Kederisasi

Pagi ini masih tercium harumnya semangat mahasiswa baru. Tak terasa INTEGRASI ITB 2016 telah berlalu dan seluruh susah payah panitia semenjak tiga bulan lalu telah dicurahkan. Aku telah belajar banyak dari proses yang kulalui. Terlepas dari semua itu, sering kali massa kampus bertanya untuk apa kita para panitia mau menjalani semua ini. Apakah untuk menjunjung tinggi salah satu budaya kampus kita yaitu kaderisasi? Apakah sebenarnya arti dari kaderisasi itu sendiri? Inisiasi maupun orientasi, benarkah itu adalah hal yang berbeda? Atau hanya sebuah persepsi? Sungguh pertanyaan-pertanyaan itu hampir membuat aku mengakui bahwa hanya sebuah kefanaan yang telah kulalui. Tetapi aku meyakini bahwa setiap proses yang kujalani akan membuahkan hasil jika kita sendiri yang proaktif mencari pembelajaran dalam keberjalanan proses tersebut.

Jika kutarik kembali perjalanan hidupku, aku telah diperkenalkan tentang kaderisasi sejak lama. MOPD, MOS, OSPEK, Latihan Dasar Kepemiminan MPK OSIS, dan lain-lain. Berbagai metode digunakan untuk mewujudkan manusia yang lebih baik dalam proses kaderisasi. Tak jarang juga terjadi salah metode maupun penyalahgunaan metode. Biasanya hal ini diakibatkan hanya dilakukan pengulangan metode setiap tahunnya tanpa ada penyesuaian kembali karena metode tersebut telah dianggap berhasil. Tetapi pada kenyataanya, generasi manusia terus berkembang dengan berbagai kebutuhan yang berbeda. Teknologi pun sudah jauh berkembang. Jika kita tengok sedikit ke negeri sebelah seperti Singapura, yang aku dengar mengenai OSPEK ketika masuk universitas sangat berbeda dengan yang aku lihat di negeri ini. Aku merasa kita telah ketinggalan jauh dalam metode di banding negara tetangga dimana ketika banyak negeri yang telah memakai metode modern dan kita masih saja berkutat dengan metode kuno.

Kaderisasi mempunyai tujuan mulia. Jangan sampai kesempatan ini hanya menjadi ajang balas dendam. Sering kali kita merasa bahwa mereka yang dikader harus merasakan apa yang kita rasakan dulu supaya bisa terbentuk seperti kita. Saya kurang setuju dengan mindset seperti ini. Menurut saya setiap memulai kaderisasi harus selalu dilakukan kajian ulang mengenai kelayakan metode untuk bisa dipakai lagi dan disesuaikan dengan angkatan yang akan dikader. Panitia kaderisasi memang harus merancang metode paling baik tapi ada yang lebih penting dari itu yaitu metode yang sesuai.

Kaderisasi diharapkan mampu membentuk pribadi atau tim yang unggul karena diciptakan oleh suatu kondisi. Kampus ITB memiliki banyak sekali proses kaderisasi yang bahkan dirancang di dalam Rancangan Umum Kaderisasi. Menurut saya kaderisasi di ITB seringkali tidak sesuai kebutuhan massa yang dikader. Pentingnya komunikasi dua arah antara peserta dan panitia bisa dijadikan salah satu solusi untuk menghindari kesalahan metode. Karena sering kali di lapangan, panitia memutuskan sepihak mengenai tugas dan akhirnya massa yang di kader menjalankannya dengan terpaksa tanpa tau urgensi dan esensinya. Seringkali juga panitia hanya secara formalitas menanyakan pendapat sebagaimana seharusnya metode kaderisasi padahal ia telah menentukan jawaban atas pertanyaannya terlebih dahulu. Kaderisasi bukanlah kederisasi. Mari sama-sama kita maknai dengan penuh urgensi dan esensi. Kritisi apa yang ada, sertai dengan solusi untuk mencapai Indonesia Jaya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.