Merindukan Merah Putih

Usia yang bertambah padamu membuatku merindukan kamu yang dulu, bukan karena kamu terlalu tua tetapi ada sebuah perasaan rindu, tidak cukup hanya itu kini kan terlukis kenangan akan wajah mudamu agar rinduku sedikit terobati.

17 Agustus 2016 tepat si Tanah Air tercinta bertambah usia menjadi 71 tahun, meskipun hari itu sudah berlalu tetapi banyak kenangan bahkan sejak Bangsa ini memperoleh pengakuan terbebas dari belenggu penjajah. Masih teringat pelajaran sejarah sejak sekolah dasar, banyak peristiwa panjang yang dialami Indonesia sampai saat bom atom menyentuh Nagasaki dan Herosima. Beberapa waktu setelahnya tersiar kabar bahwa Jepang menyerah pada Sekutu. Momen ini dimanfaatkan Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan yang sudah sejak lama dinanti. Ternyata tidak semudah yang dapat dibayangkan karena Indonesia masih harus melalui peristiwa yang sampai saat ini masuk dalam catatan sejarah. Salah satunya peristiwa Rengasdengklok oleh kaum muda, semangat muda demi bangsa tercinta hingga akhirnya teks proklamasi dapat dikumandangkan dan bendera merah putih dikibarkan. Apa yang terjadi? Bangsa ini memancarkan sukacita yang tak terukur.

sumber : Google image

Apakah senyum itu masih menggambarkan hal yang sama? Aku si anak bangsa ini tidak yakin akan hal itu. Masih teringat jelas ketika aku duduk dibangku Sekolah Dasar, pelajaran sejarah selalu membawaku untuk berimajinasi dan merasakan kejadian yang bahkan aku sendiri tidak akan pernah berada didalamnya. Tetapi entah mengapa cerita itu begitu membuatku ingin melihat apa yang terjadi secara langsung. Terasa aneh tapi bagi anak kecil itu hal yang menyenangkan. Tidak dengan kondisi yang terjadi pada bangsa sekarang ini, siapa yang terus mengingat kejadian dan perjuangan yang lalu? Entalah sekarang seakan semua dianggap biasa saja. Faktanya meskipun kemeriahan 17 Agustus tetap ada tapi senyum yang tidak terukur itu sudah menghilang. Ini kali kedua aku tidak melihat arak — arakan di daerah asalku, aku hendak memberitahu dulunya beberapa hari menjelang 17 Agustus semua rumah warga dihiasi bendera merah putih tetapi seiring bertambahnya usia si merah putih pun semakin berkurang. Walaupun demikian kemeriahan itu tetap memadati mata yang memandang pasalnya lautan manusia menguasai si ibukota kabupaten. Bayangkan ruang untuk berjalan pun begitu sulit. Selain itu kemeriahan diselimuti tangis ketika si empunya barang kehilangan miliknya. Ya, kemeriahan bercampur segalanya, suka dan duka. Tetapi aku menemukan sesuatu yang berbeda disini ditanah Sunda tempatku menetap. Semua warga sedemikian antusias menghias jalanan tempat tinggal mereka dengan botol, CD, dan kaleng bekas dan itu semua menjadi pemandangan yang indah ketika dua warna berpadu.

Pemandangan yang indah pun tidak cukup menjawab apa yang sebenarnya dirasakan oleh manusia yang hidup di Tanah Air ini. Ada banyak tangis yang terlihat maupun yang dikubur dalam hati. Berapa banyak diantara kita yang benar adanya merasakan kemerdekaan? Mengingat masih banyak tangan yang menengadah mengharap rupiah. Tidak hanya itu berapa banyak kejahatan yang terjadi? Bukan hanya kejahatan besar — besaran tetapi kejahatan kecil yang ditutup agar tak ada mata yang memandang. Lalu muncul pertanyaan, ini salah siapa? Siapa pelaku dibalik semua yang terjadi pada bangsa ini? Katanya Negara cinta Tuhan tapi semua menyedihkan dan menyayat perasaan. Jangan salahkan orang lain lihat apa yang terjadi jika semua orang saling menyalahkan. Adalah lebih baik kita anak bangsa ini sadar bahwa jawabannya hanya satu, ini salah kita semua. Kita memulai maka kita mengakhiri. Tetapi apakah kita ingin mengakhiri dengan penderitaan? Tidak, maka peganglah satu hal ketika kita sadar ini bukan permainan, ini kenyataan. Lakukan lah apa yang dapat kita lakukan untuk membangun tanah tercinta, itulah hadiah kita padanya.
Selamat bertambah usia bangsaku, aku merindukanmu yang dulu.

Tri Wulandari
15415021
Planologi ITB 2015

Like what you read? Give Tri Wulandari a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.