Kenali Si Bunglon Sosial : Manusia tanpa identitas

Self-monitoring adalah salah satu ciri kepribadian yang menunjukkan bagaimana seseorang mengontrol image dirinya di muka publik terhadap berbagai situasi sosial. Teori ini diperkenalkan oleh Mark Snyder pada tahun 1974. Mereka yang memiliki self-monitoring yang tinggi lah yang merupakan Bunglon Sosial disekitar kita.

Si Bunglon Sosial mengenali dirinya sebagai seorang yang fleksibel dan adaptif. Karena Ia dapat dengan mudah berbaur dalam berbagai situasi sosial. Ia tau benar bagaimana membaca isyarat non-verbal dari orang yang sedang ia hadapi sehingga tau persis bagaimana berperilaku ataupun berbicara pada orang tersebut. Kemampuan yang dimiliki Si Bunglon Sosial ini membuatnya tampil sebagai seorang yang ramah dan disenangi banyak orang. Bahkan tak sedikit yang mengidam-idamkan menjadi sosok seorang Bunglon Sosial karena dapat masuk ke lingkaran sosial manapun.

Bunglon Sosial menggunakan kemampuannya yang mumpuni dalam membaca orang lain untuk memilih perilaku yang akan ia tampilkan sesuai dengan orang yang sedang ia hadapi inginkan, agar dapat diterima oleh orang tersebut. Maka tak heran kesan pertama yang ia buat sangat impresif. Ia akan mencoba memindai seseorang guna mencari isyarat apa yang dikehendaki lawan bicaranya sebelum ia memberi respons, bukan sekedar mengatakan apa yang ia rasakan dengan tulus. Opini dan perilaku yang ia tampilkan bisa jadi sangat berbeda dari satu orang ke orang lainnya tergantung dengan siapa ia bergaul.

Keberadaannya yang dapat diterima di lingkaran manapun dan keaktifannya dalam mengemukakan pendapat di muka umum membuat Bunglon Sosial seolah-olah muncul sebagai pemimpin yang terpercaya di mata teman-temannya. Ia selalu tampil sebagai orang yang proaktif dalam menawarkan solusi, bantuan maupun saran. Ia terlihat sebagai orang yang yang berkarisma dan berkomitmen. Padahal sebenarnya, bunglon sosial sangat kesulitan dalam memertahankan hubungan dan berkomitmen dalam bekerja.

Hidup dalam ketidaksesuaian antara citra publik dan realitas pribadi menjadikan seorang bunglon sosial krisis akan identitas diri nya sendiri. Helena Deutsch, seorang psikoanalis, menyebut bunglon sosial sebagai ‘pribadi semu’, karena kepribadiannya yang berubah-ubah dengan kefasihannya yang menakjubkan begitu ia menangkap isyarat-isyarat dari orang-orang sekitar. Akibatnya, bunglon sosial menjadi sangat rentan dengan masalah-masalah eksternal dan sangat menghawatirkan tanggapan orang lain terhadap dirinya.