan polusi.

http://beritadaerah.co.id/

DAMPAK PEMBANGUNAN TERHADAP KEMACETAN

Kalimalang merupakan suatu jalan utama yang menghubungkan antara Bekasi dan Jakarta Timur, menjadikan jalan tersebut sangat ramai dilewati. Pembangunan Jalan Layang Tol Becakayu di daerah Kalimalang memperparah kemacetan yang ada. Pembangunan yang melibatkan banyak alat berat dan beton-beton besar ini menghalangi arus lalu lintas. Tidak hanya menghalangi lalu lintas, jalanan yang tadinya tidak rusak menjadi berlubang dan tidak rata akibat sering dilewati oleh alat berat tersebut. Banyaknya pengguna jalan yang berusaha menghindari bagian jalan yang rusak antrean yang panjang di Kalimalang.

Bukan hanya itu, kerusakan jalan juga menyebabkan meningkatnya jumlah kecelakaan. Pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor, terkadang tidak melihat berlubangnya jalan pada malam hari sehingga oleng dan terjatuh, atau bahkan menabrak kendaraan lain. Debu yang banyak beterbangan di daerah ini juga terkadang menghalangi penglihatan para pengguna sepeda motor hingga menyebabkan kecelakaan. Kecelakaan pun dapat menyebabkan terhambatnya laju kendaraan yang sedang melewati jalan, sehingga kecelakaan juga merupakan salah satu penyebab kemacetan di Kalimalang.

Jalan Layang Tol Becakayu makin mempersempit Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang dan Jalan K.H. Noer Ali. Menyempitnya jalan menyebabkan perbandingan yang tidak sesuai antara kapasitas jalan dan ramainya volume kendaraan. Pemerintah sudah mulai menindaklanjuti masalah ini dengan melakukan pelebaran jalan. Lahan parkir dari ruko-ruko yang berjejer di sepanjang Kalimalang diambil alih oleh pemerintah untuk dijadikan lahan pelebaran jalan. Proses pelebaran jalan pun menyebabkan kemacetan karena adanya timbunan maupun pengaspalan jalan dengan mesin di beberapa titik. Perombakan jalan yang masih belum rampung sepenuhnya membuat berkurangnya fasilitas untuk pejalan kaki dan pembatas jalan pun masih tidak jelas sehingga warga yang ingin menyebrang kesulitan padahal di jalan ini tidak ada jembatan penyebrangan yang bisa dimanfaatkan.

DAMPAK PEMBANGUNAN TERHADAP PENINGKATAN POLUSI

Masalah selanjutnya yang dihadapi sebagai dampak dari pembangunan Jalan Layang Tol Becakayu adalah meningkatnya tingkat polusi. Makin banyaknya kendaraan yang mengemisikan asap menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, banyak sekali debu material pembangunan yang beterbangan sehingga pengguna sepeda motor dan pejalan kaki harus menggunakan masker atau kacamata untuk menghindar dari debu agar tidak masuk ke mata. Banyak sekali warga yang mengeluhkan tentang bagaimana debu membuat suasana daerah Kalimalang yang tadinya lumayan asri menjadi sangat tidak nyaman karena warga menjadi susah untuk bernapas dengan lega.

Bukan hanya itu, penebangan pohon juga menjadi penyebab meningkatnya polusi. Sebelum dilakukannya pembangunan, cukup banyak pohon-pohon rindang di sepanjang Kalimalang yang membuat suasana tidak terlalu panas. Akan tetapi, pohon-pohon rindang yang cukup besar dan tinggi tersebut dirasa menghambat proses pembangunan jalan layang maupun pelebaran jalan, sehingga pemerintah memutuskan untuk menebang hampir semua pohon di sepanjangKalimalang. Akibatnya, Kalimalang yang dulu tidak terlalu panas menjadi sangat gersang. Para warga sekitar berharap jika pembangunan jalan layang telah selesai, pemerintah akan kembali menanam pohon di sepanjang jalan seperti dahulu.

Pembangunan Jalan Layang Tol Becakayu yang melibatkan banyak alat berat ternyata juga menyebabkan polusi suara. Alat-alat berat tersebut seringkali mengeluarkan suara yang keras sehingga mengganggu warga sekitar, baik yang tinggal maupun yang hanya lewat. Penduduk yang tinggal di sekitar Kalimalang banyak yang mengeluhkan tentang suara yang mengganggu istirahat mereka di malam hari, karena memang banyak pekerjaan yang dilakukan di malam hari ketika jalanan mulai sepi. Bukan hanya suara, tak jarang terasa getaran yang mengganggu akibat dari proses penancapan paku bumi ke tanah. Tak hanya malam hari, pembangunan di siang atau sore hari juga mengganggu warga, khususnya para pelajar. Banyaknya sekolah di Komplek Kodam Jatiwaringin maupun Pondok Bambu menyebabkan menjamurnya tempat bimbingan belajar di daerah ini. Tempat bimbingan belajar yang umumnya beroperasi dari siang hingga malam hari merasa terganggu dengan getaran dan suara bising yang memecah konsentrasi siswa-siswinya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Meifita Kamilia’s story.