Indonesia Negara Maritim !

Pantai Derawan, Kalimantan Timur

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia diciptakan memiliki akal sehingga wajar bila mampu mempertahankan kehidupannya di mana pun mereka berada, entah di darat atau laut lepas sekalipun. Tapi mengapa selama ini kita hanya mengandalkan daratan? Mencari penghasilan di darat, memperketat penjagaan di darat, melakukan pemeliharaan di darat, bahkan konflik-konflik tidak bermutu kalangan elit terjadi di darat.

Pernahkan kita telusur kembali buku-buku IPS jaman SD atau SMP tentang sejarah kerajaan di Indonesia? Siapa yang tidak mengenal kerajaan Sriwijaya? Kerajaan yang berdiri di Sumatera Selatan 13 abad yang lalu ini merupakan kerajaan termasyhur saat itu. Masa keemasaan Kerajaan Sriwijaya terjadi saat pemerintahan Balaputradewa. Kerajaan Sriwijaya saat itu dikenal sebagai kerajaan maritim karena memiliki angkatan laut yang tangguh dan wilayah perairan yang luas. Wilayah Kerajaan Sriwijaya meliputi hampir seluruh Sumatera, Kalimantan Barat, Jawa Barat, dan Semenanjung Melayu. Akhirnya kerajaan Sriwijaya disebut sebagai Kerajaan Nusantara pertama karena wilayahnya yang sangat luas. Sama halnya dengan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit juga mencapai kejayaannya dengan lautan, bukan daratan. Namun sayang semenjak runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke 16 kita seolah melupakan semua kejayaan itu. Peradaban gencar dibangun di daratan. Entah karena sudah bosan dengan lautan atau berpikir bahwa daratan lebih menjanjikan ketimbang lautan.

Padahal sebenarnya kita sedang berdiri diatas gugusan pulau-pulau diantara perairan yang sangat luas. Indonesia turut disebut sebagai archipelagic state yang berarti “negara laut utama” atau laut yang ditaburi pulau-pulau. Bayangkan, luas lautan Indonesia mencapai 3,2 juta meter persegi dengan 17.000 pulau yang memiliki total luas 1,9 juta meter persegi. Dengan panjang garis pantai 95.000 kilometer, Indonesia tercatat sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

Hal ini jelas membuktikan bahwa negeri kita sangat kaya, dan sangat disayangkan kita membiarkan kekayaan itu dirampas oleh orang lain.

Jika Anda cermat, sektor maritim Indonesia dapat menyumbang Rp 3.000 triliun per tahun bagi negara walaupun saat ini yang terealisasi masih sekitar Rp 290 triliun. (Sharif Sutardjo, 2014)

Fantastis bukan?

Paradigma-paradigma tidak karuan yang berkembang di masyarakat saat ini lah yang menghambat semua itu. “Ngapain jadi nelayan? Gajinya berapa? Gak tentu!” “Sekarang jaman sudah modern, pembangunan besar-besaran terjadi di daratan, bukan lautan!” “Laut hanya akan memisahkan pulau-pulau, menyulitkan distribusi logistik!” Mungkin itulah beberapa paradigma yang sekarang kerap kita temui di masyarakat. Di mata masyarakat kita, bekerja di laut hanya bisa menjadi nelayan atau nahkoda kapal. Bekerja di laut juga sangat tidak pasti, hanya mengandalkan alam. Bekerja di laut penuh resiko, tidak ada yang menjamin keselamatan kita saat bekerja di laut. Padahal tanpa kita sadari, orang-orang yang tumbuh dan berkembang dari laut adalah orang-orang yang sangat tangguh, pantang menyerah, dan yang paling penting adalah mereka memiliki keberanian yang besar. Dalam bidang pengajaran, Radhar Dahana (2011) mengatakan bahwa sistem pendidikan masyarakat maritim berbeda dengan sistem darat yang kental dengan jarak struktural binarik seperti guru-murid. Kesetaraan dan hubungan timbal balik yang berimbang adalah proses yang berlangsung dalam pengajaran yang lahir dari adab bahari.

Sudah sangat jelas disini bahwa pembangunan tidak hanya terjadi di darat, tetapi juga di laut. Laut adalah pemersatu, bukan pemisah. Laut lah harta kita yang wajib dilindungi bersama. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita menyamakan standar pembangunan di laut dengan daratan entah dalam bidang infrastruktur ataupun sektor pariwisata. Indonesia adalah milik kita, termasuk lautan luas yang ada di dalamnya. Disinilah peran para sarjana Planologi. Bagaimana caranya agar pembangunan bisa seimbang antara laut dengan darat? Negara ini jelas butuh seorang planner yang mampu mewujudkan Indonesia sebagai suatu negara kesatuan yang utuh.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated elistyahest’s story.